
Baru saja Arka mau berpikir dari tiap pertanyaan yang menari di pikirannya, Luna memanggilnya dengan begitu manja, buyar lah semua jawaban yang hampir saja Arka temukan.
“Iya sudah selesai,” Arka buru-buru mengambil wudlu kemudian keluar dari kamar mandi.
“Kenapa lama sekali.”
“Iya.., sabar sayang..”
Setelah Arka selesai bersiap, mereka pun sholat shubuh berjama’ah, setelah dzikir sholat, benar juga, rengekan Luna semakin menjadi pada Arka, hingga Arka tidak bisa menolak segala kemanjaan yang ditumpah ruahkan oleh Luna.
Luna begitu manja dengan memeluk, menyelinapkan wajahnya di dada bidang Arka, menautkan lengannya di leher Arka, dan sesekali bermanja-manja sambil mencium leher Arka, tidak ada penolakan dari Arka, dia malah begitu bersemangat dengan segala kemanjaan istrinya.
“Mas..,”
“Iya..”
“Gendong ke situ,” Luna menunjuk ke tempat tidur king zise yang spesial memang di persiapkan Arka untuk mereka berdua, ketika suatu ketika main-main ke Bromo.
“Iya sini,” Arka menggendong Luna seperti anak koala sambil terus minta kiss pagi pada Arka.
Arka begitu geli dan terkekeh melihat tingkah istrinya.
“Kenapa Mas Arka terkekeh, Luna kesel ah!”
“Jangan begitu.., Mas senang melihat istri kesayangan Mas bermanja seperti ini.”
“Terus Mas tidak suka ya?”
“Bukan tidak suka, Mas malah senang.”
“Tapi kenapa terkekeh.”
“Sudahlah kita lanjut ya?”
Luna menganggukkan kepalanya. Tanpa aba-aba Arka terus beraksi mengeksplor semua titik sensitif Luna, sampai Luna menggelincang dengan aksi Arka.
“Kenapa tubuh sayangku seperti tambah berisi dan sexi.” Arka membisikkan kata itu ke telingan Luna dan Luna semakin mengeluarkan suara yang membuat Arka semakin panas.
30 menit berlalu, dua anak manusia yang bersemangat meraih puncak itu saling merebahkan tubuh akibat kelelahan, dan peluh membesahi tubuh mereka berdua yang masih bersembunyi dalam satu selimut.
“Sayangku..”
“Iya.”
Luna yang berbaring dan berbantalkan lengan Arka memeluk Arka sambil menggambar pulau pulau di dada Arka.
“Bolehkah Mas bertanya.”
“Iya.”
“Sayangku bulan ini sudah datang bulan belum, sepertinya sudah lama belum.”
“Kayaknya belum, malah sudah telat hampir satu minggu, tapi dari gadis sudah begini, jarang teratur.”
__ADS_1
“Apa sayangku tidak merasakan hal yang janggal di tubuh sayangku?”
“Tidak, Luna tidak merasakan apa apa.”
“Ya sudah kalau begitu, kalau sudah segar, kita mandi lagi ya, kita harus sarapan dan ke bawah untuk menjalankan misi hari ini.”
“Memang hari ini ada agenda apa sih Mas, bukannya kita hanya mengantar Ibu ke rumah.”
“Iya, tapi tetap saja kita harus bersiap-siap.”
***
Di tempat hotel Doni menginap, dia sudah bersiap menuju Desa di mana Arka dan rombongannya berada, Doni begitu kesal dan sangat marah karena sudah berhasil di kelabuhi oleh Arka. Doni memakai mobil yang telah di sewa dari travel.
Sekitar 45 menit Doni sampai di Desa tujuan, benar saja, banyak rombongan wisatawan yang mungkin salah satunya adalah rombongan Arka, karena Doni belum melihat tanda-tanda orang Arka berlalu di depannya.
Doni mengambil sarapan pagi sambil menyeruput kopi di temani tembakau mahal yang di linting dengan cukai mahal itu, dia mencoba untuk tenang, karena dadanya sudah dipenuhi kemarahan yang luar biasa.
“Kurang Aj**! Kenapa belum ada juga orang Arka yang lewat, atau jangan-jangan ini Desa yang salah juga.”
Ketika Doni bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba teleponya berdering dengan semangat pagi, Doni melihat yang menelepon adalah Mira, adik sepupunya.
Doni menggeser teleponnya, dan benar saja, di seberang Mira merengek padanya.
“Kak.., Kakak di mana? Mira kesepian, hari libur di rumah terus.”
“Memang kenapa? Aku sedang ada urusan, nanti telepon lagi saja.!”
“Apalagi?”
“Mira tidak mau sarapan kalau Kakak tidak jemput Mira sekarang, pokoknya sekarang!”
“Gimana bisa jemput Kakak sedang di Bromo.”
Bus** kenapa aku membocorkan di mana aku berada. Doni berkata dalam hati.
“Apa! Jadi Kakak ada di Bromo, kenapa tidak ajak Mira, teman Mira si Luna sama suaminya juga lagi di Bromo.”
“Apa kamu bilang, siapa teman kamu tadi?”
“Kenapa memang Kak? Kayaknya kepo banget.”
“Cepat katakan.., siapa teman kamu tadi?”
“Temanku Luna Kak, sama suaminya nama Arka, Arka si Bos muda HJG itu, memang Kakak kenal?”
“O.., kenal sama Arka, kan Kakak pebisnis juga.”
“Oiy, lupa deh,” Mira menjitak keningnya sendiri.
“Kakak ke bromo ada bisnis apa? Kenapa bisnisnya jauh banget?”
“Iya di sini Kakak ada proyek, sama kolega dari luar negeri, dia ke sini sambil sambil berwisata.”
__ADS_1
“O.., tau gitu Mira nyusul Kakak.”
“Iya, Arka dan keluarganya berlibur di Bromo di Desa apa?”
“Kalau tidak salah di Desa Pandansari Kak.”
“Sudah! Kakak ada kerjaan, sudah dulu,” Doni mematikan teleponnya sepihak.
Di rumah Mira, karena hari masih pagi, dia berinisiatif untuk menyusul Doni, dan langsung pamit pada orang tuanya, tidak ada penolakan dari Mama Papa Mira jika Mira sudah memasang jurus rayuan agar di izinkan menyusul Doni.
“Terimakasih Ma Pa, Mira akan langsung pesat tiket.”
“Pesat online saja sayang..” Mama Mira berpesan.
“Iya Ma, beres, Mira liburan dulu, emuuuua Mama Papa.”
Orang tua Mira menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Mira yang masih seperti anak kecil, Mira hanya membawa satu Ransel baju dan bekal-bekal yang mungkin di butuhkan, karena bukan Mira namanya kalau jauh dari aksi nekat.
Sebenarnya Mira sudah ingin sekali ikut rombongan Luna bersama Lia juga, tapi karena tidak enak sama Arka, akhirnya Lia dan Mira mengurungkat niat, tapi setelah Doni Kakak sepupunya juga di Bromo, keinginan untuk berlibur di gunung sudah tidak dapat lagi di tunda.
Tidak perlu waktu lama Mira sudah dapat tiket pesawat yang kebetulan masih banyak, dia begitu bahagia, dan tiga jam 2 jam kemudian Mira juga sudah sampai di bandara terakhir tempat tujuan.
“Pak, bisa antarkan saya ke gunung Bromo Desa Pandansari,” Mira bertanya pada salah satu mobil yang meyediakan jasa taksi online atau sejenis Gojek.
“Bisa mbak, tapi agak mahal,”
“Iya Pak tidak masalah, yang penting saya tolong diantarkan ke Desa Pandansri.
“Baiklah mbak, jarak bandara sampai Bromo kurang lebih 2 jam, jadi agak lama”
“Iya Pak tidak apa-apa,”
Mira masuk ke mobil jasa online itu, hatinya begitu berbunga karena mau ketemu Indah dan Luna sebagai kejutan dari sahabatnya.
***
Sedangkan di tempat Luna, tepatnya Desa Pandansari, jarum jam yang terasa begitu cepat terus berjalan.
Semua acara termasuk peresmian Resto dengan nama Resto A&L, Villa A&L dan klinik A&L sudah berjalan dengan lancar, Luna begitu bahagia dengan semua kejutan yang di berikan oleh Arka.
semua orang turut bergembira dan sorak sorai, setelah peresmian selesai, Arka mengajak Luna dan Bu Imah untuk pulang ke rumah lama Bu Imah, dan ternyata sampai rumah, sanak saudara Luna dan Bu Imah sudah berkumpul jadi satu dan tertawa sambil canda-canda bersama.
“Nak Arka, apa semua ini nak Arka yang mempersiapkan?” Bu Imah kaget dan terharu dengan rumahnya yang semakin bagus tapi tidak meninggalkan kesan rumah lamanya.
“Hem..” Arka hanya menganggukkan kepala.
“Ya Allah nak Arka, dan semua saudara yang berkumpul dengan segala makanan juga nak Arka yang merencanakan.
“Hem hem,” lagi-lagi Arka menjawab dengan anggukan dan sedikit bicara.
Luna dan Bu Imah karena rindu dengan sanak saudara mereka pun bergantian memberi salam, sampai lupa bahwa mereka harus jaga jarak saat ada pandemi yang masih harus mentaati protokol kesehatan.
masih semangat baca ya Readers..., di tunggu like dan Votenya
__ADS_1