
“Iya Ibu terimakasih.”
“Iya tidak apa-apa, Ibu Lega kalau Luna bersama nak Arka,” ahirnya Bu Imah beranjak dari depan pintu kamar menantunya itu, tapi yang membuat pikiran Bu Imah tidak tenang dia mendengar jawaban Arka kalau Luna sedang menyetrika di kamar mandi.
Menyetrika di kamar mandi? baru kali ini ada orang menyetrika di kamar mandi, apa tidak kesetrum ya, tapi sudah lah mungkin maksud nak Arka di kamar,bukan di kamar mandi, tapi.., bukannya Luna belum pernah sekamar sama nak Arka, tapi ini kok di kamar Arka, aduh pusing mikir orang muda ini, ya sudah yang penting Luna sudah ketemu, toh mereka sudah sah kalau mau nyicil, konsekwensi juga bisa mereka hadapi. Bu Imah bicara sendiri dalam hati.
Setelah Ibu mertuanya pergi, Arka yang menahan semangat, langsung menyusul Luna kembali, dia merasa pusat amunisinya meronta-ronta ingin melepaskan milyaran amunisi yang sempat kedatangan iklan.
Karena merasa puas dengan suasana gemericik air, Arka menggendong istri kesayangannya menuju tempat yang hangat, mereka mergumul dalam balutan kain hangat tebal dengan beralaskan benda empuk yang berukuran king size.
Nafas tidak teratur, joki yang biasanya adalah Arka, untuk rode ini, Luna yang begitu agresif sangat bersemangat dengan gaya yang belum dipakai oleh Arka, awalnya Arka bertanya dalam hati, tapi karena serangan demi serangan dilancarkan oleh istrinya, arka pun mengimbangi dengan penuh kerjasama dan saling menguntungkan satu sama lain, sampai pada perolehan gol yang ke empat kali, Luna baru pasrah dan menyerahkan kendali kepada suaminya. Dan Ahirnya amunisi keluar menghantam tempat yang tepat dan sangat membuat Arka puas, mereka tertawa bersama dan menghempaskan tubuh di benda empuk berukuran king size itu.
Arka mencubit hidung Luna, dia gemas mendapati istrinya yang begitu lugu dan pemalu menjadi seagresif seperti malam ini, tapi dia sangat puas karena dia bisa lebih tau kekuatan dan kemauan istrinya ketika sedang dalam masa subur, karena pada masa subur wanita memang lebih agresif dibanding dengan masa biasanya. Tapi dia juga sempat curiga dengan kelakuan Luna yang tidak seperti biasanya.
“Kamu lapar apa tidak? Makan yuk, sudah puas memakanku kan? Hari ini sayangku keren sekali, dapat ilmu dari mana, sepertinya ilmu dan gaya baru?”
“Luna menutupi wajahnya dengan ke dua tangan karena malu, dia malah menyusupkan wajahnya di dada bidang Arka seperti adik bayi yang mau ***** sama Ibunya, melihat istrinya yang begitu malu, Arka memeluknya dengan erat dan mencium ubun-ubun istrinya sambil tersenyum.
“Tidak perlu malu, kamu hebat malam ini, tapi ngomong-ngomong tenaga sayangku kuat sekali, untung suamimu ini rajin olah raga.”
“Ah Mas Arka, jangan bikin malu lagi,” Luna masih bertahan di dada bidang Arka, dia semakin malu mengingat aksinya yang tidak bisa kendalikan.
“Ya sudah, kita makan yuk, aku lapar sekali, dari kantor tadi belum sempat makan, sampai rumah yang malah jadi makanan.”
“Iya ayo, Luna juga lapar.”
“Sebentar, tapi sayangku sudah tidak merasa perih dan nyeri kan?”
“Maksud Mas Arka perih dan nyeri yang mana? Luna tidak habis jatuh atau kena pisau.”
__ADS_1
“Yang ini lohh, dulu pas di kantor petik pertama kali kan nyeri, sekarang sudah tidak lagi ya?”
“Mas Arka.., jangan bikin malu Luna lagi,” sambil memukul ringan pangkal lengan Arka, Luna berupaya menyembunyikan wajahnya yang merah seperti tomat.
“Sudah, ayo kita makan.”
“Ayo,” Luna segera turun untuk makan.
“Hem.., pakai penutup aurat dulu sayang.., masak mau gituan doang.”
“kekekeke,” Luna malah terkekeh melihat aksi dirinya sendiri yang begitu polos.
“Sudahkan Luna sudah cantik kan..?”
“Iya, istriku memang paling cantik dan baik sedunia.”
Suami istri itu keluar dari kamar menuju ruang makan, mereka makan begitu lahap, mungkin karena lapar sehabis main lompat tali, gobak sodor, main petak umpat dan hujan-hujanan, di sela sela makan Luna bertanya sama suaminya.
“O itu, hem..”
“Kok Cuma hem sih, terus tadi Mas Arka jawab apa pas Ibu tanya.”
“Hem.., aku bilang kamu nyetrika di kamar mandi.”
“Apa! Mas Arka nyebelin, masak Luna nyetrika di kamar mandi.”
“Terus mau dijawab bagaimana, bilang kalau kamu mandi bersamaku bagitu?”
“Ya tidak sih, tapi Ibu curiga tidak dengan jawaban Mas?”
__ADS_1
“Hem..” Arka hanya menggerak pundaknya.
Tidak ada obrolan lagi di antara mereka, Suami istri selisih usia itu meneruskan makan dengan masih sangat lahap, hingga pada titik kenyang mereka baru menyudahi makan malamnya, kemudian beristirahat di ruang keluarga, sampai pada Arka merayu Luna untuk bobok berdua malam ini, tapi Luna menolak dengan alasan Ibunya akan curiga, tapi karena permintaan Arka yang tidak mungkin bisa di tawar, membuat Luna tidak bisa berkutik dan mengabulkan ajakan suaminya itu.
Selesai santai di ruang keluarga, mereka berdua bersih-bersih diri di kamar masing-masing karena pakaian mereka ada di kamar, tdak lupa setelah Arka selesai bersih diri dia menjemput Luna ke kamarnya, dan diajak untuk isya’ berjamaah, untung Luna juga belum isya’ sehingga mereka bisa menikmati waktu yang begitu indah dan begitu sempurna malam ini.
Sesudah Isya’ mereka bersalaman, Luna mencium tangan suaminya, dan Arka mencium kening istrinya dengan penuh kehangatan, tidak ada kata yang diucapkan, mungkin sama-sama merasakan hal dengan berjuta rasa yang tidak bisa diungkapkan, mereka mungkin berharap suasana keluarga yang samawara itu selalu meliputi mereka berdua.
Malam semakin larut, ahirnya mereka merenda hangatnya malam dengan bersama menyatukan jiwa raga, tanpa ada jarak lagi yang memisahkan, Arka juga berjanji akan berkata jujur dan minta izin pada mertuanya kalau mereka berdua akan memutuskan untuk satu kamar, karena mereka sudah merasa cocok dan saling mengisi satu sama lain.
“Sayang.”
“Iya.”
“Besok aku akan minta izin ke Ibu kalau kita akan tinggal satu kamar.”
“Hem..”
“Maksudnya kamu setuju juga dengan ide ku?”
“Iya terserah Mas Luna dukung saja.”
“Sayangku sudah tidur?”
“Hem..”
Arka yang melihat wanita di sampingnya sudah mulai terdengar nafas teraturnya, dia juga memposisikan diri untuk bersiap tidur, tidak lupa dia mencium kening istrinya, dia bersyukur karena kali pertama ini dia menghabiskan malam bersama istri yang sangat dicintainya, terlintas di pikirannya bayangan Selena yang dulu telah menghianatinya, karena dengan kesabarannya, ahirnya Tuhan juga tidak diam, Tuhan telah memberinya pengganti yang sangat luar biasa, dan Arka yakin istrinya dapat memberinya keturunan yang hebat dan luar biasa.
“Selamat tidur istri sholihahku, tidur yang nyenyak, sambut esok dengan penuh senyuman dan rasa sukur,” Arka membisikkan kalimat itu di telinga istrinya yang sudah terbawa mimpi begitu Indah, dia pun ikut tidur dengan penuh senyuman dan kebahagiaan.
__ADS_1
***
Nah, bagaimana likenya, Author ikut seneng mereka sudah mau satu ruangan. jadi lega.., kasih bintang yang banyak sama votenya ya sayang sayang.., biar Author tambah banyak hallonya..