
Calvin melerai pelukan mereka, menatao manik coklat di hadapannya, senyum manis Mala membuatnya kembali tersenyum, dan memeluk erat wanita yang sudah lama tidak di lihatnya.
“Aku tahu kau masih merindukanku, sayang,” gumam Mala berada di dada bidang yang selalu dia rindukan.
“Kau masih mau pergi dariku?” tanya Calvin melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah cantik itu.
“Tidak lagi, aku tidak bisa menahan rindu seperti ini. Calvin maafkan aku,” wajahnya berubah sendu dia menunduk, dia merasa bersalah karena pergi meninggalkan Calvin dengan rasa marah mendengar kekasihnya di jodohkan oleh orang lain.
“Tidak apa-apa sayang, jangan menangis, hem?” Calvin memeluk kembali Mala dengan perasaan yang campur aduk. Mala adalah kekasihnya, wanita yang dia cintai sebelum ayahnya menjodohkannya dengan Alice. Mala yang saat itu mendengar rencana perjodohan keluarga Calvin sangat kecewa karena mendengar berita yang sangat tidak ingin dia dengar, bagaimana mungkin mereka menjodohkan Calvin dengan wanita lain, sedangkan mereka semua tahu bahwa dia dan Calvin sudah lama menjalin kasih?
Dan karena itulah Calvin melakukan hal bodoh yang tidak masuk akal. Membuat surat kesepakatan dengan Thomas ayah angkat Alice karena dia memastikan dirinya tidak akan jatuh cinta atau sampai datang ke kediaman Alice atau semua hartanya menjadi taruhan.
Kehilangan Mala membuatnya semakin gila, dengan diam-diam dia mencari tahu di mana kekasihnya tetapi dia tidak juga menemukannya sampai akhirnya dia memiliki rasa untuk istrinya sendiri, walau pada saat pandangan pertama Calvin sudah jatuh hati karena kecantikan Alice.
Dan sekarang bagaimana? Mala kembali, bagaimana jika Alice tahu? Otak Calvin pusing memikirkan hal ini karena tahu bahwa Alice mengandung anaknya, pewaris yang sangat dia nanti-nantikan selama ini.
“Kau masih bersama istrimu?” bibir Mala mengerucut, dia tidak suka kenyataan bahwa prianya sudah memiliki istri.
“Hem, tidak mungkin meninggalkannya atau ayahku akan marah,” jawabnya setelah menghela napas dan membawa Mala pada sofa. Apartemen ini adalah hadiah Calvin untuk Mala.
“Kau mencintainya? Jika benar maka biarkan aku pergi lagi,” Mala kembali tertunduk lesu.
Bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan kenyataan menyakitkan ini.
“Jangan pergi! Sudah cukup kau membuatku lelah mencarimu, Mala!” Calvin tidak menyukai perkataan Mala yang ingin meninggalkannya lagi.
“Tapi kau mencintainya, lalu aku bagaimana? Hiks ….”
__ADS_1
“Hei sayang, aku lebih mencintaimu, percayalah!” Ucapan Calvin membuat Mala mengangkat wajahnya, terlihat matanya berkaca-kaca.
“Sungguh?”Calvin mengangguk. Dan kembali membawa Mala dalam pelukannya, di dalam hatinya dia masih menyimpan nama Mala di atas nama Alice. Apakah dia bersalah? Tidak jika Alice tidak mengetahuinya.
Malam itu keduanya menghabiskan malam dengan suka cinta, melepas rindu yang sudah lama mereka pendam. Sampai akhirnya Mala tertidur dengan wajah senang di dalam dekapan Calvin.
Mala tertidur dengan nyenyak dengan memeluk Calvin di sampingnya, helaan napas pelan terdengar dari Calvin yang menyadari setelah semua terjadi, apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dia benar-benar tidak terlalu mencintai istrinya?”
Alice … apakah kau akan memaafkanku setelah ini? batinnya.
Sementara itu, di tempatnya Alice yang mendapakan kabar dari anak buah suruhan ayah angkatnya hanya tersenyum hambar karena sudah mengetahui apa yang terjadi.
“Penghianat akan selalu menjadi penghianat, dan aku menyesal karena sempat terkecoh karena ucapan manismu,” Alice meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian duduk bersandar di sandaran ranjang.
Tangannya mengusap lembut perut buncitnya yang sudah berusia 6 bulan, sudah kesusahan untuk melakukan apapun sebenarnya, tetapi untuk mempertahankan harga dirinya, dia tidak akan mengeluh apalagi menangis.
Cukup dia menagis kemarin saat mengetahui dendam pamannya yang berimbas padanya. “ahh nasibku sungguh sial,” gumamnya.
Kehilangan cinta pertamanya, kehilangan orang tuanya, pamannya yang gila, serta memberi celah hatinya mempercayai Calvin. Semuanya berputar, dadanya sesak, tetapi dia harus kuat demi anaknya. Jika dia kuat calon bayinya juga akan bertahan, hanya sisa menunggu beberapa bulan maka dia tidak akan sendiri.
Malam semakin larut, akhirnya Alice memejamkan mata dan tertidur dengan segala isi kepalanya, dia mengabaikan semua masalahnya seolah dia hanya hidup untuk anaknya saja. Tidak peduli lagi dengan sikap dan perubahan Calvin ke dapan.
Sementara Calvin, malam semakin larut tetapi dia tidak juga bisa memejamkan mata, dia bahagia karena Mala kekasihnya kembali, tetapi dia merasa takut jika Alice tahu dan melupakannya, apakah dia sudah serakah?
***
“Kenapa ke kantor?” tanya Samuel pada sepupunya, dia senang artinya dia tidak perlu memimpin rapat, karena pimpinan sebenarnya sudah datang, tetapi melihat perut menggemaskan itu dia justru kasihan.
__ADS_1
“Bosan di rumah, ayah kembali ke kediamannya,” menghela napas pelan lalu duduk di sofa panjang, meluruskan kakinya dan memijatnya pelan.
Melihat itu Samuel menghampiri adiknya dan membantunya, “jangan dipaksa, kau lelah kan jadinya,” Samuel membantu Alice memijat kakinya, tidak akan sungkan karena mereka besar bersama, dan mereka seperti saudara kandung.
“Di usia kehamilanku ini, memang harus banyak bergerak kak, jangan banyak protes kau membuat anakku tidak nyaman,”
Samuel menghela napas lalu melanjutkan kegiatannya, “dimana suamimu?” tanyanya karena memang dia tidak tahu bahwa Cavin sudah pulang.
“Sudah kembali, ada urusan katanya,” Samuel hanya mengangguk. Untuk apa membahas pria itu. Tidak penting.
Dan karena rapat sudah akan dimulai Samuel undur diri, terpaksa dia yang akan maju, Alice hanya terkekeh karena sepupunya tidak juga mau berubah. Dia memilih masuk ke dalam kamar di balik dinding, kamar yang memang digunakan untuk istirahat.
Tidak lama ponselnya bergetar, ia meraihnya dan melihat nama kontak seseorang disana, dengan berat hati dia mengankatnya, “hallo kak,” sapanya memandang pria tampan dibalik layar, Edgar tersenyum karena Alice mengangkat ponselnya lebh cepat dari yang dia bayangkan.
“Kau dimana?” tanyanya dengan suara beratnya.
“Bersama kak Samuel, tetapi sebelum pergi dia mendumal,” Alice tertawa membuat hati Edgar menghangat.
“Dimana kakak iparku?” maksud Alice adalah Bella, dia tidak boleh hanyut dengan tatapan Edgar, karena baginya Samuel dan Edgar dua orang kakaknya.
“Dia –” sebenarnya di sana sudah ada Arabella tetapi Edgar melarangnya berbicara ataupun muncul di layar, dia kesal tetapi tetap menahannya, karena dia menyanyangi Alice.
“Yah, Arabella dimana?” tanyanya ulang.
“Masih di rumahnya, kau ingin bicara dengannya?” Alice mengangguk, dan Arabella senang sebelum Edgar mengatakan, “nanti saat dia datang aku akan memintanya meneponmu,” terpaksa dia berbohong karena dia tidak ingin kesempatan langka ini di hentikan.
“Baiklah kak, Alice lelah, nanti kakak sampaikan salamku dengannya, dan kakak tidak boleh kembai ke Indonesia sebelum kakak melamarnya menjadi kakak iparku,”
__ADS_1
“Alice ….”
“Dah kak,” Alice menutup ponselnya.