
Di kantor HJG, jam sudah menunjukkan pukul 07.30 tepat 30 menit setelah ke berangkatan Arka dari villa, Arka yang datang mengendarai Heli dan mendarat di atap gedung, langsung turun, masuk ke dalam lif menuju ruangannya, tubuh dan wajahnya yang begitu sempurna membuat karyawan perempuan selalu merasa geregetan melihatnya, tapi bukan Arka namanya kalau GR, sekali pun menjadi idola, Arka tetap bersikap cuek dan fokus kerja, tanpa ada tatapan nakal demi memanfaatkan posisinya, dia langsung menuju ruangannya dan sudah melihat Melani sibuk dengan berkas di mejanya.
“Selamat pagi Pak Arka.”
“selamat Pagi juga Mel,”
“tolong buatkan kopi seperti biasa,” Arka berlalu dan masuk ke dalam ruangannya.
Tidak berapa lama Melani mengetuk pintu ruangan Arka sambil membawa kopi pesanan pimpinannya itu, melani menjadi orang kepercayaan Arka selama kurang lebih 8 tahun, dan selama itu pula Melani tidak pernah melihat atasannya itu menatap mata ketika berbicara padanya, Melani sampai penasaran kenapa bosnya itu jarang sekali menatap mata karyawan perempuannya, tapi karena berlalunya waktu dan Melani sudah paham kalau bosnya punya karakter seperti itu, Melani jadi terbiasa, dan secara profesional pimpinan HJG itu tetap menghargai semua karyawan perempuannya.
“Ada apa Mel, kenapa kamu menatapku begitu lama.”
“O..tidak Pak,” Melani begitu malu karena tertangkap basah oleh Arka yang sedang dia lihat.
“Apa wajahku ada yang aneh, aku tidak operasi plastik tenang saja.”
“Eh tidak tidak Pak.”
“Baru aku tinggal 2 hari kamu sudah penasaran dengan wajahku,” karena godaan Arka wajah Melani bagai tomat.
“Iy Mel, mana Rama, tadi aku diomeli disuruh cepat-cepat ke kantor, tapi malah dia yang telat.”
“Apa! Aku di sini,” Rama nyelonong masuk dan mendekati Arka yang sedang duduk dan membaca berkas.
“Ya sudah Pak Arka, Pak Rama, saya pergi dulu,” Melani pamit kembali ke ruangannya.
“Ar sebenarnya lo kemana saja? Di cari orang malah ngilang.”
“Aku melaksanakan akad nikah, makanya agak lama, kasihan istri gue kalau langsung gue tinggal, tau kan dia juga anak orang pasti punya persaan kayak kita-kita juga.”
“Apa! Kamu nikah? Jangan bercanda Ar, urusan begituan jangan kamu buat bahan candaan.”
“Siapa yang bercanda, emang aku nikah beneran.”
“lo serius Ar, katanya mau cari gadis yang megandung anak lo, kenapa malah nikah duluan, apa gue yang nanti kau suruh tanggung jawab buat nikahin gadis itu, buset! Jadi ande-ande orong-orong kalau kayak gitu, tidak ikut buat ikut ngrawat. Apes deh gue.”
__ADS_1
“Siapa yang nyuruh nikahin, memang aku rela anakku kau rawat, bisa-bisa kayak lo nanti.”
Bagai tikus ketemu kucing, begitulah Arka dan Rama, tapi sekali pun mereka sering berselisih paham, mereka saling mengisi satu sama lain hingga mereka dapat membuat HJG setenar sekarang. Mereka juga masih usia muda jika dibandingkan dengan lawan bisnis perusahaan HJG.
“Tadi kamu dari mana Ram, ketika aku datang kamunya masih belum di sini?”
“Iy aku tadi cari materai, karena stok lagi habis, mau minta belikan admin ternyata
adminnya sibuk, jadi aku ke bawah beli ini,” Rama menyodorkan materai ke Arka, Arka menerima dengan senyum.
“Mana berkasnya aku akan tanda tangani,” Rama memberikan berkas yang dibawanya untuk ditanda tangani Arka.
“Selain ini ada jadwal apa sekarang Ram?”
“Sementara menunggu info dari para desainer yang ingin ikut lelang Berlian, mereka tertarik dengan iklan-iklan yang telah kita seber ke medsos dan media elektronik juga media cetak, mereka berambisi mendesain baju dengan berlian milik kita.”
“Hem..,” Arka manggut-manggut dengan penjelasan yang diberikan Rama.
“Oy, yang lebih tau tentang jadwal kamu kan Melani, kenapa tanya ke aku.”
Di luar Arka menatap papan reklame yang begitu besar. Telkomsel jaringat terkuat se-Indonesi. Dia baru ingat kalau belum punya nomor Hp Luna. Arka lalu menaruh kopi di mejanya dengan cepat, hingga ada tumpahan kopi mengenai kemeja yang melingkar di pergelangan tangannya, Arka selalu melepas jas yang di kenakan ketika berada di ruang kantornya.
“Kamu kenapa Ar, seperti orang melihat setan saja.”
“Aku mau menelepon seseorang jangan ganggu aku.”
Arka menelepon nomor villa tiga langit, dengan nomor kantor.
“Hallo,” kebetulan yang mangangkat adalah Luna sendiri, karena villa tiga langit hanya di huni oleh Bu Imah dan Luna serta para pengawal yang selalu mematung seperti besi, dan para juru bersih-bersih yang selalu siap menyulap villa menjadi kinclong.
“Hallo Assalamu’alaikum,” Luna mengulang salam 3 kali tapi belum ada jawaban dari seberang, hingga Luna hampir menutup teleponnya.
“Wa’alaikumsalam, jangan ditutup teleponnya ini aku suamimu.”
“Hati Luna sedikit bergetar mendengar suara Arka yang begitu lembut tapi sangat kuat auranya.”
__ADS_1
“Em.., Om Arka?”
“Sudah aku bilang jangan panggil om. Tapi untuk kali ini tidak apa, sudah makan apa belum istriku? makan yang banyak biar dedek di perut tumbuh kuat dan sehat kayak Papanya.”
“Iy aku sudah makan..,” dengan suara seperti orang yang mau menangis Luna menjawab pertanyaan Arka dengan sedikit manja.
“Tidak usah menangis.., nanti dedek malah jadi anak cengeng gimana.”
“Lagian Papanya dedek biarin Mamanya seperti tawanan perang, ke sini sana tidak boleh, semua akses terputus, pulsa tidak punya, uang tidak ada teman juga pada jauh semua, ihik ihik ihik,” Luna sudah tidak bisa membendung tangisan yang sudah dia coba untuk tahan, tapi apalah daya, dia menumpahkan rasa yang beberapa hari ini di tahan selama berada di villa tiga langit.
“Sebenarnya mau Om apa sih.., Luna kan butuh uang, buat biaya kuliah, buat hidup sehari-hari, kenapa Luna di tahan di tempat ini.”
“Ok ok, jangan menangis lagi, sebutkan nomor Hp mu, nanti akan aku isi pulsa. Untuk masalah uang, karena di villa memang akses ke luar sangat jauh, semua kebutuhan selama beberapa hari sudah siap di dapur, aku akan menghubungi kepala villa agar melayanimu semua kebutuhan kamu.”
“Iy.., tapi Om mau bawa Luna ke luardari villa kapan..? Luna bosan di sini terus.”
“Akan aku usahakan mencari rumah yang nyaman dulu untuk kita, jadi kita bisa secepatnya pindah, sudah jangan menangis lagi, oy untuk urusan kuliah sudah aku urus jadi tenang saja.”
“Iy, makasih..,” Luna merasa agak lega dengan pembicaraan yang di lakukan dengan Arka, dan membuatnya lebih rileks.
Luna menutup teleponya dan beranjak dari tempat itu, untuk mengusir kejenuhan, ahirnya Luna melihat TV sambil ngemil buah serta makanan ringan yang sudah tersedia.
***
Di kantor, Arka meminta bantuan pada Rama untuk menjaga kantor, karena dia akan ke kampus Budi Luhur untuk mengurus kuliah Luna, dan sekalian mau mencari rumah yang cocok untuk hunian tempat tinggal keluarga barunya, tapi Arka masih belum menceritakan perihal kalau wanita yang dinikahinya adalah Luna, Arka masih menunggu momen yang tepat untuk menceritakan pernikahannya dengan Luna, karena Arka hawatir setelah dia bercerita pada Rama, bisa jadi Rama tidak bisa mencegah mulutnya yang kadang agak ember.
Arka pergi ke kampus Budi Luhur dan selesai sudah satu urusannya, kemudian pergi ke agensi jual beli Apartemen, karena Arka berniat menjual Apartemen yang dulu pernah di tinggali bersama Selena. Arka ingin mengubur kenangan yang telah mengusik rasa dalam hidupnya, rasa cinta, rasa mencintai dan rasa terhianati, Arka begitu yakin bahwa pernikahanya dengan Luna adalah pernikahan terbaik dan untuk selamanya.
Setelah ke agensi, Arka fokus mencari hunian yang nyaman untuk keluarga kecilnya.
***
...Cash foto hunian Arka dan Luna...
__ADS_1