
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, Rama yang begitu serius mengerjakan pekerjaanya berusaha merilekskan tubuh dan otot-ototnya yang terasa kaku dan pegal, setelah terasa lebih nyaman Rama mengirim email pada Arka, tentang laporan pekerjaan dan skedul yang siap di bawa ke rumah Pak Hari.
Rama, dia juga mengirim pesan pada Arka agar segera bersiap menuju rumah orang tuanya, karena besok semua harus bersiap terbang ke gunung Bromo dan tidak boleh ada satu orang pun terlambat, karena kalau tidak, mungkin bukan hanya tiket pesawat yang akan hangus, mungkin pekerjaan juga bisa ikut hangus.
***
Di rumah Arka, karena Rama sudah mengirim pesan padanya, dia bersiap berangkat ke rumah orang tuanya, tidak tertinggal pula Luna yang ingin ikut bersama Arka, karena sudah lama mereka memang tidak bersua.
“Kamu sudah siap sayangku?”
“Sudah Mas.”
“Wau kamu cantik sekali.”
“Mas bisa saja.”
“Boleh minta ininya.?” Arka menunjuk bibirnya karena minta kiss Luna.
“Apa an sih Mas, ada ada saja deh.”
“Ayolah sayang..” Lagi lagi Arka mengiba sambil memeluk Luna yang begitu terlihat rapi dan memukau.
“Mas.., jangan Ah.”
“Bolah apa tidak!?”
“Iya iya eeemuuuuah. Sudah..?”
“Belum.!”
“Mas Arka, ini! Eeemuuuah.”
Karena Kiss Luna agak lama, Arka malah bermain sebentar dengan bibir Luna, dilumatnya lembut bibir istrinya yang begitu segar menggoda, karena memang sudah sempurna, sekali pun hanya dikasih lips sedikit, bibir istrinya memang begitu tampak sexi dan menggoda.
Karena Arka melihat Luna yang tidak bisa bernafas, ahirnya melepas pagutan bibirnya, serta mengambil nafas panjang dan dalam.
Di pikiran Arka, kalau tidak akan segera berangkat ke rumah Orang tuanya, dia tidak akan menyudahi aksi yang telah membuat tubuhnya menghangat, sekali pun siang tadi, penyaluran sudah beberapa ronde.
“Mas..,” Luna memanggil Arka dengan manja.
“lihat bibir Luna, terasa agak bengkak karena hisapan dan permainan Mas barusan.”
“Coba lihat.” Arka memegang rahang Luna dengan lembut dan melihat bibir Luna dari sisi kanan, kiri dan depan.
“Hem.., tidak tampak bengkak! Tapi tampak sexi.”
“Mas Arka bisa saja terlalu deh.”
“Siapa suruh cantik-cantik.”
“Ini Luna sudah sederhana Mas..”
__ADS_1
“Iya tau.., sudah tidak usah diributin.”
Arka menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya keluar, karena dandan mereka sudah selesai, mereka tinggal berangkat dan minta izin Bu Imah, karena di rumah sudah ada 2 Asisten rumah tangga, dan 2 pekerja laki-laki yang bertugas merawat taman dan mengerjkan pekerjan rumah yang lain.
Bu Imah yang sudah tidak sendirian lagi ketika di tinggal pergi, tidak lagi kesepian, para pengawal yang dulu sering berjaga juga sudah diminta kembali pada tugas awal mereka. Hanya ada satu satpam yang menjaga rumah juga pusat CCTV.
Bu Imah yang duduk santai di taman, tersenyum melihat putri dan menantunya yang begitu serasi sekali pun usia mereka agak terpaut jauh mendekatinya.
“Kami pergi dulu ya Bu, kalau nanti kami bisa pulang kami usahakan pulang, tapi kalau kami harus menginap nanti Luna akan menghubungi Ibu.”
“Iya tidak apa nak Arka, salam saja untuk Pak Hari dan Bu Hari.”
“Iya Bu.”
“Kita berangkat ya Mama.., hehehe.” Luna pamit sambil menggoda Ibunya dan mencium punggung tangan Bu Imah.
“Kalau masih ada yang perlu disiapkan, mungkin Ibu bisa minta bantuan Bu Ana dan mbak Ratih.”
“Iya, nanti Ibu akan coba periksa apalagi yang perlu Ibu bawa.”
Bu Ana (47) tahun dan mbak Ratih (27) tahun adalah asisten baru Arka dan Luna, mereka diminta bekerja setelah Arka mengajukan kerjasama dengan yayasan legal yang menyalurkan asisten rumah dan sudah mendapat kepercayaan dari para konsumen atas komitmen para pekerjanya.
Arka dan Luna meresa lega dan langsung cocok dengan Bu Ana dan mbak Ratih, karena mereka juga baik dan terlihat mudah bergaul dan adaptasi di rumah baru, sedangkan dua laki laki Pak Ali dan Pak Sule dan satu Pak Sandi (35) tahun atau bertugas sebagai satpam dan menjaga CCTV di Pos satpam.
Karena semua sudah siap Arka dan Luna bergegas menuju mobil lalu pergi meninggalkan rumah mereka, mereka janjian sama Rama di tempat yang sudah di sepakati, tidak ada obrolan saat suami istri itu berada di mobil, Arka fokus menyetir sedangkan Luna sibuk dengan Hp-nya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, agar bisa berangkat bersama Rama, tapi sampai di tempat yang disepakati, Rama masih belum ada di tempat, sehingga Arka pun berangkat lebih dulu, kemudian Arka menyuruh Luna untuk menelepon Rama dengan menggunakan Hp Arka.
“Mas, tadi Kak Rama sudah lebih dulu menunggu, tapi karena kita lama, jadi dia berangkat duluan.”
“O.., hem hem. Kata Rama dia sudah sampai mana?”
“Katanya sudah mau sampai, di rumah Papa.”
“Baiklah.”
Ahirnya Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan lebih, beruntung jalanan agak lengang jadi tidak ada kendala. 45 menit sudah berlalu, Arka dan Luna sudah sampai di rumah orang tuanya, Arka melihat mobil Rama sudah parkir di halaman rumah luas milik Papa.
“Huff..,” Arka keluar dari mobil dan menghirup udara yang begitu penuh dengan masa kecilnya. Tidak lupa Arka berlari kecil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
“Silahkan keluar tuan Ratu.”
“Mas Arka jangan bikin Luna malu ah.”
“Tidak apa lagi. Apa mau di gendong juga?”
Arka mau menggendong Luna tapi di tolak.
“Mas.., jangan.”
“Hem hem! Ini di rumah Papa, bukan di rumah kalian.”
__ADS_1
“Eh Papa.” Arka tersipu malu karena ketahuan Papanya saat dia merayu Luna untuk di gendong.
“Ayo masuk..,” Mama Isti juga keluar menyambut anak semata wayangnya dan menantunya.
“Papa Mama, Arka kangen kalian.”
Arka memeluk Pak Hari dan Bu hari bersamaan, dan Bu Hari membalas dengan mencium pipi Arka, seperti anak TK yang dijemput sekolah oleh Mamanya.
“Ayo masuk nak Luna,” Bu Hari mengajak Luna masuk bersama Arka, yang di dahului dengan bersalaman dan mencium punggung tangan ke dua mertuanya itu.
“Itu Rama, tadi sudah menunggu kalian, tapi kalian katanya agak telat.” Bu Hari memberi penegasan pada Arka.
“Iya Ma. Tadi ada perlu sebentar dan belum sempat mengabari Rama.”
“Sambil kalian ngobrol, Mama sama Luna bikin roti dulu ya, tadi mama bikin Roti pisang.”
Bu Hari mengajak Luna ke dapur menemaninya membuat Roti.
“Nak Luna, sudah ada kabar mau punya Baby belum?” Bu hari berbisik pada Luna.
“Belum Mam.., tapi ini Luna lagi telat 3 hari, tapi belum tau positif apa belum.”
“Loh.., benarkah!? Tapi biasanya pernah telat tidak?”
“Pernah sih Ma...”
“O.., berarti tidak apa-apa sabar dulu ya, Mama juga berlatih sabar saat menunggu Arka ke dunia dulu.”
“Iya, kemarin sempat ke Dokter untuk promil.”
“Terus kata Dokter bagaimana?”
“Em.., kata Dokter..., Kata Dokter..”
“Kata Dokter bagaimana?”
Bu Hari semakin penasaran dengan jawaban Luna yang penuh teka-teki, sambil terus mengaduk adonan untuk membuat Roti pisangnya.
“Itu Ma, kata Dokter kita terlalu sering buat, jadi malah tidak jadi-jadi.”
“Wakakakakak, Bu Hari mendengar jawaban Luna langsung tertawa yang tidak tertahan.”
“hehehe kamu polos sekali jawabnya, ya sudah semoga kalian cepet di kasih momongan.”
Bu Hari masih saja tertawa dan terkekeh mengingat jawaban Luna yang begitu los tidak rewel, sama sekali.
Sedangkan Luna yang melihat Mama mertuanya terkekeh tidak berhenti-berhenti, membuat wajah Luna merah seperti kesemek.
***
Semangat dan selamat membaca Readers tersayang...eemuua
__ADS_1