RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 37


__ADS_3

Luna melihat kantor sudah mulai sepi, hanya karyawan tertentu saja yang mungkin masih menyelesaikan pekerjaan.


Mereka berdua meninggalkan kantor, di mobil seperti ada rasa canggung dan bahagia serta bunga-bunga bermekaran dalam hati, Arka dengan rasa gengsi dan Luna dengan rasa malu, mereka malah saling diam, karena merasa malu dan tidak tau harus mengawali dengan obrolan, Arka memutar radio sambil melajukan mobil dengan pelan, radio diputar dan terdengan sayup-sayup ada lagu Marry you by Bruno Mars, karena merasa suka, ahirnya Arka mengeraskan volume radio mobil. Mereka mendengar masih dalam diam.


“Kita belanja ya..” Ahirnya ada yang buka suara tapi tanpa ada yang mengkoordinasi, Arka dan Luna berbarengan mengucapkan ajakan mengajak belanja, mereka pun malah tertawa bersama, dan Arka melajukan mobilnya menuju Mall besar milik keluarga HJG.


Ketika sampai di area parkir Mall, masih belum ada mata yang mengawasi Arka dan Luna, tapi setelah mereka berdua masuk ke dalam, satu karyawan membukkan badan tanda seperti menghormati Arka, Luna juga tidak mengerti kala Mall yang sedang dia kunjungi adalah milik suaminya, karena Arka juga tidak bercerita, dan baru kali pertama ini Arka mengajak Luna belanja di mall ini.


Luna dan Arka mulai berkeliling Mall, Luna masih belum curiga dengan keadaan karyawan yang dia lihat sering kali membungkukkan badan seperti menyapa serta menghormati mereka berdua, dan Arka hanya senyum saja, dia juga tidak ngobrol atau pun berhenti sejenak membalas anggukan atau apalah itu, Luna berusaha tetap sibuk belanja, sampai pada saat mereka berdua di tempat buah dan sayur, ada Ibu ibu yang minta foto bersama Luna dan Arka.


Luna mulai merasa janggal ketika memilih buah-buahan, sepertinya ada yang mengekor mereka berdua, hingga embuat Luna merasa tidak nyaman.


“Mas.., tolong mereka yang di belakang Mas Arka minta pergi dong..” Arka menoleh ke belakangnya dan melihat beberapa karyawan sedang mengikuti mereka, mungkin bertujuaningin melayani, karena tadi ketika masuk Mall Arka melihat pimpinan Mall sedang supervisi atau memang terbiasa berkunjung untuk mengawasi perkembangan Mall, mungkin dia menyuruh karyawan agar mengikuti Arka dan Luna jika butuh sesuatu.


“Kalian pergilah, bekerjalah di tempat kalian masing-masing, kami hanya igin santai belanja, tidak perlu dilayani,” ahirnya pekerja yang mengikuti Luna dan Arka pergi satu persatu.


“Kalau mereka pergi Luna lebih nyaman belanja, masak belanja kayak mau nyuri barang saja, sampai pakai di kerumuni karyawan kayak semut makan gula.”


“Sudah, tidak perlu sewot kita lanjut belanja saja.”


Saat memilih buah ada ibu-ibu yang sedang hamil mendekati mereka berdua.


“Hai kalian aku minta foto ya Pak, wanita Bapak cantik sekali, semoga kalau kalian menikah bisa punya anak kembar kayak saya, kata dokter anak saya kembar cewek cowok.”


Arka dan Luna menuruti permintaan Ibu yang sedang hamil itu. Ahirnya setelah selesai foto Ibu itu malah mencubit pipi Arka dan Luna bergantian.


“Kalian cantik dan ganteng.., aku suka!” Wanita itu pergi meninggalkan Luna dan Arka yang tertawa kecil melihat tingkah wanita hamil yang mengemaskan itu.


“Sayang..!”


“Hemm”


“Kata Ibu yang hamil tadi kita di doain punya anak kembar cewek cowok, kamu suka tidak?”

__ADS_1


“Hem..”


“Kenapa hem doang, tidak ada jawaban yang lain,” Arka tetap setia mendorong troli yang mulai penuh dengan barang belanjaan.


“Memang perlu jawaban, ya semua Ibu suka penya anak Mas..,kembar, tunggal, semua suka.”


“O.., kalau begitu nanti malam kita nyicil buat lagi yuk..?”


“Tidak mau! Capek!”


“Ayolah. Biar aku saja yang beraksi, Sayang diam saja tidak apa,” Arka mulai mengeluarkan jurus jahilnya berbicara sambil berbisik di telingan Luna, hingga membuat bulu kuduk Luna merinding.


“Tidak mau. Capek..!” Luna semakin sibuk mamilih sayuran dan sampai pada tempat daging.


Malihat Arka yang terlihat cemberut karena Luna menolak ajakan untuk mencicil bayi, Luna segera mengambil tindakan pergi mengambil daging, lalu mendekati Arka.


“Mau daging apa tidak, katanya kalau makan banyak daging nanti anaknya bisa cewek, tapi kalau makan yang lainnya anaknya cowok.”


Arka masih saja cemberut belum mau merespon rayuan Luna.


“Jangan! Aku mau daging, tapi janji kita nanti malem nyicil buat adek lagi ya?”


“Iy! Tapi jangan diomongin lagi fulgar tau, kalau di dengar orang malu..”


“Iya deh, kalau gitu kita percepat belanjanya ya, biar segera sampai rumah.”


“Iy tapi juga tidak keburu-buru amat Mas..!”


“Iy tapi segera ya.”


“Iy...”


Dasar laki, kalau pingin yang begituan masak tidak bisa tahan sih, sedikit di tolak saja sudah ngambek, apa mungkin semua laki sama ya? Luna berbicara dalam hati.

__ADS_1


Ahirnya Luna menyudahi belanjanya. Arka begitu semangat mendorong troli sambil tersenyum seperti ada sesuatu yang sudah menari di pikirannya. Luna agak ngeri melihat tingkah suaminya itu. Mereka antri di kasir untuk membayar dan ahirnya mereka selesai kemudian pulang.


“Mas, Luna belum belanja stok beras, kita beli beras di Ibu warung di jalan ya.”


“Kenapa tidak belanja di Mall tadi, kan lebih enak.”


“Tidak! Luna pingin berbagi sama pedagang kecil, kasian.., biar ada yang beli dagangan mereka, kalau Mall mah orang yang sudah punya pasti sudah kaya.”


“Kok tau kalau yang punya Mall kaya.”


“Ya mesti tau Mas.., kalau tidak kaya mana mungkin bisa bangun Mall segede tadi.”


“O..,” Arka memanyunkan bibirnya sambil mengelus dada, masih untung istri cantiknya itu tidak ngomel sama yang punya mall.


“Berhentikan mobil di warung depan itu ya, Luna mau beli beras.”


Arka meminggirkan mobil dan memarkirkan di dekat warung tujuan, Luna pun keluar tanpa menunggu Arka yang terbiasa membukakan pintu mobil untuknya. Dia keluar dan langsung membeli beras, kemudian mengakat beras di taruh di mobil. Arka yang melihat istrinya mengangkat beras melongo kaget dan tertegun.


“Sayang kenapa kamu angkat sendiri berasnya, memangnya tidak berat? Kan bisa minta tolong ke aku.”


“Tidak apa Mas.., sudah terbiasa jadi tidak perlu kaget, itu baru 20 kg, kalau di desa kadang satu karung juga aku bawa.”


“Apa! Memang tidak ada lelaki di desamu?”


“Ada tapi kita hidup mandiri Mas, makanya sampai kita merantau di kota J karena minimnya biaya dan penghasilan jadi hidup keras sudah biasa Luna alami.”


“Kasian.., tapi aku salut, kamu luar biasa, aku suka, selain cantik rupanya istriku pejuang tangguh juga.” Arka melajukan mobil sambil mengelus kepala istrinya.


“Kita langsung pulang saja ya, nanti Ibu malah menunggu kita, nanti tidak usah masak dulu, kita beli sate di kedai dekat rumah kita.”


“Hem hem.”


“Ok” Arka mulai melajukan mobil lebih cepat agar segera sampai rumah.

__ADS_1


***


Terimakasih sudah mau menunggu bab selanjutnya ya sayang sayang semua...mua mua mua..., pokoknya kalian yang terbaik, 😘


__ADS_2