RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 59


__ADS_3

Saat menyetir Arka yang tidak mendengar suara istrinya sama sekali, penasaran dan melihat istrinya sudah tidur dengan sangat pulas.


Arka tersenyum melihat wajah Luna yang begitu manis natural, sekali pun jarang mau pergi ke salon, kulit Luna terbilang sudah sangat sehat putih segar dan halus, mungkin karena Luna suka makan buah dan sayur, dan jarang mau makan makanan yang berminyak dan MSG.


Arka terus menyetir, dan sampai pula dia di rumahnya yang terlihat sudah sepi, hanya Satpam yang masih berjaga, Arka yang tidak tega membangunkan istrinya, menggendongnya sampai ke kamar, dan melepas sepetu Luna lalu menyelimuti tubuh istrinya agar lebih hangat.


“Aaaa.” Luna menggeliat dan tanpa sengaja memeluk leher Arka dengan erat.


“Aku bukan guling sayang.., lepaskan.” Arka berusaha melepas pelukan tangan Luna yang erat melingkar di lehernya dengan pelan, hawatir membuatnya terbangun.


Karena badan Arka begitu terasa lengket dia segera mandi dan berendam di air hangat, sampai terasa sarafnya sudah rileks baru dia mandi dan setelah selesai dia berwudlu untuk Sholat isya’.


Arka yang melihat istrinya begitu pulas, tidak tega rasanya untuk mengajaknya sholat Isya’, ahirnya dia sholat sendiri, karena dia tau kebiasaan istrinya ketika belum Isya’ dia pasti akan bangun sekalian untuk Sholat sepertiga malam.


***


Di rumah Rama, Rama yang lupa membawa kunci cadangan rumahnya terpaksa tidur di kursi panjang teras rumahnya, karena berkali-kali memencet bel rumah, tidak kunjung ada yang membukakan pintu rumah, mencoba menelepon orang rumah juga tidak ada yang mengangkat.


“Sial bener sih nasib gue, sudah kedinginan karena terpaan hujan, ini lagi! malah terkunci di luar mana dingin lagi!” Rama menggerutu sebisanya.


Sampai pukul 12 malam, Bunda Rama yang ingin buang hajat kecil mencoba melihat Hp dan kaget, karena ada panggilan dari Rama hingga 11 kali, buru-buru Bu Dadang menelepon Rama. Rama yang kaget karena getaran bunyi telepon, sampai terjatuh dari kursi tempat dia tertidur.


“Rama, kamu di mana nak, kenapa menelepon Bunda, apa ada yang terjadi?” Karena panik, Bunda Rama membangunkan seisi rumah.


“Apa sih Bunda. Buka pintunya, Rama terkunci di luar.”


“Ya Allah, jadi kamu terkunci di luar dengan malam sedingin ini.? Iya Bunda segera buka.”


Bu Dadang bergegas membuka pintu, sedangkan Pak Dadang dan Lia kembali tidur karena terbangun mendengar kehebohan Ratu rumah mereka.


Pintu pun di buka oleh Bunda Rama, tanpa berkomentar apa pun Rama langsung masuk ke dalam dan menuju kamarnya.


“Maafin Bunda Ram..., Bunda tidak dengar telepon dari mu karena Hp Bunda silent.”

__ADS_1


“Iya tidak apa Bun, Rama ngantuk, Bunda tidur lagi saja.”


Rama berlalu tanpa melihat Bundanya yang mematung di samping pintu, akhirnya Bunda menutup pintu dan kembali ke kamarnya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, betul keyakinan Arka, Luna pasti akan terjaga dengan sendirinya, karena memang sudah terbiasa bangun untuk Sholat malam. Arka melihat istrinya yang tanpa malas bangun untuk mengadukan semua hal kepada Sang Pencipta.


Begitu trenyuh Arka melihat istri kesayanganya, gadis Desa yang cerdas lugu ceria. Betul kata Kakeknya dulu, seorang suami yang taat ibadah pasti akan mendapat sitri yang baik, andai ada suami atau istri yang sangat baik dan taat ibadah, tapi mendapat pasangan yang belum tepat, itulah mungkin cara Tuhan untuk mengangkat derajatnya di balik kesabaran dan takdir Tuhan.


Selama itu pula Arka bersabar dengan takdir Tuhan, di saat Arka harus di jodohkan dengan Selena, dia menjalani rumah tangganya dengan penuh kepasrahan kepada Tuhan dan tetap bersabar dengan proses yang Arka jalani.


Papa Mamanya mungkin juga belum tau, tentang kelakuan Selena karena Arka sengaja menutup semua keburukan Selena, demi membahagiakan Orang Tuanya. Tapi Tuhan sudah menjawab semua doa dan kepasrahannya hingga Tuhan mengganti kan posisi Selena dengan istri seperti Luna sekarang.


Lama Arka memperhatikan istrinya, hingga Luna selesai sholat pun Arka masih memperhatikan gerak geriknya. Saat selesai Sholat Luna bukannya tidur kembali seperti biasa, tapi seperti mencari sesuatu tapi tidak menemukan di kamar, lalu Luna keluar kamar.


Arka, karena dia kepo dengan apa yang dilakukan istrinya, dia pun mengikuti tanpa sepengetahuan Luna, istrinya itu menuju dapur dan membuka kulkas, seperti mencari makanan, karena dari Luna keluar kamar, Luna selalu mengelus perutnya seperti sedang sangat lapar.


“Mas Arka kenapa bikin kaget sih.”


“Sayangku malam-malam begini kenapa makan? Apa lagi sahur ni..?”


“Em..., bukan! Luna lapar banget, tidak tau kenapa? Biasanya di meja kamar ada buah, tapi tadi tidak ada, jadi Luna ke sini.”


“O.., Mas kupasin ya, mau apel, anggur, jeruk apa pisang?”


“tidak usah di kupas Mas.., Luna suka makan sama kulitnya, yang penting sudah di cuci.”


“Jangan.! Hawatir ada lilinnya!”


Arka mengambil buah yang hapir masuk ke mulut Luna, saat Luna mau memakan buah itu.


“Mas Arka..”

__ADS_1


“Suttttt. Sudah tunggu saja, ini pisangnya makan, pisang sangat bagus untuk mengganti nasi.”


Arka mengupas pisang lalu menyuapi Luna, tanpa Luna bisa menolak, dia malah sperti anak bayi yang disuapi sama mamanya, setelah memberikan pisang dan menyuapi Luna, Arka mengupas macam-macam buah yang ada.


“Hem.., enak sekali Mas..” Luna begitu lahap memakan buah yang telah di kupas oleh Arka.


Arka yang melihat istrinya begitu lahap, malah terkekeh.


“Kenapa Mas tertawa? Tidak ada yang lucu.”


“Iya Mas akan diam,” masih sambil tersenyum, Arka memandangi istrinya yang begitu lahap memakan buah yang dikupasnya.


“Ha..! kanyang, ayo kita tidur Mas, masih kurang 30 menit lagi baru shubuh.”


“ayo.” Arka bersemangat mengajak istrinya dan tanpa permisi Arka langsung menggendong Luna bak Bridal style menuju kamar, Luna yang berusaha menolak akhirnya pasrah begitu saja.


Shubuh pun berlalu, semua orang yang ada di rumah Arka sibuk mempersiapkan segala keperluan, karena tuan dan nyonya besar mereka akan pergi keluar kota selama satu minggu, tidak boleh ada keperluan satu pun yang terlupakan.


***


Di rumah Indah dia juga bersiap-siap, karena memang mereka harus sampai di bandara dan janjian berkumpul dengan rombongan pukul 08.30 pagi, Rama juga tetap saling berkomunkasi dengan Indah, karena yang bertanggung jawab atas Indah adalah Rama.


Semua sibuk berkemas, dan Luna yang sudah siap semua, malah bermain Hp dan tertawa-tawa dengan benda pipihnya itu.


“Kenapa tertawa sendiri?” Arka mendekati istrinya lalu duduk di samping Luna.


“Lihat saja ini,” Luna mengarahkan layar Hpnya. seketika Arka ikut terkekeh melihat gambar di layar Hp Luna.


Mira berfoto dengan ekspresi wajah yang yang kocak, karena dia sedih dan galau di tinggal liburan Luna dan Indah, Lia juga sedih karena mau ikut liburan tapi tidak di perbolehkan Rama.


Setelah melihat foto di Hp Luna, Arka beranjak pergi sambil terkekeh, dia tidak mau terbawa suasana teman-teman Luna, Arka juga tidak mau ikut campur terlalu dalam tentang sahabat istrinya, hanya saja Arka selalu memantau bagaimana teman-teman istrinya itu.


Ingat Like n votenya ya sayang Readers.. Terimakasih..

__ADS_1


__ADS_2