RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 17


__ADS_3

Dia hanya bisa pasrah dan berharap semua akan lebih baik dan mendamaikan


Keheningan menyelimuti mereka bertiga, makan nasgor juga sudah selesai, tidak ada pembicaraan yang menyambung kata-kata Arka.


“Nak Arka, sepertinya kalian sudah selesai makan, Ibu pamit ke kamar dulu ya,” Bu Imah memotong keheningan yang tercipta.


“Oh Iy Bu, Arka juga sudah selesai,” namun tanpa mereka sadari, Luna malah menangis dan sesenggukan sendiri, tidak ada yang bisa merasakan apa yang Luna rasakan, tidak ada suara tangisan keras, tapi derai air mata tidak berhenti membasahi pipi Luna. Arka terpaku melihat Luna, dia tidak tau harus berbuat apa? Mau memeluk hawatir Luna tidak nyaman, ahirnya Arka tetap diam melihat Luna yang tetap menangis.


Tanpa pikir panjang, Arka memberi minum pada Luna dan mengelap air mata Luna dengan tisyu, Arka langsung menggendong Luna dan mengarahkan tangan Luna untuk berpegangan pada leher Arka, bak Bridal style Luna pun pasrah dengan tindakan yang dilakukan Arka, Arka menggendong Luna dan mengantarkan Luna ke kamar diikuti Bu Imah yang berlari kecil menyusul Arka di belakangnya.


Arka menidurkan Luna dan menyelimuti Luna dengan selimut tebal yang ada di kamar, sebelum Arka pergi Arka mencium perut Luna sambil berbicara.


“Maafkan Papa sayang, Papa percaya kamu adalah anak Papa, baik-baik sama mama ya.., suatu hari Pasti semua akan berjalan begitu membahagiakan, untuk sementara tidur sama Nenek sama Mama dulu ya, Papa masih ada urusan yang belum diselesaikan.


Eeemmmuuah,” lama Arka mencium perut Luna hingga membuat Luna yang diam pasrah menggeliat karena kegelian.


Arka beranjak pergi meninggalkan Luna dan Ibunya, Bu Imah menatap kepergian menantunya itu dengan perasaan tidak menentu, awalnya Bu Imah benci dengan keluarga besannya itu, dan beranggapan keluarga besannya itu telah menghancurkan masa depan Luna, tapi dengan beberapa kali berkomunikasi dengan Arka juga orang tua Arka, Bu Imah mengerti bahwa Arka dan keluaragnya adalah orang yang baik.


“Nduk.., kenapa kamu menangis, sampai sampai Arka menggendong kamu ke sini kamunya juga masih diam saja, apa yang kamu tangisi?”


“Luna benar-benar sedih dan bingung Bu.., kenapa Luna harus mengalami nasib seperti sekarang, apalagi Luna sudah hamil, padahal Luna belum siap sama sekali, Luna masih ingin mengejar impian Luna, kuliah, bekerja dan membantu Ibu.”

__ADS_1


Bu Imah terdiam tidak bisa menjawab kata-kata Luna, dadanya terasa sesak dan tidak sanggup berbicara lagi, dia juga ingin menangis, tapi Bu Imah menahannya begitu kuat, karena hawatir kalau Bu Imah down maka akan mempengaruhi kesehatan Luna, dan itu akan sama halnya membahayakan janin yang dikandung Luna.


“Sudah nduk.., tidak perlu kamu bersedih hati, begini saja, kalau kamu masuk kuliah lagi, katakan pada temanmu kalau kamu menikah karena suatu hal, dan jika kamu sudah siap mengatakan kalau kamu hamil, maka baru katakan pada teman-temanmu kalau kamu positif hamil, maka insyaAllah teman-temanmu juga akan mengerti.”


“Tapi Bu.., bagaimana pun Luna tetap beban.”


“Iy beban, tapi kamu juga tidak harus bersedih sampai sepanjang waktu.”


Luna terdiam mendengar nasehat Ibunya, dia mulai mengantuk dan menguap.


“Tu.., kamu sudah mengantuk, ayo tidur besok kita bangun pagi agar badan tambah fresh, atau mungkin kamu bisa jalan-jalan untuk lihat sekitar tempat ini.”


Mendengar kata-kata Ibunya, Luna memejamkan mata untuk segera tidur, selimut dipakai Luna untuk menutupi seluruh tubuhnya, dari ujung kaki sampai kepala dengan membelakangi Bu Imah, awalnya Luna sudah mengantuk dan ingin tidur, tapi dia malah ingat saat Arka meniup dahinya ketika mengobati dahinya tadi, dia juga ingat Arka yang menggendongnya seperti anak kecil yang begitu ringan, dan merasa geli saat Arka mencium perutnya, Luna sangat frustasi dan berteriak sambil membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


“Ada apa nduk..! kenapa berteriak. Ini sudah malam.”


“Ibu.., tolong Luna,” Luna memeluk Bu Imah dengan erat.


“Bagaimana nasib kita selanjutnya Bu..? apa yang akan terjadi? Ibu tau kan bertahan hidup di dunia yang keras ini perlu bekerja, tapi aku dan Ibu tidak boleh lagi bekerja, terus kita akan makan apa dalam kehidupan sehari hari sama bayar kuliah Luna, terus cicilan sawah yang di Desa juga belum lunas Bu,” Luna memeluk Bu Imah lebih erat lagi.


Bu Imah menarik nafas dalam-dalam, dia mencoba menetralisir semua kegundahan demi memberi kenyamanan pada Luna agar tidak tertekan melihatnya bersedih. Butiran bening meluncur di pipi Bu Imah yang sudah mulai mengendur, tapi dia segera menghapusnya sebelum Luna tau.

__ADS_1


“Sudah nduk.., tidak perlu sedih, kamu tau sendirikan sepertinya Arka orang yang baik dan bertanggung jawab, sepertinya keluarga Arka juga termasuk orang yang berkecukupan, karena kalau tidak berkecukupan tidak mungkin dia melakukan proses bayi yang seperti kamu alami sekarang, karena proses bayi titip kandungan itu biayanya sangat mahal.”


Luna dan Bu Imah terdiam, mereka berpikir apa Arka termasuk orang mampu atau bagaimana kehidupannya. Luna dan Ibunya memang masih awam dengan keluarga yang akan mengubah hidupnya, Luna yang awalnya adalah itik buruk rupa akan menjadi ratu angsa yang sangat cantik. Luna dan Ibunya belum mengenal Arka sama sekali. Karena sekali pun Arka sangat terkenal dengan HJG nya, Luna dan Ibunya tidak tau sama sekali. Karena ke duanya sama-sama sudah mengantuk anak dan Ibu itu tidur sambil berpelukan.


***


Sementara Bu Imah dan Luna meratapi hidupnya, lain halnya dengan Arka, dia bolak balik di tempat tidur berharap matanya bisa diajak tidur dan istirahat nyenyak, tapi pikirannya di penuhi dengan sosok Luna yang tubuhnya membuat sesuatu yang sudah tertidur terbangun dan tidak bisa diajak kompromi untuk tidur nyenyak kembali, tubuh Arka terasa panas ketika mengingat sosok Luna, Arka mencoba untuk memejamkan mata tapi percuma dan hasilnya sangat nihil.


Ahirnya Arka bangun keluar kamar menuju balkon kamarnya, dia melihat langit yang begitu terang bertabur bintang. Dia berjalan mondar mandir berkacak pinggang dan sesekali mengacak rambutnya yang tidak gatal.


“Aduh Tuhan.., ada apa dengan tubuhku yang panas ini? Tolong aku yang jadi laki-laki normal dan sudah pernah punya istri ini, bagaimana aku bisa menahan ini semua, aku pria dewasa yang juga butuh ituk ituk,” Arka berbicara sendiri demi meluapkan hawa panas yang menyerangnya.


"Tolong aku Tuhan.., biar aku bisa menghadapi hasrat ini, aku akui tubuh Luna begitu membuatku bergairah. Bantu aku untuk mengedalikan rasa ini Tuhan.., karena aku masih ragu pada perasaanku terhadap Luna, apa benar aku ini cinta padanya atau hanya hasrat sesaat, apalagi melihat Luna yang belum tentu mencintaiku."


“Ha..!!!” Arka begitu frustasi dan lagi-lagi dia mengacak rambutnya sambil mondar mandir di balkon kamarnya. dia berpikir apa Luna mencintainya dengan tulus atau kah Luna membencinya atau kah hal lain sedang menunggu proses pernikahannya dengan Luna.


Arka mendongakkan kepalanya sambil melihat bintang. Dan sesuatu muncul di benaknya, Luna sudah sah menjadi istrinya, sekali pun pernikahannya terbilang janggal, tapi luna tetap istrinya yang sah, dan pada suatu saat nanti dia dan Luna akan punya anak dan akan membesarkan anak mereka sampai maut memisahkan. Cinta pasti akan mekar bersama dengan waktu.


Setelah lelah mondar mandir dan ngomong sendiri, Arka masuk kembali ke ruang tidurnya, berharap ke dua matanya akan mudah untuk diajak tidur dan beristirahat.


Dia berharap agar segera bisa tidur, karena besok semua aktivitas harus dijalankan, mereka harus kembali ke pusat kermaian untuk menghadapi kerasnya hidup.

__ADS_1


***


Ingat like, Vote dan komen serta bintang 5 nya ya Readers..terimakasi..


__ADS_2