RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 44


__ADS_3

Sahabat itu tetap dalam komitmen keluarga dengan berbagai norma yang selalu diterapkan, mereka pulang dalam suasana bahagia.


“Bu.., kita pulang dulu ya, maafkan kami jika bikin rumah gaduh dan berantakan,” semua pamit pada Bu Imah yang sangat hangat menerima mereka.


“Jangan bilang kamu tidak minta jatah sama suami lo hari ini ya, kamu harus segera ML atau malah sudah hehehe,” Lia berbisik dan terkeke sambil pamit pada Luna.


“Kamu ya, awas kalian berdua,” Luna tersenyum dengan wajah yang memerah karena ulah Lia dan Mira. Sedangkan Indah seperti kepo dengan candaan yang dilakukan ke tiga sahabatnya.


“Kalian bahas apa sih, kenapa aku tidak tau.”


“Sudah.., kamu tidak perlu tau sayang, ini urusan kita yang lagi jahil-jahil.” Mira menenangkan Indah yang kepo dengan candaan yang dibuat bersama Luna dan Lia.


Mereka semua ahirnya pulang, tinggal Luna dan Ibu, yang bersiap menyambut datangnya petang, karena memesak pun sudah selesai, Bu Imah dan Luna pergi bersih-bersih diri lalu ngobrol di ruang keluarga, sambil melihat hiburan di Televisi. Entah apa yang di alami Luna dia seperti tidak tenang sekali pun mata dan tubuh melihat Televisi, dirinya terlihat sangat gusar.


***


Di kantor, Arka dan Rama masih mengecek semua laporan yang berkaitan dengan perkembangan bisnis dan kerjasama dengan perusaan lain, Arka dan Rama begitu serius hingga mereka lupa hari semakin petang, tidak ada yang mengirim pesan ke rumah juga tidak ada yang melihat notifikasi Hp masing-masing.


Hari sudah menjelang magrib, Arka dan Rama baru sadar kalau mereka begitu fokus sampai tidak ingat waktu, mereka baru sadar saat adzan terdengar berkumandang, mereka juga tidak mengetahui kalau adzan yang dikumandangkan menandakan magrib tiba.


“Ram, ini adzan apa Ram benar ini adzan magrib?”


“Ya iya ini adzan magrib masak shubuh.”


“Berarti kita sudahi dulu lemburnya, besok kita lanjut lagi.”


“Baiklah.”


“Aku mau langsung pulang, kalau kamu mau pulang silahkan.”


“Ya pulanglah, sampai besok Bos.”


“Ok ok.”


Setelah selesai beres-beres, Rama ke luar dari ruangan Arka, sedangkan Arka yang juga sudah selesai dan bersiap pulang, tapi sebelum ke luar ruangan, Arka melihat Hp, betapa terkejutnya dia melihat 27 panggilan tak terjawab dari Luna, tanpa pikir panjang dia langsung menelepon balik Luna.


“Assalamu’alaikum sayang.”


“wa’alaikum salam. Mas.., Mas di mana saja kenapa telepon Luna tidak diangat sebel deh.”


“Sorry sorry ada apa ada apa? Ini masih di kantor, tapi sudah mau pulang, tunggu sebentar, kalau sayang lapar, makan dulu saja, nanti aku makan setelah sampai rumah.”


“Tidak mau, Luna lapar, tapi tidak mau makan nasi, tapi mau makan Mas Arka.”


“Apa?” Arka berpikir sejenak dengan ucapan Luna yang mau memakan dirinya.


“Sudah-sudah aku pulang sekarang, tunggu ya.”

__ADS_1


Arka pun bergegas pulang, dia pamit pada Rama yang masih beres-beres di ruangannya.


“Aku pulang dulu Ram, sorry aku tidak bisa menunggu.”


“Ok, hati-hati.”


Arka berlalu, 10 menit kemudian dia sudah sampai di tempat mobilnya berada, dia pun segera melajukan mobilnya, saat melihat jalanan yang agak lengang membuat Arka melajukan mobilnya, yang ada dipikirannya hanya kata-kata Luna yang ingin segera memakannya, Arka agak curiga, tidak biasannya istrinya bercanda sampai pada hal yang mengarah pada sesuatu yang tidak mungkin.


***


Di rumah Luna, dia sibuk mencari kegiatan untuk mengusir rasa yang meronta entah rasa apa itu, dia menyibukkan diri bercanda dengan group macasawnya.


Luna: Hai kalian sibuk apa, Mas Arka belum datang ni.., rasanya tidak enak ya, menunggu


Mira: Apa? Masak jam segini belum pulang, jangan-jangan..


Lia: Om Arka bukan orang seperti itu Mir, dia orangnya setia banget.


Mira: Hai Lia sayang.., kata-kata jangan-jangan dari gue tidak harus dimaknai yang negatif dulu, gue mau bilang, jangan-jangan mau beli suplemen, biar bisa ngimbangin Luna, kekekekke


Luna: Hek! Apaan sih,, awas kalian selalu godain aku.


Lia: tenang Na, kalau ga gitu kita semua juga tidak akan saling melengkapi. Benar kan Mir.


Mira: Iya setubuh, eh se7 maksud gue.wakwkwkw


Mira: Eh teteh Iin udah muncul.


Indah: Kalian bahas apa sih, awas kalian nyelingkuhin aku.


Lia: Bukan nyelingkuhin, tapi menjauhkan lo dari virus resek, pokoknya biar Lo tidak terkontaminasi sama hal yang gituan.


Indah: Apaan sih, aku kan udah dewasa.


Mira: Tanya sama yang sudah pernah praktek tu, mana Luna, Na.., mana batang hidung Lo, ini teteh Indah mau privat.


Luna: Aku masih sama kalian.


Lia: Nah Teteh Indah, tu yang sudah pernah praktek udah muncul, Na.., teteh Indah minta privat tu.


Luna: Sabar ya Indah sayang.., kamu nunggu punya pasangan dulu, lalu baru praktek.


Indah: Apaan sih kalian, awas ya.


Lia: wwakakaka katanya kepo, udah dikasih kisi-kisi malah kabur.


Luna: Eh udah dulu ya, Mas Arka udah datang.

__ADS_1


Mira: wakakaka siap tempur sobat.


Lia: Ingat doa dulu sebelum nyicil. kekekeke.


Keramaian di grup wa berlalu dengan off nya Luna, tidak ada bahasan lagi semua juga ikut off dan melanjutkan aktivitas masing-masing.


Sedangkan Luna menyambut Arka yang baru datang membuat Arka merasa ada yang janggal, tidak seperti malam-malam biasa, malam ini istrinya lebih perhatian dan sangat bersemangat menyambut kedatangannya dari kantor padahal biasanya sikap pemalu dan sok cuek begitu kental.


“Bagaimana teman-temanmu tadi sayang, jadi datang kesini tidak?”


“Jadi, semua sudah ke sini, Indah, Mira, Lia, semua datang naik motor, pukul 14.30 datang, terus pulang pukul 16.30 pulang, tadinya mau lama sih.., tapi keburu malem, mereka pulang deh.”


“O.., tapi tumben sayangku masuk ke kamarku, apa sudah siap pindah kamar bersamaku.”


“E.., bukan, Luna Cuma ngikuti Mas Arka saja, kenapa pulangnya telat, biasanya pukul 4 sore sudah datang.”


“Iya, tadi nerusin kerjaan dikit, udah makan belum, katanya tadi tidak mau makan nasi, katanya mau makan aku.” Arka mendekati Luna sambil merangkul pinggang Luna dan di jatuhkan ke badannya.


“Bener mau memakanku,” Luna yang diperlakukan Arka seperti itu, malah pasang wajah tegang dengan muka jadi merah jambu.


“A.., Mas Arka, sana mandi dulu, Luna mau makan.”


“Tidak. Kita makan nasi nanti saja.”


Tanpa minta izin Luna Arka menggendong Luna ke kamar mandi, dengan sikap malunya, Luna mencoba berontak dari gendongan Arka tapi Arka tidak memberi kesempatan lagi, ahirnya mereka mengulang kejadian yang kemarin dengan membersihkan badan bersama di kamar mandi.


Tidak ada penolakan yang berarti dari Luna, malah Arka agak penasaran kenapa istrinya begitu agresif, biasanya yang menjadi pemegang kendali adalah dirinya, tapi sekarang dia hampir kewalahan mengimbangi istri kesayangannya.


Pada saat Luna yang hampir kehilangan kendali bersama suaminya, tiba-tiba terdengar suara Bu Imah yang memanggil Luna berkali-kali, karena tidak ada jawaban dari Luna, dan sudah mencari di beberapa ruangan, ahirnya berinisiatif untuk menanyakan Arka, Bu Imah pun mengetuk pintu kamar Arka dan memanggil dengan keras.


“Nak Arka, di mana kamu, buka pintunya nak.., tadi aku lihat kamu sudah datang, aku mencari Luna, tapi aku panggil panggil kok tidak ada, Ibu hawatir.”


Luna dan Arka yang begitu dibalut hawa panas, tetap saja meneruskan aksi yang sulit diredakan itu, tapi karena Bu Imah memanggil berulang-ulang ahirnya Arka dengan frustasi memisahkan diri dari Luna, lalu memakai handuk dan menemui Ibu mertuanya.


“Iya Ibu ada yang bisa Arka bantu,” sambil memakai handuk Arka membuka pintu kamarnya.


“Nak Arka tahu Luna tidak? Ibu hawatir, sudah Ibu cari ke setiap ruangan tapi tidak ada juga.”


“O..Luna, Luna ada di sini Ibu, dia sedang menyetrika di kamar mandi.”


“O.., ya sudah kalau begitu, Ibu hawatir dipanggil-panggil kok tidak ada jawaban, Ya sudah Ibu tadi sudah makan, kalian segera makan, Ibu mau ke kamar dulu.”


“Iya Ibu terimakasih.”


***


Bagaimana sayang sayang.., ada yang gemes dengan aksi Ibu mertua Mas Arka, tidak apa, nama saja seorang Ibu, pasti hawatir..

__ADS_1


ingat likenya ya.., duh..Author penasaran kelanjutannya deh


__ADS_2