Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Aku Suka Kau Menganggapku Suami


__ADS_3

Laura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, baru kali ini dia salah tingkah karena ucapan anak kecil, mwnghela napas pelan lalu dia duduk di sebelah Orlando, bersandar juga.


"Berapa usiamu?" tanya Laura sambil menoel pipi gembul Orlando.


"4 kurang. Bibi, jangan menoelku seperti itu, aku bukan anak kecil." Laura sampai terbelalak, kemudian kembali tertawa.


"Oh, ya ampun, kau sangat lucu sekali sayang." Laura mencium gemas Orlando, dan anak itu diam saja tidak merasa terancam sama sekali.


"Laura, kau sudah makan?"


Laura menoleh ke belakang, melihat Calvin tang masih berdiri dengan tangan bersedekap di dada, Laura langsung teringat dengan tujuannya datang.


"Kita makan diluar saja bagaimana? Kau mau, 'kan sayang?" tanyanya pada Orlando.


"Terserah Daddy saja."


Setelah menimbang, akhirnya Calvin mengiyakan, dia akan menghabiskan waktu diluar bermain dengan anaknya. Calvin bersiap beberapa menit setelah itu kekuar dengan penampilan yang selalu terlihat sempurna dimata Laura.


"Alice datang menemui, Tuan?"


"Hem, bersama suaminya." jawab Calvin, saat ini mereka sudah berada dipusat perbelanjaan sama-sama menatap Orlando yang bermain sendiri dengan riangnya.


Calvin tadinya mau menemani, tetapi anak pintar itu lebih suka melihat ayahnya duduk bersama wanita yang mengaku neneknya.


Sungguh senang memiliki nenek secantik Laura.

__ADS_1


Laura memperhatikan lamat atasannya, bibir tersenyum tetapi sorot mata Calvin tersirat luka dan penyesalan mendalam disana. Sayang sekali karena Alice tidak bisa menunggu dan kembali padanya. Tapi Alice juga tidak bisa di salahkan, terlalu lama dikhianati oleh pria yang tidak mencintainya juga sangat melelahkan. Alice butuh bahagia setelah apa yang di alaminya selama ini, begitupun juga dengan Calvin, keluar dari masa lalunya harus segera dilakukannya.


"Tuan baik-baik saja?" pertanyaan bodoh, jika dilihat jelas Calvin tidak baik-baik saja, tetapi dia harus bagaimana? Semua sudah terlambat, Alice sidah memilih bersama cinta pertamanya.


"Hem, aku baik-baik saja, dia memang harus bahagia."


"Saya berdo'a semoga Tuhan juga memberi kebahagiaan itu pada Tuan." ucap Laura tulus.


Calvin hanya mengangguk, tatapannya tidak pernah lepas dari anaknya, dia bersyukur Alice masih memberikannya kebahagiaan lain, yaitu bisa bersama Orlando.


"Daddy, Bibi .. Kemarilah, kita bermain bersama." teriak Orlando pada kedua orang yang sejak tadi menatapnya sayang.


"Dia manis sekali, sama seperti Tuan." mata Laura membelalak saat tidak sadar mulut harus memuji Calvin terang-terangan.


"Tuan, anggap Anda tidak mendengar apapun." Laura memalingkan wajah karena malu.


Alice melerai pelukannya, "Hem, kakak senang?"


Edgar mengangguk, "Sangat, sangat senang sayang, terima kasih." Edgar mengangkat Alice dengan sangat hati-hati, mulai hari ini dia akan berjanji akan menjaga orang-orang tersayangnya.


"Bagaimana resepsinya? Bagaimana kalau kita batalkan saja? Aku tidak ingin kau kelelahan."


Alice menggeleng, "Kita akan tetap melakukannya, semua orang harus melihat bagaimana tampannya suamiku." Puji Alice berbinar.


Edgar yang mendengar itu terharu, "Aku suka kau menganggapku suami, selama ini, kata itu terus aku tunggu tapi kau selalu saja enggan mengatakannya."

__ADS_1


Alice terkekeh, "Maafkan aku."


Edgar berdecak, "Semua tidak ada yang gratis sayang, kau harus mendapatkan hukuman." Edgar mendekat ingin menyerang Alice tetapi langsung teringat kondisi istrinya, "Apakah ini boleh? Tadi pagi kita melakukannya, bagaimana kalau bayiku marah?" Edgar mulai panik, harusnya Alice memberi tahunya lebih awal agar dia lebih berhati-hati.


"Kakak tenang saja, mungkin saja tidak apa-apa, aku rasa."


"Kau juga tidak yakin?"


_____


Pagi harinya, Alice sudah terbangun dan sudah berada di dapur. Dia bangun lebih awal memang karena kakaknya Samuel akan berkunjung lebih awal.


"Kenapa tidak membangunkanku?" Edgar memeluk dari belakang menghindu aroma sang istri.


"Kak Samuel akan berkunjung, aku harus membuatkan makanan khusus untuknya."


Edgar melepas pelukannya dan membawa sang istri duduk di kursi sementara dia berjongkok dibawah.


"Aku akan membuat kakakmu dalam kesusahan kalau sampai kau kelelahan karenanya."


"Jangan berlebihan Kak. Kak Samuel sudah membantu banyak di perusahaan milik Ayahku, dia berhak di istimewakan." ucap Alice lembut.


"Hem. Baiklah! Alasan ini memang yang paling kuat." Edgar melihat apa yang akan istrinya buat, ingin membantu tetapi ...."


Alice tertawa, "Jangan melakukan apapun, Kakak akan mengacaukan hasilnya, lebih baik sekarang Kakak duduk dan menunggu kak Samuel saja."

__ADS_1


"Baiklah sayang." satu kecupan mendarat sempurna tepat di bibir manis sang istri.


"Oh, astaga, mataku." Seseorang langsung berbakik dan mengumpat kesal karena harus menyaksikan pemandangan manis saat hatinya remuk redam.


__ADS_2