
Mereka menikmati makanan dan minuman yang telah di pesan. karena jam ke tiga mereka ada jadwal kul kembali.
Mira dengan lahap makan steak ayam, Indah memilih roti maryam, Lia kebab dan Luna memilih kentang goreng.
“Na, sekarang lo enak deh, semua mua sudah kayak Sinderella, tiba-tiba jadi horang tajir, gimana sih Na, ceritain dong gue sangat kepo ini,” di sela-sela makan Mira membuka sesi wawancara.
“Iy iy gue juga mau deh Na, kalau punya suami tajir kayak lo.”
Lia menimpali obrolan Mira
Luna hanya membalas mereka dengan senyuman, belum ada kata yang terlontar dari bibirnya.
“Ayo dong Na, masak kita-kita cuma disenyumin doang, kecut Na,” Mira sekali lagi merayu Luna yang masih senyum sambil makan kentang goreng.
“Tu kan masih senyum, bikik kepo saja,” Lia mulai tidak sabar dengan sikap Luna yang masih tersenyum lembut pada mereka.
“Kalian jangan maksa Luna dong..,” Indah yang selalu dewasa dan lebih pengertian menenangkan Mira dan Lia.
“Tidak apa, aku akan cerita,” Luna mencairkan rasa penasaran yang dialami sahabat-sahabatnya.
Mulai dari dia diajak ke Villa Tiga Langit, lalu menikah dengan Arka yang ternyata ayah dari bayi yang di kandungnya, tinggal di villa selama beberapa hari tanpa adanya uang, dan signal Hp juga tidak ada, terus keluar dari Villa pulang ke rumah baru, kemudian ada insiden yang membuatnya keguguran, sampai pada pemberitaan media, dan pemberitaan media yang santer tersebar hanya bisa di dengar dari cerita suaminya, karena dia sedang dalam pemulihan paska abortus.
Kemudian dia sudah diizinkan kuliah oleh suaminya, jadilah dia sudah bersama sahabatnya itu.
Tidak ada yang menyela cerita Luna, Mira, Lia, Indah menyimak dengan seksama dan antusias, sampai pada selesainya cerita ke tiga sahabatnya baru menarik nafas merasa lega karena tegang mendengar semua yang diceritakan sahabatnya. Di antara mereka Luna lah yang begitu cerdas baik hati dan sangat sabar tapi terkadang juga sangat bawel gemesin.
Kalau Indah memang cenderung lebih dewasa dari pada ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Setelah cerita selesai, mereka baru mengubah posisi duduk akibat terlalu serius mendengar cerita Luna.
“Na..,lo kan sudah jadi istri tuan kaya, lo udah malam pertama belom, aduh Na, giman rasanya, terus lo masih virgin apa udah jadi emak sejati gitu?”
“He! Tanya apaan sih Mir kepo lo keterlaluan tau, kalau didengar orang malu kan..!” Lia menyadarkan Mira yang kepo kebangetan.
Luna dan Indah tertawa berbarengan, merasa sangat lucu melihat tingkah Mira yang sangat antusias, wajahnya yang kocak, polos dan ada sinar kebangetan kepo membuat wajahnya semakin membikin Luna dan Indah tertawa saat Lia juga sadar dengan wajah Mira dia pun ikut tertawa.
“Ah.., apaan sih kalian tidak lucu.” Mira cemberut.
“Tidak tidak, jangan tersinggung sayang. Baiklah aku belum pernah tidur sama mas Arka, sudah puas..”
“Ha! Jadi lo masih virgin Na?” ketiga sahabatnya kompak merespon cerita Luna.
“Apaan sih kalian, sudah-sudah kita masuk kul lagi, nanti keburu telat,” wajah Luna merah tomat mengalihkan pembicaraan merasa terjebak dan malu dengan ketiga temannya. Indah, Mira, Lia yang memahami Luna sedang begitu malu, mereka senyum-senyum, tidak tau apa yang mereka pikirkan.
Mereka meninggalkan kantin sambil bercanda-canda menuju gedung tempat mereka kuliah di jam ke tiga, godaan demi godaan masih mereka lontarkan ke Luna, hingga membuat Luna salah tingkah.
“Apa? kenapa tidak bahas di grup kemarin, kalau tau mau janjian ke Mall pasti aku ikut.”
“Mudah, lo kirim pesan ke suami lo yang ganteng itu saja, pasti diijinin.” Mira memberi ide.
“Tidak bisa, aku selalu dalam pengawasan katanya biar aman.”
“Ha! Berarti lo tidak sebebas kayak kita-kita dulu dong!” Lia memelas.
Luna hanya mengangguk dengan pertanyaan yang dilontarkan Lia padanya, dia memang tidak bisa sebebas dulu, bisa jalan ke sana ke mari tanpa ada behaya yang mengintai, sedangkan setelah dia punya segalanya, geraknya terbatas karena alasan yang terkadang tidak bisa diterima oleh orang orang baik.
__ADS_1
“Kasian deh lo Na, setelah punya segalanya malah waktu yang tidak lo punya seperti kita.” Lia meratapi sahabatnya.
“Tidak apa, semua pasti ada resiko masing-masing, kalau dunia ini tenang tanpa ada hitam putih, Allah pasti akan menciptakan surga saja,” Lagi-lagi Indah jadi penenang diantara mereka.
“Iy juga Indah benar, tidak ada yang sempurna di dunia ini, yang terpenting kita Happy dan selalu bersyukur.” Mira mencoba bersikap bijak tapi tetap saja jadi bulian Lia yang sering resek dan gemes sama tingkah Mira.
Mereka sudah sampai di dalam kosma, tapi Dosen masih belum datang, karena perkuliahan masih kurang 10 menit lagi, dan kabarnya Dosen ini adalah seorang dokter yang bekerja di RS Permata Doa, dia menggantikan Dosen yang lama karena pindah ke luar negeri untuk melanjutkan Studi program Prof atau guru besar ilmu ahli gizi.
Boring menunggu masih kurang 10 menit lagi, ke empat sahabat itu tidak menyiakan kesempatan bikin rame group WA Macasaw, masih di tema wawancara ke Luna, Mira dan Lia aktif bertanya apa saja tentang Luna, sedangkan Indah hanya membalas dengan emotikon, dia lebih menjaga sahabatnya agar selalu kompak tanpa ada yang merasa sedih atau pun galau, secara semua masih pada ngejomblo, kecuali Luna yang barusan jadi seorang istri.
Mereka begitu serius dan saling menggoda di group. Sedangkan pada saat mereka sangat asyik tanpa mereka sadari Dosen yang ditunggu sudah datang. Dosen itu berdehem mengingatkan mahasiswa yang mungkin asyik dengan dunia mereka.
Menyadari Dosen sudah datang, semua fokus dengan Dosen yang sudah bereda di depan mereka. Lia kaget, karena Dosen baru itu adalah Om Zaki sahabat kakaknya dan juga sahabat dari suami Luna. Lia memang memanggil Dokter Zaki dan Arka dengan panggilan Om tidak mau memanggil Mas, karena dari dulu lia beranggapan usia mereka terpaud jauh.
Selain Lia yang kaget, Luna lebih kaget lagi bercampur malu, karena Dokter Zaki lah orang yang sering menangani dia dikala abostus, IUI dan ketemu dia saat menabrak Arka suaminya untuk yang pertama kali. Selain Luna Mira lebih heboh lagi karena laki-laki ganteng menjadi kelemahan Mira, tapi kehebohan Mira diatahan begitu kuat agar tidak ketahuan. Sedangkan Indah tetap tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
“Ok semua, salam kenal dari saya, saya Dosen pengganti Ilmu Gizi, kalian bisa panggil saya dengan sebutan Mas atau Pak silahkan, atau mungkin di sini sudah ada yang kenal, karena saya bertugas juga di salah satu RS, saya juga sering di panggil dengan panggilan Dokter, terserah kalian mau panggil saya dengan panggilan yang mana, yang penting jangan panggil mbak, karena saya laki-laki tulen.”
Satu kosma bersorak karena begitu menahan ekspresi ketika Dokter Zaki memperkenalkan diri, apalagi yang cewek, tapi meraka tetap pada batas saling menghargai dan dan menghormati.
“Anda masih single apa sudah berumah tangga Pak biar tidak ada yang salah taksir?”
Satu mahasiswa mengajukan peratanyaan yang mestinya cewek yang tanya, atau mungkin karena sudah peka dengan geliat teman kosmanya, dia mewakili teman ceweknya yang bisa jadi malu mau menanyakan profil Pak Dosen baru itu.
“E.., baiklah, Nama saya Zaki, masih single, alamat perum kabun raya Manila BG 11. Kalau masih ada yang penasaran dengan bio data saya, disimpan saja dulu, kita akan mulai matkul pada hari. Ok.”
“Ok Pak..,” semua serentak menjawab Dokter Zaki yang memberikan penegasan bahwa perkuliahan akan dimulai.
__ADS_1
***
Emuach..., semoga Readers suka dg BAB ini y, terimakasih sudah setia baca novel Author, salam saaaayang dari Author untuk kalian yg sudah dukung Vote like komen saran dan bintangnya...