RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 58


__ADS_3

Sedangkan Luna yang melihat Mama mertuanya terkekeh tidak berhenti-berhenti, membuat wajah Luna merah jambu.


45 menit sudah berlalu, roti hasil karya Mama Isti dan Luna sudah siap untuk dihidangkan, Mama Isti langsung menaruh di piring dan mengirisnya menjadi bentuk persegi empat tidak terlalu pipih agar mudah untuk di makan.


“Ayo roti kesukaan Papa sama anaknya sudah siap di nikmati, Mas Rama kalau suka mari dimakan juga ya.” Bu Hari menyajikan Roti dan minuman hangat untuk semua yang hadir di situ.


Sedangkan Luna menemani Mama mertuanya yang berjalan menuju ruang keluarga, karena Mama Isti juga pasti tidak akan nyaman bersama Papa Hari, Arka dan Rama yang berkutat membahas pekerjaan mereka.


“Luna sini, duduk di dekat Mama, jangan jauh di situ.”


“Iya Ma,” Luna bergeser dekat Mama mertunya duduk di sofa di depan TV yang berukuran sebesar bioskop.


“Luna minta dibelikan TV seperti ini sama Arka di rumah, biar puas kayak Mama kalau lihat TV.”


“Iya Mama, di rumah menurut Luna sudah besar, sekali pun belum sebesar yang di di sini.”


“O.., eh sini Mama bisikin, Arka orangnya romantiskan..?”


“Iya Mama.” Luna menjawab dengan muka yang memerah.


“Besok kalau kamu sudah hamil, sering baca Al-qur’an ya, biar anak kalian cerdas kayak Arka.”


“Iya Mama.”


“Kenapa iya iya terus sih.., jawab yang lain dong.”


“Iya Mama.”


“Tu kan.., Iya lagi kekekekek.”


“Ya sudah tidak apa, Mama mau lihat film kesukaan Mama, suka India sama Drakor tidak? Mama suka..!”


“Iya Mama.”


“Aduh..! Iya lagi Iya lagi.”


Bu Isti begitu bersemangat melihat film yang di putar di TV yang sebesar bioskop, sesekali dia berdengdang saat film yang di lihatnya dengan emosi bahaggia dan full musik, tapi pada saat sedih, Bu Isti menangis hingga meninggalkan tisu yang menumpuk di samping tempat duduknya.


Di ruang tamu, sudah hampir satu jam lebih Pak Hari, Arka, dan Rama masih berkutat dengan pekerjaan mereka, hingga adzan magrib berkumandang, barulah semua rehat untuk magrib berjama’ah dan makan malam.


“Ayo ayo kita makan malam bersama, setelah makan saja kita lanjutkan lagi.” Pak Hari memberi komando untuk makan malam bersama.


“Iya Pa, Arka kangen sama masakan Bu Iyem.”


“Tu kan.., masak masakan Bu Dariyem yang dikangenin, apa tidak kangen juga dengan masakan Mama.” Bu Isti protes sama Arka.

__ADS_1


“Jelas kangen dong Ma, tapi mana masakan Mama.?”


“Iya sih.., Mama tidak masak, kenapa Mama tadi tidak ikut masak Bu Iyem ya.”


“Ah sudah kapan-kapan saja keburu dingin makanannya.” Pak Hari mengajak semua untuk segera makan.


Semua yang hadir begitu menikmati hidangan yang di masak Bu Dariyem, tidak ada yang meragukan masakan Bu Iyem karena dulu ketika masih muda, keluarga Pak Hari memberi waktu khusus pada Bu Iyem untuk kursus masak, jadi Bu Iyem bisa memasak sekelas Restoran ternama dengan berbagai menu.


Sudah selesai makan malam, dan jempol para penikmat masakan Bu Iyem itu semua berdiri mengagumi masakan Bu Iyem yang memang begitu nikmat.


“Masih ingin istirahat atau langsung lanjut lagi anak-anak?”


“Sebentar Pa, kita istirahat 5 menit lagi.”


Rama hanya mengikuti apa kata Arka, karena dia tidak berkuasa apa-apa, Rama hanya duduk setelah makan malam sambil lihat-lihat Hp. Setelah limamenit berlalu, Pak Hari, Arka dan Rama beraksi lagi, agar pekerjaannya cepat selesai, sedangkan Bu Isti dan Luna, kembali bersantai di ruang TV.


Waktu terus berjalan, dan sudah menunjukkan pukul 9 malam, semua laporan dan pekerjaan yang dilakukan sudah selesai, Arka pamit pulang begitu juga dengan Rama,padahal Bu Isti berharap Arka dan Luna bisa menginap, tapi Pak Hari dan istrinya juga paham kalau esok hari Arka dan Luna akan segera ke Gunung Bromo.


Di perjalanan yang dihiasi rintik hujan, menjadikan malam semakin dingin, Luna yang biasanya lebih membuat suasana hidup tumben selalu diam.


“Sayang, kenapa diam saja.?”


“Iya, tidak seru.”


“Memang kenapa? ada yang telah terjadi ketika bersama Mama tadi..?”


“Terus kenapa..?”


“Pingin es krim...!” Luna berteriak seperti anak kecil sambil mencengkram lengan Arka.


“Aduh sayang, Iya iya kita cari es krim dulu, tapi lepaskan tanganmu, lengan Mas sakit.”


“Iya..,” Luna melepas tangannya yang mencengkram lengan Arka sambil manyun.


“Sayangku kenapa, sabar dulu Mas akan cari Mall atau kedai es krim sekitar sini, itu pun kalau masih buka.”


Tumben saja minta es krim, pakai teriak, terus mintanya malam-malam begini, cari di mana lagi! Arka berbicara dalam hati sambil terus fokus menyetir mobil mewahnya.


Beberapa menit kemudian Arka memasukkan mobilnyak ke halaman kedai es krim yang menjadi lengganan Sisi ketika Arka ajak jalan-jalan, setiap pulang ke Indonesia, hanya pulang yang kemarin saja tidak sempat beli.


“Ayo turun, untung kedai es krimnya masih buka.” Seperti biasa Arka membukakan pintu mobil untuk istrinya.


“Ini benar kedai es krim Mas?”


“Bukan, ini kedai King Crab.”

__ADS_1


“Apa! King Crab? Luna tidak suka king crab ayo pulang saja!”


“Apa! Pulang, ini benar kedai es krim sayang..!” Arka meyakinkan.


“Tumben tidak suka king crab, biasanya juga sayangku sangat rakus kalau makan king crab.”


“Jangan bilang king crab lagi Mas.., Luna nek mendengarnya.”


Tumben juga istriku ini bertingkah aneh, biasanya tidak pernah semanja ini, terus sangat suka king crab, tapi malam ini malah minta es krim di suasana sedingin ini.?


Arka masih berbicara di dalam hati sambil berjalan masuk ke kedai es krim dan mencari tempat duduk.


“Mau pesan es krim yang rasa apa tuan dan nyonya?” Seorang pelayan mendekati Arka dan Luna.


“Aku mau es krim rasa durian, terus yang ini Cookies and Cream, Sama ini Sorbet. Semua harus dicampur jadi satu wadah ya, Eeemmua.” Luna memesan sambil kegirangan lalu mengecup telapak jari jempolnya sendiri.


“Mas Arka mau pesan yang rasa apa?”


“Aku pesan yang rasa moca saja.” Arka masih sambil terperatjad melihat tingkah istrinya, sambil terheran heran.


“Setelah pesanan datang, Luna langsung menikmati es krimnya seperti orang yang beru pertama kali memakan es krim.”


Arka lagi-lagi keheranan melihat tingkah istrinya yang begitu janggal, tidak biasanya istri kesayangannya bersikap seperti ini, biasanya cenderung lembut, sabar dan bisa menahan diri.


Tapi tidak untuk malam ini, Arka memperhatikan istrinya yang sedang makan es krim dengan porsi jumbo, karena memang Luna memesan es krim 3 porsi sekaligus dan di jadikan satu. Cara makan Luna juga membuat Arka Ilfil sampai tidak mampu menghabiskan es krim yang dipesannya.


“Alhamdulillah..., puas sekali, ayo pulang Mas.!” Luna merasa lega sambil mengelus perutnya.


Tidak dengan Arka dia masih Shock dengan tingkah istri kesayangnnya, hingga tidak menyadari kalau Luna sudah beranjak dari kedai dan berjalan menuju mobil.


“Sayangku, aduh! Kenapa dia?” Arka buru-buru membayar es krimnya kemudian menyusul Luna yang sudah lebih dulu menuju mobil.


“Sayangku kenapa? Kenapa langsung pergi tanpa menunggu Mas.”


“Iya Luna sudah pingin selonjoran, terus tidur, pasti hangat kalau tidur di dalam selimut.”


“Baiklah.”


Arka memutar mobilnya kemudian melaju di jalanan yang sudah mulai sepi dengan rintik hujan yang terus berderai membasahi jalanan kota besar itu, saat menyetir Arka yang tidak mendengar suara istrinya sama sekali, penasaran dan melihat istrinya sudah tidur dengan sangat pulas.


Foto ruang TV Bu Hari



Foto es krim Luna

__ADS_1



Ingat Vote dan likenya ya sayang sayang Readers.., eemuua


__ADS_2