RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 47


__ADS_3

“Ok, Luna juga kangen dengan roti pisang buatan Ibu.”


Luna menyiapkan alat untuk membuat roti sedangkan Ibunya menyiapkan bahan. Saat semua adonan sudah di takar dan sudah diuleni, Hp Luna berdering, dia pun melihat panggilan siapa yang masuk ternyata adalah suaminya.


“Iya Mas, perlu bantuan? Luna lagi aduk rot.”


“Ke kamar sekarang.”


Apa sih..orang sudah dikasih tau kalau lagi bikin roti juga, masih saja dimintai ke kamar, lagian ada apa? Luna berkata dalam hati.


“Iya Mas, ada apa?”


“Sini..,” Arka menarik tangan Luna dengan lembut.


“Ada apa sih..?”


“Hem..,” Arka mengulurkan dasi pada Luna.


“Ada apa dengan dasinya Mas?”


“Pakaikan!”


“Apa! Ya Allah Mas Arka, bikin kaget kirain ada hal peting apa, sampai panggil Luna segala.”


“Hemmm, ini penting,” Arka mendongakkan kepalanya dan mengarahkan lehernya mendekat ke Luna.


Tanpa ragu Luna memakaikan dasi suaminya, tampak Arka begitu tenang, tapi setelah dasi dipakaikan, Arka malah memegang leher Luna dan mencium bibir Luna hingga bibir mereka bertaut, sampai pada Luna yang hampir kehabisan nafas, Arka baru melepaskan ciumannya.


“Mas.., Luna mendorong suaminya dan Arka hanya terkekeh melihat wajah istrinya yang masih saja canggung jika dia beraksi.


“Terimakasih ya,” lagi-lagi Arka tidak menyiakan kesempatan, dia mengecup pipi Luna sambil berlalu dan keluar kamarnya, Luna pun ikut keluar.


“He..! Lupa, Papa berangkat dulu ya mama, salim,” Luna pun menurut saja dengan tingkah suaminya yang terkadang penuh humor, terkadang juga menyebalkan dan sulit menjawab pertanyaan.


“Hati-hati Mas,” Luna menatap kepergian suaminya itu.


“Hem.., Asssalamu’alaikum,”


“Wa’alaikum salam.”


Bu Imah yang melihat perkembangan hubungan dari anak dan menantunya yang terkesan sudah ada benih cinta, merasa lega.


“Suamimu sudah berangkat nduk?”

__ADS_1


“Sudah Bu.”


“Ibu lihat kalian sudah saling akrab.”


“Iya berkat doa Ibu.”


“Iya, Ibu berharap kalian segera punya bayi lagi, biar rumah ini tidak selalu sepi.”


“Iya Ibu.”


“Oiy nduk, tadi malam Ibu cari kamu sampai ke mana-mana, tapi tidak menemukan, terus Ibu ya tanya suamimu, e..malah bilang kalau kamu nyetrika di kamar mandi, memang tidak bahaya kalau menyetrika di kamar mandi?”


Luna malah terkekeh dengan pertanyaan Ibunya.


“Kenapa nduk, ada yang lucu.”


“Iya Bu, masak ada nyetrika di kamar mandi, tadi malam itu maksudnya saya nyetrika, terus mas Arka mandi.”


“O, tapi kalau nyetrika kenapa bukan kamu yang jawab tapi malah nak Arka yang keluar,” Luna kelagapan saat Ibunya bertanya balik.


“O.., Luna pakai headset Bu, jadi malah mas Arka yang dengar panggilan Ibu.” Bu Imah manggut-manggut dengan penjelasan yang dismapaikan Luna.


Mereka pun bersama menyesaikan adonan roti pisang lalu mengukus dan ditinggal Luna dan Ibunya untuk bersantai di area kolam renang.


***


“Bagaimana Alex, kamu siap menjelajah jawa?”


“Siap Tuan.”


“Baiklah.” Arka menyuruh orang baru yang sudah hafal dengan Jawa.


“Semua sudah aku siapkan, kamu tinggal mencari lokasi yang cocok untuk membangun lestoran dan membangun villa, kalau semua sudah fix kabari aku, kamu aku kasih waktu seminggu, silahkan cari teman yang dapat dipercaya dan dapat diajak kerjasama.”


“Baik Tuan.” Alex pergi keluar dari ruangan Arka dia bersiap untuk segera ke Gunung Bromo Pandansari kampung kelahiran Luna.


Semua rencana tersusun matang, Arka mempersiapkan semua agar Bu Imah yang akan tinggal di kampung halaman bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang di sekitarnya.


“Bagaimana siap untuk rapat hari ini Bos Arka.” Rama masuk membawa laptop.


“Iya kita mulai hari ini.”


Arka dan Rama masuk ke ruangan yang telah disiapkan, sedangkan Melani bertugas di luar untuk mengurus segala sesuatu yang dibutuhkan oleh Atasanya itu.

__ADS_1


Ahirnya rapat dimulai dan berlangsung begitu menegangkan karena dari dua belah pihak begitu bersemangat dan saling ingin mengusai forum, tapi bukan Arka namanya kalau bisa kalah pamor dengan pihak patner.


***


Di tempat yang berbeda, Doni pesaing Arka yang begitu sangat ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan yang akan menjalin kontrak dengan HJG, mencari titik lemah Arka agar gagal dalam menjalin kerjasama, pada saat yang sama, orang kepercayaan Doni datang ke kantor Doni, dia mendapat informasi kalau Arka Jaya Kusuma dalam waktu dekat akan pergi ke gunung brono, dan sudah menyuruh orang untuk mencari lokasi yang tepat untuk membangun villa dan lestoran karena kabarnya Ibu mertua Arka dan Istrinya berasal dari desa itu.


“Baiklah terimakasih, kamu luar biasa.” Doni tertawa dengan penuh kemenangan sambil meremas ke dua tangnnya.


“Kamu boleh pergi, cari informasi yang lain kalau sudah dapat sampaikan ke aku lagi.” Orang itu pergi dari ruangan Doni.


“Ahirnya kemenangan ada di tanganku Arka, kamu akan hancur. Kamu akan merana seperti yang sering kau lakukan padaku, aku akan membuat kamu jatuh dan tidak bisa bangun lagi.” Doni membuat strategi yang tidak direncanakan dengan siapa pun, dia hanya merencanakan sendiri.


“Tidak akan aku perbolehkan kamu bahagia begitu saja, cam kan itu Arka.” Doni marah dan menonjok dinding kantor ruangannya.


***


Di tempat yang lain Alex kepercayaan Arka begitu kuat jaringannya dia selalu dapat menjangkau informasi yang belum tentu orang lain dapat melakukannya.


Dia begitu rapi dalam menyiapkan segala hal yang akan dia lakukan, karena dia tidak suka kalau pekerjaanya di ganggu oleh ulah orang yang ingin menghancurkan tuannya.


“Tuan Arka, saya sudah di Jawa, saya sudah sampai di Pandansari, lokasinya begitu sejuk Tuan, tuan pasti suka kalau di sini.” Alex mengirim pesan pada Arka, dia mengambil foto lokasi dan mengirimkan pada Arka.


Arka yang masih rapat tidak bisa menerima pesan dari siapa pun, jadi pesan Alex masih belum dibacanya. Baru sekitar 4 jam berlangsung rapat selesai dan pihak patner sangat puas dengan rapat yang dilaksanakan.


Arka melihat jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, itu artinya Luna sudah masuk kuliah.


“Sayangku apa kamu sudah berangkat kuliah? Tadi Pak Tejo sudah antar kamu kuliahkan?” belum ada balasan dari Luna, dan Arka fokus pada nomer Alex dia pun membuka.


“Aku sudah melihat pesan yang kamu kirim, aku suka, teruskan pekerjamu, jangan tinggalkan jejak sedikit pun, jangan kasih peluang pada siapa pun, sekalipun hanya untuk sekedar membau jejakmu.”


“Baik Tuan.”


Ahirnya Arka masuk ke ruangannya dan disusul Rama.


“Ar, performa kamu hari ini luar biasa, kayaknya kamu dapat suplemen baru, aku saja terkagum-kagum dengan performamu tadi, apalagi pihak patner kita tadi.”


“Memang kamu baru tau performaku, biasanya kan juga begitu.”


“Iya sih,” Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


Maaf Up nya sedikit2 dulu ya sayang sayangku.., tetep ingat kasih bintang, vote dan like nya ya.., terimakasih..eeemmuuua

__ADS_1


__ADS_2