
“Eiy sampai Lupa, itu gado-gado dan es krimnya.”
Bu Hari buru-buru beralih dari samping Luna yang belum berani turun dari tempatnya berbaring.
“Ini sayang.., oiy mana meja makannya?”
“Ini Ma,” Arka mengambilkan meja makan kecil khusus untuk pasien, agar lebih nyaman ketika makan.
“Ini sayang.., pelan pelan makannya ya.., Ya Allah.., Mama mau punya cucu, kembar lagi.”
Bu Hari benar-benar antusias sampai lupa pada Arka dan Suaminya yang terpana melihat segala ekspresi dan tingkah lakunya, mungkin karena terlalu senang dan bahagia karena mau mempunyai cucu, Bu Hari melupakan semua yang terjadi, kenapa Luna juga mendadak di bawa ke Rs Permata Doa.
“Ma.., jangan lihat istriku sampai seperti itu, nanti malah tidak nyaman.”
“Apa! Eiy maaf ya sayang.., tidak usah canggung, Mama begini karena Mama sangat bahagia.”
Bu Hari beralih dari tempat duduknya yang tepat di samping Luna, karena dari mulai Luna makan gado-gado sampai Luna makan es krim Bu Hari tidak henti-hentinya memandangi Luna sambil menaruh wajahnya di kedua tangan beliau yang di tautkan dengan kuat hingga mampu menopang wajah Bu Hari begitu lama.
“Sebentar, menantu Mama mau minum ya? sebentar Mama ambilkan minum.”
Lagi-lagi Bu Hari dengan cekatan membuka air mineral dalam botol dan diberikannya pada Luna. Pak Hari dan Arka yang benar-benar di bikin keki sama Bu Hari, sama-sama duduk di sofa ruangan VVIP itu, sambil terus melihat tingkah Bu Hari, yang terkadang Luna sesekali melirik pada Arka dan pada Papa mertuanya.
Benar Bu Hari memang sangat mengidamkan cucu dari dulu, sehingga setelah mendapat kabar kalau Luna sedang mengandung, apalagi bayi kembar, Bu Hari seakan lupa semua hal dan begitu asyik dengan kegembiraannya.
“Ma.”
“Hem..,”
“Ma..”
“Iya.”
Pak Hari mencoba memanggil istrinya, tapi Bu Hari hanya merespon setengah santai saja.
“Ma.., apa Mama mau memandangi menantu kita seperti itu seharian?”
Pak Hari mendekati istrinya yang terlalu sibuk memandangi Luna, Luna yang makan es krim dengan malu-malu terlihat canggung dan kurang nyaman.
“Lihat menantu Mama, Mama merasa kalau Luna merasa canggung dan tidak nyaman ketika makan tidak?”
“Apa! Mama salah berarti ya Pa?” Bu Hari langsung bangkit dari tempat duduknya yang sedari tadi duduk di samping pembaringan Luna.
“Bukan salah.., tapi Mama terlalu antusias sampai lupa kalau menantu kita ingin makan dengan santai tanpa ada rasa canggung.”
“Ya Allah, iya ya, Mama sampai lupa.”
“Maaf ya Pa, Arka dan Luna sayang, Mama terlalu senang, karena Mama mau punya cucu.”
__ADS_1
Arka mendekati orang tuanya yang sedang berdiri di samping Luna.
“Ma, Pa, kami berdua mohon doanya semoga calon bayi kita selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa.”
“Iya sayang.., semoga kita semua juga selalu diberi perlindungan oleh yang Maha Kuasa.”
Bu Hari memeluk putra semata wayangnya sambil menangis tersedu-sedu.
“Kenapa Mama menangis..?”
Tiba-tiba Pak Hari juga memeluk Arka. Orang tua dan anaknya itu berpelukan seperti Teletubbies.
“Ayo kita duduk di sofa.”
Pak Hari mengajak Arka dan istrinya duduk di sofa, tiba-tiba Pak Hari malah memeluk Arka dengan erat.
“Arka.., ihik ihik ihik maafkan Papa dan Mama. Selama ini, karena kita berdua sibuk dengan gemerlap kehormatan dan kesuksesan dunia, sampai melupakan kebahagiaanmu, Papa dan Mama baru tau, kalau pernikahanmu dengan Selena dulu begitu menyedihkan.”
“Pa..”
“Sebentar! Papa dulu,” Pak Hari menyela Arka yang mau berbicara.
“Papa dan Mama baru tau kalau pernikahanmu dengan Selena dulu begitu mengenaskan. Papa tau saat Papa melihat catatan di laptop kantormu serta email dari Alex yang setia memantau Selena.”
“Papa!”
“Maafkan Mama dan Papa ya Ar..” Bu hari tersedu dan tidak bisa lagi membendung bulir bening yang deras mengalir di pipinya yang tidak muda lagi, tapi tetap terlihat cantik.
“Ma Pa, tidak perlu bersedih, semua sudah berlalu dan Arka sudah melupakan semua, karena Tuhan sudah memberi pengganti istri untuk Arka yang begitu luar biasa.”
“Ya Allah sayang.., kamu memang anak Mama yang begitu luar biasa.” Bu hari bertub-tubi mencium kening Arka.
“Sudah Sudah! Lihat menantu kita sendirian di sana.”
Pak hari mencoba mengalihkan suasana agar tidak terlalu bersedih dan merasa bersalah, sedangkan Luna tetap asyik memakan es krim porsi besarnya.
Tidak lama, pintu terbuka dan ada petugas masuk membawa makanan untuk pasien. Karena keluarga HJG tetap mematuhi protokol kesehatan, mereka pun memakai masker kembali.
“Maaf Pak Bu.., ternyata nyonya sudah sarapan ya? Ini makan paginya, kalau belum kenyang boleh dimakan lagi ya..”
“Iya mbak, taruh di situ saja.” Luna menjawab obrolan Petugas yang membawa makanan untuknya.
“Terimakasih, saya permisi dulu ya Pak Bu.” Petugas itu keluar dari ruangan VVIP itu.
“Iya..” Keluarga HJG serentak menjawab petugas itu.
Karena suasana sudah mulai nyaman, keluarga HJG itu mulai membuka obrolan santai dan membahas banyak hal.
__ADS_1
“Arka.., terus kabar si Mi..” Bu Hari yang sudah mulai melenceng dari jalur obrolan di beri kode oleh Arka dengan mengerlingkan sebelah matanya sambil meletakkan jari telunjuk ke bibirnya. Karena Bu Hari menyadari hal itu, akhirnya Bu Hari mengalihakan pembicaraan.
“Arka.. terus kabar Bu Imah bagaimana di sana? Semoga semuanya lancar ya?” Bu hari mengalihkan pertanyaan yang awalnya mau menanyakan kabar Mira sahabat Luna yang tertimpa musibah akibat ulah sepupunya sendiri.
“Iya Ma, semuanya baik, dan Rama yang ku minta bertanggung jawab di sana.”
“Iya kamu memang hebat anakku, Papa juga bertindak cepat untuk mengurus semua kabar dan juga masalah yang berkaitan dengan apa yang kamu dan Luna alami, juga sahabat Luna itu, karena Borne langsung papa minta terjun langsung ke lapangan.”
“Iya Pa, terimakasih atas semua bantuan Papa.”
“Sudah, kita malah terlalu terlena ngobrol, sampai melupakan menantu Papa.”
“Hahaha” semua tertawa bersamaan, hanya Luna yang sesekali masih memakan es krim yang hampir habis dimakannya.
Tidak lama, pintu ruangan terbuka kembali, ternyata dr.Zaki yang datang.
“Hai, o.., ada Om dan Tante juga ya, dr.Zaki mengatupkan ke dua tangannya di depan dada, Assalamu’alaikum Om Tante.”
“Hai wa’alaikumsalam dokter calon ponakan tante.”
“Hehehe.” dr.Zaki agak malu sambil menggaruk rambut bagian belakang kepalanya.
“Tante dan Om kapan ke sini,” dr.Zaki berusaha rileks karena merasa diawasi Bos tempatnya bekerja sekaligus calon keluarganya.
“Ar, tadi aku telepon kenapa tidak diangkat?” dr.Zaki bertanya pada Arka.
“belum sempat lihat karena aku silent.”
“Jadi tidak hari ini, karena jadwal pemeriksaan Luna sudah aku buat dengan dokter yang kamu inginkan.”
“Jadi lah.”
“Biar semua aku siapkan dulu, tapi semua Dokter harus cewek, aku tidak mau ada Dokter cowok.”
“Iya aku tau.”
“Ok kalau begitu, Ma Pa, Arka siap-siap membawa Luna untuk periksa ya Ma Pa.”
“Iya, silahkan, apa perlu Mama dan Papa ikut?”
“Tidak usah Ma Pa, cukup Arka dan Zaki saja, oy Mama dan Papa bisa istirahat di sini.”
“Tidak, kami harus pulang dan mengurus kantor, benarkan Mam..?”
“Iya, benar, nanti siapa yang mengurus rumah juga.”
Akhirnya Arka dan dr.Zaki membawa Luna ke tempat pemeriksaan dan Pak Hari juga Bu Hari pulang ke rumahnya.
__ADS_1
*** Selamat Tahun baru 2021 Readers sayang.., semoga semua Readera RINDU SANG PRESDIR selalu sehat dan mendapat Rizki berkah dari Tuhan yang Maha Kuasa, Aamiin..