
Hamil.....?
Laura tidak menjawab. Dia hanya diam memeperhatikan bagaimana reaksi dari atasannya yang tidak begitu tegas menurutnya. Laura merasa pria didepannya sangat mudah disentuh. Dan tentu saja ini bagus. Dia akan melihat bagaimana menderitanya Alice.
"Kita melakukannya sekali, aku yakin tidak akan terjadi". Dia mengingat pernikahannya yang sudah hampir dua tahun dan Alice belum hamil kemungkin dia bermasalah atau Alice. Dia tidak tahu.
"Saya hanya takut". Ujar Laura memainkan kancing jas Calvin.
"Gugurkan". Jawabnya santai
"Tapi..Tuan, dia darah dagingmu kau tega menghilangkannya?
Seketika Calvin berfikir, dia memang menginginkan anak, tetapi hanya dari istrinya Alice. Lalu bagaimana jika Alice tidak hamil?
"Laura dengar, benihku tidak akan tumbuh. Bukankah kau sendiri yang mengatakan waktu itu kalau kau sudah meminum pil pencegah kehamilan?
"Maaf .." kata Laura menunduk menampilkan wajah bersalah tentu saja dia hanya berpura-pura
"Kau meminumnya kan?
"Sa-saya..maafkan saya Tuan waktu itu saya berbohong telah meminumnya".
Sontak saja membuat Calvin sangat terkejut, dia berdiri dan membuat Laura hampir terjatuh untung saja wanita itu tahu cara berdiri dengan cepat.
"Kau berbohong? Kenapa?" Bentaknya membuat Laura kaget.
"Karena saya menyukai Tuan". Jawabnya enteng. Laura masih menunduk berpura-pura takut
"Dengarkan aku, Kau sudah seperti adik untukku karena aku menganggap Luke sudah seperti saudara". Dia memegang bahu Laura dan sedikit membungkuk.
"Kapan jadwalnya?" maksud Calvin kapan Laura akan datang bulan.
__ADS_1
"Sebenarnya hari ini, tetapi...-"
"Baiklah, sekarang tunggu". Calvin meraih ponselnga dan menghubungi seseorang. Beberapa menit menunggu akhirnya orang yang tadi di hubungi sudah masuk dalam ruangan. Menyodorkan plastik hitam. Kemudian pergi.
"Saya tidak ingin meminumnya Tuan". Laura sudah didudukkan di sofa dengan Calvin tepat diatasnya memegang dagunya kasar.
"Buka mulutmu dan telan". Karena kekuatan Calvin sangat besar, tidak ada yang bisa Laura lakukan selain membuka mulut dan tertelanlah dua buah pil. Ya Calvin sengaja meminumkan dua untuk mencegah hal yang tidak baik dibelakang.
"Kenapa Tuan sangat kejam". Laura mengeluarkan isakan palsu.
"Ck, aku hanya ingin anak dari istriku Alice, bukan dari wanita lain". Calvin berdecak kesal.
"Tapi bagaimana kakau Nyonya ternyata tidak bisa hamil? Bukankah Tuan membutuhkan seorang anak?". Mendengar itu Calvin kembali diam, sepertinya Laura sudah berhasil mengusiknya dengan topik ini.
"Tuan.. Kau tidak perlu menikahiku jika kau memang tidak ingin menggantikan posisi Nyonya. Aku hanya ingin memberikan anak....". Laura yang melihat Calvin hanya diam, tersenyum licik, dia melangkah mendekati Calvin yang membelakanginya dan memeluknya dari belakang. Menempelkan wajahnya pada punggung lebar itu.
"Tuan..saya sudah menyukai Tuan sejak pertama kali saya bekerja, tapi saya tahu saya tidak akan bisa masuk dalam kehidupan pribadi Tuan karena sudah ada Nyonya Alice.
"Sudah cukup, jangan pernah membahas hal itu lagi". Calvin melepaskan tangan Laura dan melangkah kembali ke kursinya.
"Kembalilah ke ruanganmu, aku akan memanggilmu jika membutuhkan sesuatu". Ucapnya yang lansung diangguki oleh Laura.
Setelah pintu tertutup, Calvin menyugar kasar rambutnya. Dia memikirkan bagaimana jika Alice tidak bisa memberikannya keturunan. Sedangkan pernikahannya dengan Alice sudah di ujung perpisahan. Apakah sebaiknya mereka akan berpisah saja?
Memikirkan itu Calvin sangat kesal. Saat istrinya sudah menerimanya sebagai suami. Masalah datang dengan kehadiran Laura. Dan sekarang disaat mereka akan berpisah. Calvin menyadari sangat menginginkan penerus.
"Kenapa begitu rumit". dia berdiri dan meninju udara...
Sekitar jam lima sore di kota bagian timur, Wanita cantik bertubuh tinggi dan langsing turun dari mobil berwana hitam dan terparkir disebuah mansion besar. Alice menggunakan blues warna putih dengan potongan leher berbenruk V serta celana kain berwana senada, membuatnya semakin bersinar dengan rambut yang di ikat sebagian, dan sebagiannya dia biarkan didepan telinga.
Beberapa pengawal membungkuk menyambut Nona mereka, Kakinya terus melangkah kedalam mansion, Lauren kepala pelayang sudah menyambut dan membawa Nona mereka kekamar utama. Yah walaupun Alice tidak tinggal bersama mereka pelayanan mereka akan tetap sama, bagaimanapun mansion ini tetaplah rumah Alice.
__ADS_1
"Dia mengambil ponselnya di saku celana yang sejak tadi terus bergetar "Bagaimana? Apakah sudah ada yang bisa kalian temukan?" tanyanya..
"(......)
"Baiklah, teruskan kerja kalian dan ingat jangan sampai ada yang curiga". Setelah mengatakan itu Alice menutup panggilan dan meletakkan ponselnya diatas nakes. Dia turun setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan pakaian santai. Dia menggunakan baju big size menutupi perutnya yang sudah terlihat sedikit menonjol jika diperhatikan.
"Dimana Ayah?" Tanyanya pada Lauren yang sedang menata makanan diatas meja. Wanita paruh baya itu tersenyum sebelum menjawab.
"Tuan keluar bersa-".
Belum selesai dia menyelesaikan Tuan Thomas sudah muncul dengan seseorang dibelakangnya pria bertubuh tinggi tegab, dan seorang lagi disampingnya seorang wanita berkulit putih dengan rambut kecoklatan.
"Sayang, kapan kau tiba". Thomas memeluk putri angkatnya dan mencium pucuk kepala Alice dengan sayang, sementara Alice hanya memandang ke arah pria disamping ayah angkatnya. Dia masih terkejut.
"Kak Edgar..". Satu kata dari Alice membuat hati Edgar menghangat, dia merekahkan senyum terindahnya. Dia ingin sekali memeluk wanita didepannya , namun dia mengingat bahwa mereka tidaklah terlaku akrab. Jadi dia menahannya.
Sedangkan Arabella yang sejak tadi terpana dengan sosok dewi didepannya tidak bisa berkedip. Dia merasa iri karena ada wanita yang kecantikannya sangat luar biasa.
Tampa aba-aba Alice langsung memeluk Edgar. Tidak terasa dari ujung matanya mengeluarkan air. Entah Alice tidak mengerti kenapa disaat melihat Edgar tadi jantungnya berdebar sangat kencang, dan berasa dalam pelukan pria ini membuatnya sangat tenang. Tidak pernah dia setenang ini sebelumnya. Bersama Calvin suaminya. Dia nyaman tetapi seperti ada batu yang menghalangi hati mereka untuk menyatu. Entah itu apa.
"Oh maafkan aku, aku memeluk kekasih seseorang". Alice melepas pelukannya dan tertawa menghilangkan kecanggungannya karena menyadari ada kekasih Edgar disana.
"Kenalkan aku Alice". Alice memeluk Arabella yang sangat cantik baginya. Menuntunya duduk untuk makan bersama.
"Saya hanya asistennya Tuan Edgar, Anda salah faham Nona". Arabella mengatakan itu dengan kekehan kecil walau sebenarnya dia sangat terluka sekarang. Melihat bagaima cantiknya Alice, dan bagaimana tatapan memuja Edgar. Arabella merasa semakin kecil.
"Ck, tenang saja dia akan melamarmu, karena tidak mungkin pria kaku ini membawa wanita melewati negara ke negara lain kalau kau tidak spesial baginya".
Arabebella hanya tersenyum kecil dia juga berharap seperti itu, dia melirik ke atasannya yang terus saja melihat Alice tampa berkedip. Menyadari itu Arabella kembali kecewa.
Setelah makan siang yang mendekati makan malam Alice kembali ke kamarnya dia sangat lelah. Dan besok pagi dia harus ke perusahaan miliknya. Sebelum dia mendengar suara pintunya diketuk seseorang.
__ADS_1
Dengan malas dia mendekat ke pintu dan mengerutkan kening melihat siapa yang berdiri disana.