
Kedua orang hebat itu bersalaman, kemudian berangkat menuju mobil yang akan dikendarai menuju Bandara, diikuti oleh mobil ajudan yang mengamankan perjalanan Arka dan patner bisnisnya.
“Papa anak-anak akan pulang istri sholihahku, tunggu aku.” Arka bergumam sendiri sambil bibirnya sedikit komat kamit, dia bernafas lega karena hari yang dinantikan telah tiba, Dia akan berkumpul lagi dengan istri dan anak-anaknya yang selalu dipeluk ketika mau tidur.
Sopir yang mengantar Arka juga ikut tersenyum saat melihat Arka di kaca spion depannya.
15 menit kemudian rombongan patner bisnis Arka dan para ajudannya sampai di Bandara, tidak ada firasat apa pun yang terlintas di benak Arka, yang diingat bahwa dia akan segera pulang ke Indonesia.
“Terimakasih Pak Arka, semoga sampai tujuan.” Dengan bahasa yang memakai logat arab patner bisnis Arka bersalaman dengan pewaris HJG itu.
“Terimakasih buat Anda juga Tuan.” Semoga bisnis kita berhasil.
Arka berlalu dari tempatnya, hilang dari kerumunan menuju antrian panjang menuju burung besi yang akan terbang membawanya kembali kepada anak Istrinya.
Di rumah Arka, Luna sibuk membalas pesan dari Sisi yang protes karena tidak memberi kabar kalau Arka sedang di Dubai, merajuk pada Luna kalau tau Kakak sepupunya di Dubaidia pasti akan ajak jalan-jalan ke liling Dubai.
Tapi dengan sabar Luna tetep merespon Sisi sekalipun protes dengan penuh kemanjaanya, yang pada akhirnya Sisi mengatakan ya sudah deh, kemudian Tanya-tanya kedaan Adik di perut sama Tanya kabar kabar Luna.
“Kak Luna, kata Kak Arka sudah mau lulus ya..? selamat ya Kak, Kak Luna memang hebat.”
“Iya makasih Sisi.”
“Sisi juga mau ngejar lulus pokoknya biar cepet kerja terus hamil, yecch.”
“Lulus, nikah dulu baru hamil Sisi.”
“Iya maksud Sisi kayak gitu, tapi biar singkat n cepat ya Sisi ambil pusatnya saja.”
“Iya.. hehehehe.”
“Ya sudah Kak Luna makasih ya.”
“Sampai ketemu bulan depan kak, Sisi kalau selesai praktek langsung pulang, sambil buat tugasnya di Indo saja.”
“Iya, aku tunggu, hati-hati.”
Tot tot tot, telepon terputus tanpaada permisi dari Sisi.
“Anak ini sela..lu, masih belum berubah sifat manjanya.” Luna malah menepuk jidatnya sendiri karena tingkah Sisi.
Karena sudah waktunya makan siang dan urusan skripsi selesai dan hanya menunggu wisuda, Luna hari ini santai di rumah, sahabat-sahabatnya juga belum ada yang membuat gaduh grup wa mereka.
“Bi Ana, Bi Ana buat makan siang apa sekarang? Aku pingin jamur enoki yang dimasak sup seperti biasa Bi.”
“O.., Bu Luna, kebetulan hari ini Bibi masak sup jamur Enoki dengan bahan yang biasa Bu Luna suka, sama lauknya gurami bakar.”
“Ya Allah Bi, kenapa tepat banget, kayak Ibu saja Bi, selalu tau apa yang aku ingin makan.”
“Tidak lah Bu Luna, Ibunya Bu Luna lebih hebat dari pada saya.”
__ADS_1
“Iya Bi, ayo makan Bi, temani aku ya, biar seru makannya.”Luna dengan semangat duduk di kursi tempat makan itu.
“Tidak Bu Luna, nanti saya akan makan dengan Ratih saja.” Bi Ana menyenggol siku Ratih yang baru datang dari menjemur pakaiannya.
“Kalau begitu ayombak Ratih sini makan.”
“Eh maaf Nyonya Luna, eh Bu Luna, bener..bener, nanti kalau makanannya tidak habis biar saya habisin. Aduh!.”
“Aduh.., kenapa bilang seperti itu Ratih.., bikin malu…”
“ya sudah kalau begitu aku makan dulu sajaya, sudah lapar ini.”
“I iya Bu Luna, silahkan.” Bi Ana dan Mbak Ratih tergopoh-gopoh beranjak dari tempat Luna makan.
“hemm.., segar sekali supnya.” beberapa menit, Luna berhasil menghabiskan porsi makan besarnya.
Dia merilekkan perutkan sambil mengelus elus sebentar, kemudian beranjak dari tempat dia makan karena mendengan suara yang tidak asing dari ruang tamu.
“Assalamu’alaikum…” Buru Luna menuju rang tamu sambil membarikan jawaban.
“Mama.., Papa…” Luna salim sama mertua yang datang memberi kejutan padanya.
“Kenapa Mama sama Papa tidak bilang-bilang kalau mau ke sini, kan Luna bisa siap-siap.”
“Mau datang ke rumah anak pakai bilang-bilang, nanti malah bikin repot.”
“ayo duduk pa, kasian Cucu kita, nanti Mamanya kecapean berdiri.”
Pak Hari dan istrinya mengajak duduk Luna kemudian mereka ngobrol tentang keadaan bayi yang dikandung Luna, tentang skripsi Luna, kelulusan Luna dan kapan hari Wisudanya. Canda tawa bersahutan diantara keluarga HJG itu.
“Ha..! sampai capek rahang Mama ini Pa, jadi haus.”
“Eh iya Ma, biar buatkan minuman.”
“E.., mau ke mana kamu, mana Bi ana sama Ratih?”
“Bi Ana Ratih..”
“Iya Nyonya besar, kami di sini.” Bi Ana dan Ratih langsung merapat ke ruang tamu.”
“Iya Nyonya.” Dengan menundukkan Wajahnya Bi Ana dan Ratih menemui Bu Hari dan Pak Hari.
“Buatkan kami Jus ya Bi, Buah Naga ada apa tidak? Sama Nanas.”
“baik Nyonya besar kemarin Ratih habis belanja, tapi kalau Nanas tidak ada, adanya belimbing.”
“O.., ya sudah belimbing sama buah naga saja.”
“baik nyonya.” Bi Ana dan Ratih beranjak dari tempat itu,untuk menyiapkan minuman.
__ADS_1
Bu Hari dan Pak Hari melanjutkan ngobrol dan canda tawa bersama Luna, Luna merasa benar-benar beruntung karena mendapatkan mertua yang sangat baik padanya, tidak ada hal yang membuat Luna merasa tidak nyaman dari Pak Hari dan Bu Hari.
Merasa puas bercanda tawa dengan Luna, serta minuman jus mereka sudah mulai habis, Bu hari mulai merayu Luna untuk keluar belanja keperluan adek bayi, Bu Hari benar-benar ingin memborong perlengkapan bayi special darinya.
“Tapi Ma, menurut Luna perlengkapan untuk anak lahir besok sudah lengkap semua.”
“terus, siapa yang belanja?”
“Mas Arka Ma, kemarin adayang sama Luna, ada yang Mas Arka sendiri yang belanja.”
“Kenapa tidak mengasih kesempatan Mama untuk belanja perlengkapan cucu Mama.”
“Sudah tidak apa lah Ma, masih banyak waktu kalau mau borong kebutuhan Cucu kita.”
“Tapi Pa, Mama kan pingin…”
“Lagian menantu kita sudah payah, nanti malah capek saatpilih-pilih, Mama kalau mau belanja baju belanja besok sama Papa.”
“Papa!bener ya.”
“Iya Papa juga pingin berharga di mata Cucu Papa.”
“Ah..! Papa bisa saja.” Dua Insan yang usianya mulai senja itu saling mendukung, dan Bu Hari merangkul lengan Pak Hari sembari meletakkan kepalanya di pundak Pak Hari.
“Makasih ya Pa.”
“Iya.”
“Kalau begitu Luna kita ajak ke mana Pa?”
“Tanya saja.”
“Nak Luna kita ke mana gitu yuk biar seru.”
“ke gedai sate saja ya Ma.”
“Aduh jangan ke situ tar malah bikin panas, Mama baru pingin santai.”
“kalau begitu ke Warna Warni saja Ma.”
“apa itu Warna Warni, Mama belum pernah berkunjung kayaknya.”
“Iya, itu Resto gitu Ma, tapi yang dijual berbagai macam Es krim sama berbagai minuman, pokoknya nyaman tempatnya, baru dibuka dan Viral.”
“Enak tidak minuman-minumannya?”
“Enak Ma, ada berbagai teh dari berbagai Negara, kemarin Luna sama Mas Arka sudah Nyoba.”
“kayaknya enak.”
__ADS_1