
Luna pun memekai Hp itu, karena dia tau kalau Arka masih dalam suasana emosi, dia tidak mau membuat suaminya semakin kesal, karena kejadian di Galery tadi.
Sampai di kantor Arka langsung menuju ke ruangannya, sekalipun jam sudah menunjukkan pukul 2 siang dia tetap semangat untuk menyelesaikan dan melihat email yang masuk, karena melihat atasannya datang Melani langsung mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Arka, sedangkan Rama yang juga melihat Arka datang dia buru-buru masuk ke ruangan Bosnya itu.
Rama yang masuk ke ruangan Arka, melihat rona wajah Arka seperti tidak bersahabat, Melani pun merasa ada yang telah terjadi hingga atasannya memasang wajah masam. Arka yang milihat Melani dan Rama sudah masuk ke ruangannya masih juga belum direspon oleh Arka.
“Sayang, kamu boleh istirhat atau dzuhur sana, nanti aku menyusul,” tanpa ada bantahan Luna yang santai duduk di sofa ruangan suaminya langsung berdiri dan masuk ke ruang privat kantor suaminya.
“Rama, kamu tau kan Galery Handphone yang ada di Mall aku?”
“Iy, ada apa?”
“Sudah aku buyarkan.”
“Apa! Memang kamu tidak kasihan karyawan yang bekerja di sana, mereka hanya mengais sedikit rizki malah kamu buyarkan, apa kamu sudah lupa dengan tujuan awal kamu mengembangkan bisnis itu.”
Rama yang biasanya lebih suka gaya berbicara lo gue, karena melihat Arka yang sedang dalam selimut kemarahan, tau diri dan tetap bersiakp formal kepada Arka.
“Pertimbangkan apa yang ingin kamu lakukan Ar, jangan sampai menyesal di kemudian hari, lebih baik kamu bisa mensupervisi dulu galery itu. Siapa tau memang ada kelemahan dalam pengelolaan bisnil kecilmu itu, itung-itung kamu berbagi rizki kepada karyawan.”
Arka menarik nafas panjang, belum tau Arka akan menerima saran yang diberikan Rama padanya, dan tanpa membalas saran Rama, Arka langsung berdiri meninggalkan Rama yang duduk di sofa, dia msuk menuju ruang istirahat.
“Ya sudah, kita bicarakan lagi nanti, aku dzuhur dulu, jangan ke mana-mana, tunggu aku.”
“Ok lah, aku akan di sini,”
Sambil menunggu Arka, Rama bermain dengan benda pipih yang selalu setia menemaninya dalam suka duka dan gundah gulana.
***
Di rumah Mira, Lia dan Indah sedang asyik makan buah yang disuguhkan Mira, mereka berencana mau ke rumah Luna, tapi sampai pukul 2 siang Luna belum juga mengasih kabar.
“Luna bagaiman sih sudah sesiang ini tapi belum juga kasih kabar ke kita.” Mira mengeluh.
“Iya, percuma kita nunggu dia seharian kalau hasilnya nihil.”
“Ha! Tumben nona cantik Indah.., tumben lo jadi manusiawi?” Lia mendakwa Indah karena tumben sekali dia bereda di pihak mereka, padahal biasanya selalu jadi penyabar dalam menyikapi semua yang terjadi diantara mereka berempat.
“Aku itu selalu manusiawi lia.., Cuma kadang diantara kita berempat harus ada yang ngerem ketika ada yang keblabasan, biar semua tetap dalam koridor alias tidak nyasar-nyasar.”
__ADS_1
“Tapi semoga kita tidak ke sasar ke dalam hutan, hiiiii atut.”
“Dasar lo ya Mir, sukanya parno saja, padahal Cuma bayangin doang,”
“He,bukan begitu lia, aku Cuma bayangin, bagaimana kalau kita benar-benar nyasar ke hutan.”
“Jangan ngaco deh ah, bikin merinding,” Indah merinding membayangkannya.
Mereka bertiga yang awalnya kakaka kikiki dengan berbagai tema obrolan, malah pada diam.
“Tapi ngomong-ngomong cek WA dong.., barang kali ada si sinderella yang ngasih kabar.”Mira buru-buru ngecek Hp, Lia, Indah juga bersegera mengecek Hpnya.
Wajah mereka bertiga jadi sumringah ketika Luna memberikan balasan di group.
Luna: Maaf teman-teman, aku tidak sempat memberi kabar, dan sekarang aku masih di kantor suamiku.
Lia: Iy aku tau, tadi lo habis dari RS kan? Kak Rama tadi bilang, karena pagi sudah datang dari rumah lo.
Luna: Iy tadi pagi Kakak kamu habis dari rumah, tapi aku tidak sempat ngobrol banyak, karena Kak Rama kayaknya sibuk dan buru-buru.
Mira: Na.., gue sama yang lain jadi bisa ke rumah lo tidak hari ini? Kalau jadi kita go sekarang, tapi kalau belum bisa, kita mau alih skedul saja.
Mira: He.., bukan gaya, tapi kudu kaya kakakakka.
Indah: Jangan lebar-lebar awas tu lalat datang.
Luna: Ndah.., kirain kamu tidak sama kita, ternyata kamu ada.
Indah: Iy aku di sini, kita semua ada di rumah Mira, rencana pingin ke rumah kamu, tapi kayaknya belum bisa deh.
Luna: Sebentar deh dari pada aku di kantor juga tidak ada yang bisa di kerjakan mending aku pulang saja, nanti kalian aku kabari kalau aku sudah sampai rumah, udah dulu ya.
Luna sudah ofline, dia bergegas keluar dari ruang istirahat, untuk pamit ke suaminya agar diizinkn pulang naik taksi online, ketika keluar dari ruang istirahat, Luna melihat suaminya begitu serius sambil melototin laptop yang ada di depannya, tidak tega rasanya memotong fokus suaminya, tapi bagaimana pun dia harus segera pulang agar bisa santai-santai dengan teman-temannya.
“Ada apa, kenapa gusar?” Tanpa melihat, ternyata Arka peka dengan gelagat Luna.
“Em.., Mas Arka masih lama tidak pulang kantornya, kalau boleh Luna mau pulang naik taksi saja.”
“Tidak! tidak boleh naik taksi, biar sayangku diantar Pak Rejo supir kantor saja, karena aku juga belum tau selesai jam berapa dan pulang jam berepa.”
__ADS_1
“O.., tapi Luna mau kedatangan Mira, Indah sama Lia boleh ya, mereka mau main ke rumah sore ini.”
“Iy, yang penting jangan aneh-aneh, tetep jadi mahasiswa tauladan aku suka itu.”
“Iy, Luna tau.”
Arka menelepon Pak Rejo agar segera mengantarkan Luna pulang terlebih dahulu. Pak Rejo pun siap dan langsung pergi ke lantai di mana Arka menyuruhnya untuk menjemput majikan istri tuannya. Ahirnya Pak Rejo sudah bertemu dengan istri tuannya itu.
“Mari ikut saya nyonya, tadi Tuan Arka menyuruh saya untuk mengantarkan Nyonya pulang lebih dulu.”
“Iy Pak, terimakasih.”
Mobil yang di kendarai Luna pegi meninggalkan gedung megah itu, sedangakan Arka yang sudah di kasih masukan oleh Rama agar mengecek semua perkebangan bisnisnya masih sibuk dengan laptopnya.
“Ram, segera ke ruanganku,” Arka menelepon Rama karena menemukan kejanggalan di bisnis alat komunikasi miliknya, sepertinya ada dana gelap yang mengalir ke Rek. fiktif.
“Ada apa? Apa yang kamu temukan sepertinya perlu penanganan kusus.”
“Malam ini kita lembur.”
“Baiklah.”
Begini nyuruh aku segera nyari bini, gimana nasib bini gue kalau lembur saja sering dadakan gini, enakan malah karyawan yang lain mereka punya jadwal kerja pasti, lembur pun kalau mereka belum bisa menyelesaiakn apa yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Rama berbicara dalam hati.
***
Sedangkan Luna sudah mengabari ke tiga temannya kalau dia dalam perjalanan pulang, teman-temannya pun langsung gercap dengan naik sepeda motor. Tidak Lama Luna dan teman-temannya sudah sampai di rumah Luna bersamaan, apalagi yang mereka lakukan, mereka berteriak sambil berpelukan mirip sekali dengan Tuletubbies. Pak Rejo yang melihat tingkah laku majikannya hanya tersenyum dan menggeleng- gelengkan kepalanya.
“Maaf nyonya, saya pamit dulu, saya akan kembali ke kantor, hawatir tuan Arka mencari saya.”
“Oiy Pak, aku minta maaf ya, jika merepotkan Pak Rejo.”
“Iya tidak apa Nyonya, Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsalam.”
Setelah Pak Rejo pergi, ke empat sahabat karib itu masuk ke rumah Luna, saat memasuki halaman, mereka semua melongo dan berdecap kagum melihat rumah Luna yang bak Istana.
***
__ADS_1
Selamat baca ya Readera sayang...eemuua