
Arka juga tidak mau ikut campur terlalu dalam tentang sahabat istrinya, hanya saja Arka selalu memantau bagaimana teman-teman istrinya itu.
Waktu terus berlalu, akhirnya keberangkatan rombongan menuju bandara berjalan lancar, semua anggota yang akan ke jawa berkumpul di tempat yang telah di sepakati, Arka dan Luna tidak pernah sedetik pun berjauhan, mereka selalu menempel seperti perangko, sedangkan Rama dan Indah masih malu-malu.
Arka mengkoordinasikan semua orang yang akan turut serta, dia tidak mau ada yang tertinggal atau ada yang terlewat, Arka masih saja mengecek hingga akhir kebarangkatan.
***
Dua jam berlalu, rombongan Arka sudah tiba di bandara terakhir, emua barang sudah cek akhir dan sudah siap semua, karena memang semua sudah di persiapkan, rombongan naik mobil travel, sedangkan Arka dan Luna naik mobil yang di kemudikan oleh Alex, Alex benar-benar siaga karena bosnya mau melihat hasil kinerjanya selama ini.
“Selamat datang Pak Arka dan nyonya,” Alex memberi sambutan hangat pada Bosnya itu.
“Iya terimakasih,” Arka menjawab ucapan Alex, sedangkan Luna masih diam saja.
Semua rombongan berangkat menuju kampung kelahiran Luna, Arka yang menyangka Luna akan bahagia, ternyata malah terlihat tidak terlalu semangat dan terlihat agak lemas.
“Sayangku, kenapa diam saja, bukankah hari ini hari yang sangat dinantikan oleh sayangku.?”
Luna masih diam saja, Arka melihat sepertinya istrinya itu sedang menahan sesuatu atau mungkin seperti orang mabuk kendaraan.
“Sayang.., Luna kenapa diam saja?”
“Apa yang terjadi Pak? Apa nyonya sedang sakit?”
“Sepertinya tadi pagi baik-baik saja tidak sakit.” Arka menjawab pertanyaan Alex.
“Apa nyonya mabuk kendaraan.”
Pada saat rombongan sudah agak jauh meninggalkan mobil Alex, Arka malah meminta Alex untuk berhenti di tepi jalan yang agak sepi, Arka bermaksud mengajak Luna untuk keluar mobil agar mendapatkan udara segar.
Alex pun menuruti titah atasannya itu, dia menepikan mobilnya di tempat yang agak sepi demi menghindari kendaraan yang lain, ketika berhenti Arka mengajak istrinya keluar dari mobil dan memapahnya.
“Ayo hirup udara bebas, tidak apa di sini area persawahan jadi agak segar.” Arka mengajak istrinya untuk lebih rileks.
“Huek huekkk,” Luna yang terlihat lemas malah muntah di depan Arka, untung tidak mengenai baju dua sejoli itu.
“Alex cepat ambil air mineral.”
__ADS_1
Alex bergegas mengambil air mineral yang ada di dalam mobil.
“Sudah Mas.., Luna merasa lebih segar, mungkin Luna agak sedikit mabuk kendaraan.”
Arka tidak punya firasat apa pun, dia memahami kalau istrinya benar sedang mabuk kendaraan.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan Mas, nanti malah kita tertinggal jauh dari rombongan.”
“Tapi sayangku yakin badannya sudah pulih.”
“Iya, Luna sudah segar kok, apalagi tadi habis muntah, kepala Luna sudah tidak pusing lagi.”
“Baiklah kalau begitu, kita lanjutkan perjalan, Alex ayo kita berangkat.”
“Baik Pak.”
Mereka melanjutkan perjalanan karena masih sekitar 2 jam lagi, Luna sudah terlihat lebih segar, dan antusias melihat keluar dari jendela mobil, Arka pun tersenyum melihat senyuman istrinya lagi.
“Masih kurang berapa lam lagi Alex kita sampai?”
“Dua jam lagi Pak.”
“Iya lumanyan jauh,” sambil terus fokus menyetir Alex tetap selalu siaga.
***
Doni karena dia berniat menggagalkan semua usaha Arka, dia pun ikut datang ke Bromo atau ke tempat di mana orang suruhannya mencari semua kabar tentang proyek yang dilakukan Arka untuk mertuanya.
Tapi Doni salah, dia tidak tau kalau ada dua tempat yang memang sengaja di bangun untuk mengecoh siapa pun yang ingin menggagalkan usaha Arka, dan Doni terkena imbas atas perbuatannya sendiri dia tidak mengira kalau tempat yang akan di datangi adalah tempat yang salah.
Lepas dari pantauan Doni, orang kepercayaan Doni hanya bersenang-senang dengan uang yang diberikan padanya, dan Doni pun percaya begitu saja pada orang itu.
***
Di lain tempat, rombongan Arka yang terdiri dari petugas medis, Ahli koki Bu Imah, dan Arsitek villa yang di bangun oleh Arka, sudah hampir sampai di kawasan kampung halaman Luna, dalam rombongan, mereka semua mengagumi pesona pegunungan yang ada di sisi kanan dan kiri kendaraan yang mereka kendarai.
Indah dan Rama yang jarang sekali berlibur ke pegunungan, nampak begitu kagum di setiap pemandangan yang di lihatnya.
__ADS_1
“Bu.., kenapa Bu Imah pergi merantau ke kota? Padahal di gunung begitu asri dan tenang?” Rama bertanya pada Bu Imah yang kebetulan satu mobil dengannya.
“Iya Mas Rama, di kampung kami udara dan suasana begitu indah, tapi tidak seindah ekonomi kami.”
“Maafkan kami Bu.., jika kami mengingatkat Bu Imah pada perjuangan Bu Imah dan Luna.” Rama minta maaf ke Bu Imah.
“Tidak apa, kalau tidak begitu, mungkin Luna juga tidak akan menikah dengan nak Arka,” Bu Imah tersenyum kepada Rama dan Indah.
“Kira-kira berapa jam lagi kita sampai ya Bu?” Indah bertanya pada Bu Imah.
“Sekitar 30 menit lagi kita sampai, tapi Ibu dari tadi belum melihat mobil nak Arka sama Luna ya.”
“Tenang Bu, kalau sama Alex dan Arka semua pasti akan aman,” Rama meyakinkan Bu Imah supaya tidak cemas.
“Iya ya, Ibu sedikit hawatir.” Bu Imah menarik nafas panjang mencoba merilekskan kekhawatirannya.
Mobil terus berjalan, dan sampailah rombongan di tempat tujuan, semua keluar dari kendaraan seraya menarik nafas dan meregangkan otot-otot mereka yang menegang, tidak ada respon kesedihan diantara semua rombongan, semua begitu senang dan gembira, apalagi melihat suasana alam yang begitu mempesona.
“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga,” salah satu orang yang ikut dalam rombongan begitu berucap dengan penuh kebahagian, karena kebetulan ada yang membawa serta keluarganya.
Semua orang di ajak berkumpul di depan villa yang masih sepi, hanya ada beberapa petugas yang menjaga villa tersebut, Iya itu villa baru yang di bangun dengan pengawasa Alex orang kepercayaan Arka yang di tugaskan untuk menyelesaikan misi di Bromo.
Sesuai janji Arka dulu, Arka membangun Villa di Bromo, klinik kesehatan Ibu dan Bayi, serta membangun Resto atau mungkin bisa dikatakan Restoran sederhana untuk para wisatawan Bromo.
Villa yang tidak terlalu megah, tapi bangunannya unik, Restoran tidak terlalu mewah tapi punya ciri khas, dan klinik kesehatan yang terbilang kecil, tapi dengan alat berkualitas dan Dokter serta perawat yang juga akan di seleksi Arka selama beberapa hari di Bromo ini.
Selang beberapa menit, mobil Alex yang dikendarai Arka dan Luna sudah datang, Arka keluar mobil dan buru-buru membukakan pintu untuk istri kesayangnnya.
“Luna bisa turun sendiri Mas..”
Orang yang melihat tingkah Bos mereka tersenyum, dan merasa kagum, sekali pun Arka orang yang sangat berkelas, sikap dan ketaatan beribadahnya serta sayang sama keluarga juga orang di sekitarnya tidak usah diragukan lagi.
“Kenapa kalian masih di luar, ayo cepat masuk, Alex suruh orang orang mu menunjukkan kamar mereka, Insya Allah semua rombongan akan istirahat di Villa ini.”
Alex bergegas mengarahkan semua anggota untuk mengantarkan semua romongan ke tempat istirahat mereka.
“Mas.., Mas kapan menyiapakan semua ini, sudah dapat Villa untuk menginap juga.” Luna bertanya pada Arka.
__ADS_1
“Sudah kita istriahat dulu, besok tau sendiri.” Arka mengajak Luna masuk ke kamarnya, yang sebelumnya sudah mengantarkan Bu Imah ke kamarnya lebih dulu.
Author sangat berterimakasih atas like dan vote dari kalian semua Readers..emmua