RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 12


__ADS_3

BAB 12


Luna tersadar dan serius kembali dengan matkul Bu sonya. Semua hening, hanya suara Bu Sonya yang memenuhi ruangan Kosma.


***


Arka, Dokter Zaki dan Rama, menuju tempat yang sudah dijadikan tempat bertemu mereka dengan ahli sketsa Pak John Rata, kebetulan beliau sudah selesai mengisi matkul seni lukis.


Ketika meraka bertemu, suasana akrab langsung terasa karena notabennya Pak John adalah teman akrab Pak Hari ayahnya Arka. Sepertinya yang fokus dan bersemangat bertemu Pak John adalah Arka, sedangkan Rama dan Zaki seperti melamunkan sesuatu.


Rama, kenapa ketika melihat gadis yang jatuh menabrak Arka tadi hatiku terasa bergetar dan..ah mana mungkin aku cemburu, sedangkan kenal saja belum apalagi bertemu dengan teman Lia, sebentar! Apa Lia benar-benar kenal dengan gadis itu, coba nanti aku akan mencari tau apa memang tikus kecil itu kenal dengan gadis tadi? Tapi..siapa ya tadi namanya? Kalau tidak salah dengar namanya Lunya, apa Luna ya ya? Ah..! bikin Kepo saja. Rama sibuk dengan hati kecilnya yang berbicara.


Sedangkan Dokter Zaki, Dia benar-benar kaget ketika melihat wajah Luna, sepertinya Zaki pernah melihat gadis itu, tapi di mana..? Dokter Zaki mencoba untuk mengigat-ingat di mana dia melihat gadis itu, mata bulat lebar sayu itu. Tiba-tiba Arka mengagetkan sekretaris Rama dan Dokter Zaki.


“Hai! Ada apa dengan kalian berdua? Kalian seperti kesambet habis ketemu hantu. Diajak ngobrol rembukan malah ngelamun saja. Kalau tau kalian hanya ngelamun di sini, sudah aku pulangin kalian pakai paket kilat.”


“Apa..?” Rama dan Zaki lama baru merespon reaksi Arka yang emosi gegara mereka melamun tanpa batas.


“Iya Arka, jangan emosi dulu aku sedang mengingat wajah gadis yang menabrakmu tadi, sepertinya aku pernah melihat dan akrab dengan sorot matanya tapi di mana? Aku lupa!” Dokter Zaki mencoba membela diri sekalipun dia juga mengiyakan kalau tertarik dengan gadis yang menabrak Arka sekali pun baru melihat sepintas.


“Terus lo Ram apa yang kamu pikirkan sampai-sampai ikut melamun?’ Arka dengan percaya diri mengintimidasi Rama.


“Jangan-jangan kamu tertarik sama gadis tadi,” Arka menjebak Rama dengan pertanyaan di luar dugaan.

__ADS_1


“Apa sih Lo Ar, aku cuma berpikir apa Lia adikku itu kenal dengan gadis yang kamu tabrak tadi? Kenapa dia memanggil gadis itu dengan sebutan Lunya apa Luna tadi ya.”


“Sudah.., jangan berdebat di sini aku tidak berurusan dengan masalah kalian, urus masalah kalian kalau kalian sudah pergi dari sini,” Pak John menekankan pada mereka.


“Oiy Pak, kami minta maaf jika kami tidak sopan dan sudah membuat Pak John tidak nyaman dengan sikap kami yang ke kanak-kanakkan. Kami datang ke mari karena kami mau minta tolong agar Pak John mau menggambarkan wajah orang yang kami cari, dan kebetulan Dokter Zaki temanku ini pernah melihat wajah orang tersebut,” Arka menjelaskan pada Pak John tentang perihal kedatangnnya.


“Ok kalau begitu, saya akan mencoba menggambar sketsa wajah orang yang kalian cari, kebetulan aku sudah menyiapkan peralatan dan kebetulan di kampus semua alat lukis telah tersedia. Apakah anda sudah siap wahai pemuda?” Pak John sudah memegang alat lukis lengkap dengan kanvas yang bertengger di peyangga.


Dengan cekatan Pak John menggoreskan tiap detail gambaran wajah yang disampaikan oleh Zaki, Arka dan Rama mulai tegang ketika goresan itu mulai sempurna membentuk wajah seorang wanita, yang pada ahirnya wajah wanita pertama menggunakan masker dan wajah wanita ke dua tidak menggunakan masker hanya sama-sama memakai jilbab, dan betapa kagetnya ke tiga sahabat itu, yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa wanita itu adalah gadis yang barusan menabrak Arka, dan siapa sebenarnya wanita itu, ketika sahabat itu saling menatap penuh heran dan terkejut.


Tanpa pikir panjang, Arka sangat berterimakasih pada Pak John karena sudah bersedia menolongnya, mungkin ucapan terimakasih tidak akan cukup, tetapi Pak John juga tidak akan mau jika hasil karyanya dihargai hanya sebatas uang semata. Ahirnya Arka, Rama dan Zaki pamit untuk segera pulang karena hari sudah semakin sore.


***


Di antara ke empat sahabat itu tidak ada yang menemukan kejanggalan di tubuh Luna, sedangkan Luna sendiri juga tidak ada tanda tanda jika di tubuhnya sudah berkembang janin yang usianya sudah menginjak 3 minggu atau dari rentetan proses IUI yang salah sasaran masuk ke dalam rahimnya.


Luna tetap beraktivitas seperti biasa, kuliah, bekerja di butik paruh waktu, serta ke sana kemari naik sepeda motor jika kebetulan ada keperluan yang berkaitan dengan butik tempatnya bekerja, Luna hanya sesekali merasa pusing dan tidak fokus ketika berjalan karena tiba-tiba kapalanya agak berat dan minta untuk istirahat, karena memang tidak pernah berhubungan dengan seorang laki-laki Luna pun tidak mengetahui kalau dia sedang hamil.


***


Setelah keluar dari ruangan Pak John, Arka terus berlari menuju kosma di mana gadis spion, alias gadis yang menabraknya berusan, alias gadis yang mungkin sedang mengandung darah dagingnya, Arka meninggalkan Rama dan Zaki, Rama dan Zaki yang mencoba mengejarnya dan meyakinkan Arka agar tidak terlalu memaksakan diri untuk menemukan gadis di sketsa yang sudah merebut hati dan jiwanya.


Setelah sampai di kosma yang dituju, ternyata semua sudah sepi, hanya hawa dingin kampus yang menerpa kulit sawo matang Arka, sedangkan Rama dan Zaki masih setia menemani Arka yang seperti orang kesetanan. Ahirnya Zaki mencoba memberi nasehat pada Arka, mau diterima atau tidak.

__ADS_1


“Ar, apa tidak sebaiknya kita sudahi dulu pencarian terkait gadis itu, kita cari informasi dulu saja, mungkin adiknya Rama punya no Hp atau apalah itu. Karena tidak menutup kemumkinan kalau gadis itu sahabatnya Lia adiknya Rama, gak gitu Ram?”


“Eh iy, bisa jadi Lia adikku punya no Hp gadis itu Ar, kita sudahi dulu pencarian kita, kita teruskan besok, kita juga butuh istirhat Ar, atau kalau kamu tidak mau berhenti, suruhlah orang untuk menelusuri jejak gadis itu, agar kita bisa istirhat, aku janji aku akan minta info ke adikku perihal gadis yang menabrak lo tadi.”


Arka berhenti sejenak mencoba mencerna kata-kata dua sahabatnya itu, dan ahirnya Arka menarik nafas panjang dan menyudahi reaksi aktif yang dia lakukan demi menemukan gadis yang ada di sketsa.


“Sabar Ar.., kita tau apa yang kamu rasakan, tapi kamu tetap harus tenang, sekali pun kamu sudah menemukan gadis itu, kamu juga tidak boleh gegabah mengatakan pada gadis itu kalau dia adalah gadis yang kamu cari.


Gadis yang mungkin saja mengandung darah dagingmu, andai benar dia mengandung, sedangkan dia belum siap, apa malah tidak membahayakan nyawa anak yang dia kandung, bisa saja dia syok, itu malah lebih bahaya lagi, sekali lagi kamu tetap harus bisa mengedalikan diri walau apa pun yang terjadi kamu tetap harus tenang, apalagi kamu barusan ditinggal oleh Selena, kamu juga mesti menjaga perasaan keluarga Selena,” Dokter Zaki dengan sisa tenaganya berusaha menenangkan Arka.


“Iya Arka, satu lagi kemumkinan bisa saja terjadi, bahwa gadis itu gagal mengandung darah dagingmu, karena aku lihat sepintas ketika dia menabrakmu tadi, dia tidak menunjukkan gadis yang sedang hamil, karena hamil yang pertama, wanita cederung lemas atau tidak bersemangat,” Rama menimpali nasehat yang dilakukan oleh Dokter Zaki.


Ketiga cowok itu terdiam sesaat, sibuk dengan pikiran masing-masing, mereka duduk sembarangan di area kampus yang semakin sepi dan semakin gelap seiring dengan sang surya yang sudah tenggelam di balik mega merah yang merona di atas langit.


Malam semakin datang dan panggilan adzan magrib sudah berkumandang, ahirnya Arka bangkit dari duduknya, dengan kaki gontai dia berusaha tetap berjalan untuk menyambut hari esok yang semoga bersahabat dengan diri dan takdirnya.


***


Ingat Vote, Like dan komennya ya Readers, tinggalkan jejak pada Author agar Author lebih semangat untuk lanjut Bab selanjutnya.


Ini Cash foto viguran Rindu Sang Presdir


Dokter ZAKI

__ADS_1



__ADS_2