RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 35


__ADS_3

Semua serentak menjawab Dokter Zaki yang memberikan penegasan bahwa perkuliahan akan dimulai. Tidak terasa karena begitu terlena dengan gaya mengajar Dokter Zaki yang sangat menyenangkan dan caranya yang begitu mudah dipahami kala menyampakaikan materi tentang gizi, semakin membuat mahasiswi pada klepek-klepek, tidak tau mereka suka materinya apa suka sama Pak Dosennya. Benar! tidak terasa matkul yang diampu Dokter Zaki cepat selesai dengan ditandai bel jam ke tiga sudah berbunyi.


Karena matkul sudah selesai, Dokter Zaki pamit dan keluar dari ruangan itu, tak pelak semua mahasiswi mengekpresikan kesenangannya karena di ajar Dokter ganteng single, ada yang jingkrak-jingkrak kecil, ada yang teriak gemes, ada juga yang gigit bibir, benar-benar jujur mengidolakan Dokter Zaki, sedangkan Lia, Luna, Indah dan Mira, diam dan keluar dari ruangan tersebut.


“Na, itu Pak Dosen bukanya teman dari suami lo, gue ingat pas lo nabrak suami lo yang pertama kali, dan sekarang gue tidak tau kalian sudah tabrakan berapa kali wakakak.”


“Dasar lo ya Mir.., tabrak tabrak maksud lo apa?” Lia gemes sama Mira sedangkan Indah dan Luna berjalan tenang bersama mereka.


“Iy mir, emang kenapa to?” Indah berupaya menjawab seadanya dengan kicauan Mira.


“Tidak apa sih, tapi ngomong-ngomong kenapa kalian tidak antusias dengan Dosen ganteng itu? Kalau gue sih sanggup jika diminta jadi istrinya.., wau betapa senangnyadiri ini.”


“Dasar lo ya, kayak tidak ada orang lain saja, Dosen juga digebet.” Lia meledek Mira.


“Emang kenapa sih, dia masih single kan jadi bebas suka dong.”


“Sudah-sudah, jadi tidak kita ke Mall?” Indah mencairkan gerilya lia dan Mira.


“Eh jadi dong, gue sudah ijin bokab yokab gue, rugi kalau tidak jadi,” Lia menjawab Indah.


Mereka masih asyik berjalan di lorong gedung kampus itu, tidak lama mereka sudah samapi halaman.


“Na, kamu jadi ikut kita ke Mall tidak, kalau iya ayo berangkat sekarang,” Indah bertanya ke Luna.


“Em.., maaf ya, aku belum bisa ikut kalian dulu, karena tadi aku sudah ada janji sama mas Arka jam 12.00 mau dijemput.”


“O..,” ketika sahabatnya menjawab serentak tanpa komando.


“Ok deh Na, kita bertiga ke Mall duluya, apa perlu kita tunggu sampai suami lo jemput, itung-itung mungkin aku bisa liat suami lo yang terkenal dan ganteng itu.”


“Tu kan Mira.., malu-maluin deh jujur banget sih lo, dosa juga suka sama suami orang.” Lia sewot ke Mira.


“Hehehehe iya iya, kita berangkat dulu ya, maaf tidak bisa menemani lo menunggu suami lo, kapan-kapan kita boleh ya izin main ke rumah baru lo, bilang sama suami lo dulu tapi ya.”


“Mira..”

__ADS_1


“Tidak apa lagi Li..,” Mira tersenyum pada ke dua sahabatnya itu.


Sahabat Luna itu pergi menjauh dari pandangan Luna yang sendiri menunggu Arka. Dari kejauhan Dokter Zaki yang melihat Luna berdiri sendiri buru-buru mendekati Luna.


“Sendirian?”


“Iy.”


“Pulang sama siapa?”


“Em.., Dokter, mau di jemput Mas Arka Dok, mungkin agak telat, tadi bilang ada rapat, tapi diusahain jemput tepat waktu.”


“O..,”


“Ehem,” suara deheman terdengar dari belakang Dokter Zaki dan Luna. Mereka pun menoleh kebelakang, dan yang dilihat adalah orang yang di tunggu Luna.


“Kamu ngapain di sini Ki?”


“Hemm Lo rupanya.”


“Mas Arka, kapan datang Luna kok tidak tau,”


Saking senangnya Luna berlari seperti anak Tk yang di jemput orang tuanya dia langsung memeluk lengan kanan Arka.


Sialan sahabat gue ini, emang gue mau naksir bininya apa? Gayanya pakai nyindir-nyindir suka istri orang, dasar si over cemburuan, Dokter Zaki berbicara dalam hati.


Tapi memang tidak bisa dipungkiri kalau pesona Luna sangat luar biasa, hingga Dokter Zaki juga hampir punya rasa pada Luna. Tapi karena selalu di dahului oleh sahabat karibnya, dia sering mengalah begitu juga dengan orang yang dia taksir semenjak di bangku SMA dulu. Hingga pada detik ini dia belum juga menemukan pasangan hidup, karena sering kali gadis yang mau dia kasih hati, hatinya sudah diambil duluan sama Arka.


“Kamu mau apa di kampus?” Arka sok mengintrogasi Dokter Zaki.


“Mas Arka.., yang sopan dikit dong.., itu Dosennya Luna,” Luna berbisik di telingan Arka.


“Apa? kamu ke sini jadi Dosennya istri aku, Selamat selamat sobat! kamu luar biasa.” Arka menepuk pundak Dokter Zaki sambil pergi meninggalkan sahabatnya itu dengan menggandeng tangan Luna erat.


“Kita pergi dulu ya.”

__ADS_1


Arka yang sifat aslinya sangat pencemburu benar-benar tidak bisa menyembunyikan ketidak nyamanannya ketika Dokter Zaki mendekati Luna walau hanya sebatas menyapa.


Dokter Zaki melihat kepergian gadis yang hampir saja mengambil hatinya tapi gagal dan Arka suaminya yang sangat pencemburu ketika benar-benar mencintai seseorang menggandeng tangannya dan membukakan pintu mobil untuk istrinya itu, mobil pun meluncur pergi dari pandangan Doker Zaki yang masih mematung ditempat berdirinya Luna tadi, dia meremas rambutnya dan berbalik berjalan menuju parkiran tempat mobilnya berada, dia berjanji pada dirinya sendiri, benih rasa di hatinya untuk Luna harus dihapus dengan bersih.


***


Di dalam mobil, Arka yang masih merasa cemburu dengan Dokter Zaki memutar Radio dengan keras, sedangkan Luna yang peka dengan gelagat suaminya mengecilkan volume radio, kemudian tanpa disadari Arka, ciuman hangat bibir Luna mendarat dipipi kirinya. Seketika wajah Arka memerah karena ada daya listrik yang masuk ke saraf saraf tubuhnya. Berangsur-angsur Arka mulai rileks.


“Lain kali jangan dekat laki-laki selain suamimu, kalau tidak, aku akan menggigitmu kecil-kecil sampai merah kalau masih belum peka aku langsung ajak buat dedek di dalam mobil.”


“Apaan sih Mas.., kayak anak TK saat jajannya di minta teman tanpa izin saja, pakai cemberut yang tidak beralasan.”


“Tapi kamu bukan jajan kamu istriku, kamu mesti tau itu, aku tidak suka kalau istriku dekat dengan laki-laki lain sekali pun itu sahabat ku sendiri.”


“Iy Luna tau, minta maaf ya...”


Arka melajukan mobilnya menuju kantor, dan Luna tidak tau kalau dia di ajak ke kantor.


“Mas ini mau ke mana? Bukannya kita mau pulang.”


Arka tidak menjawab pertanyaan istrinya dia tetap melajukan mobilnya semakin cepat.


Dasar kalau sudah diem kayak gini susah di tebak, bikin penasaran iya pasti, Luna berguman dalam hati. Mereka ahirnya sampai di depan gedung perkantoran yang sangat megah. Arka bergegas turun membukakan pintu untuk Luna, Luna pun keluar mobil lalu di gandeng Arka masuk menuju gedung perusahaan HJG. Mata Luna tidak hentinya melihat kemewahan gedung tersebut, sedangkan suaminya berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun sambil tetap memegang tangan Luna. Luna merasakan ada yang janggal karena banyak pekerja di gedung itu mencuri-curi pandang kepada dirinya dan suaminya.


Lama berjalan naik lift juga sudah, ahirnya mereka masuk ke sebuah ruangan, dan di deretan tiap ruangan yang terbuka semua pekerja atau mungkin karyawan di gedung itu memberi hormat denga membungkukkan badannya pada Arka, sekali pun Arka tidak membalas penghormatan mereka, mereka tetap melakukannya.


Ahirnya Arka membuka pintu ruangan terahir mungkin ini adalah ruangannya, mata Luna benar-benar masih dibuat kagum, yang tadi interior gedung sekarang ruangan yang mungkin milik suaminya.


“Ini ruangan Mas Arka ya?” Luna mencoba tanya, tapi lagi-lagi suaminya masih diam, dan Arka membuka sebuah ruang di dalam ruangan itu.


“Sini, istirahatlah, aku masih ada urusan di perusahaan kalau mau lihat hiburan itu ada Tv. Aku akan pergi sebentar nanti sekitar pukul tiga aku kembali, ini ruang istirahat ku, oy kabari Ibu kalau kamu bersamaku di kantor.”


Jelas sudah jawaban dari suaminya bahwa gedung megah ini adalah milik suaminya, Luna merebahkan tubuhnya di ranjang King size itu, dan tidak lama dia tertidur dengan sangat pulas.


***

__ADS_1


Bintang like vote komennya aku tunggu ya Readers..eemuuh


__ADS_2