Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 30 | Ya aku hanya adikmu


__ADS_3

Laura masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan ruangan kakaknya Antonio, dia tidak habis fikir kakamya akan berfikir seperti itu, mengorbankan Kak Luce katanya.


Demi bisa bersama dengan keponakannya sendiri, dia rasa kakaknya memang tidak dalam fikiran yang baik.


Laura memang mencintai Luce sejak lama, bahkan mereka pernah berniat akan menikah, namun takdir lagi-lagi membuat Laura harus menerima kenyataan Luce menikahi wanita lain.


Dia mendengus, apapun niat kakaknya dia juga tidak akan bisa membantah atau semua fasilitas nya dicabut.


Dibumi bagian sama Alice sudah berada di balkon kamarnya, dengan tablet dan beberapa berkas yang dia dapatkan dari Samuel sepupunya. Calvin sudah dikantor dua jam lalu, jadi dia hnya sendiri lagi, mengingat kenangan-kenangannya bersama orang tuanya.


Suara dering ponsel membuat lamunannya terputus, Alice menoleh dan melihat sipenelpon, sudut bibirnya terangkat saat melihat nama yang jelas-jelas tersimpan disana. Dengan gerakan cepat Alice menggeser icon hijau dan menempatkan layar tepat diwajahnya.


"Hei, Alice aku merindukanmu". Suara nyaring dibalik sana membuatnya sedikit meringis karena terlalu semangat. Wajah cantik Arabella muncul.


"Aku juga merindukanmu". Jawab Alice mantap


"Kau tidak melupanku kan? kenapa tidak pernah menelponku?


"Hampir, aku hampir saja melupakanmu andai saja kau tidak menelpon". Goda Alice dengan senyuman termanisnya.


"Jangan tersenyum, kau bisa mengalahkan kecantikanku". Alice yang mendegar itu hanya tertawa dari bakik sana.


Edgar yang mendengar suara Alice tertawa hatinya menghangat, dia memang merindukan suara itu, untung Arabella menelpon jadi dia bisa curi-curi dengar.


"Jangan membual, kau itu lebih cantik". Alice menghentikan tawanya dan kembali menatap layar, dia bisa melihat ditempat Arabella saat ini sudah gelap, karena melihat jendela kamar yang terbuka, fikirnya memang Arabella lagi dikamar dan bersantai. Alice hanya tidak tahu bahwa sebenarnya Arabella berada didalam kamar Apartemen Edgar, apalagi kalau bukan menganggunya.


"Ah sudahlah, kau memang tidak mau meggalah". Arabella cemberut. Alice hanya tersenyum lebar karena puas melihat Bella kesal.


"Bagaimana dengan kak Ed, dimana dia? Apakah dia sudah mengutarakan perasaannya?" tanya Alice beruntun. Edgar yang mendengar namanya disebut mendekat ke arah Bella namun dia mengisyaratkan Bella agar tidak memberi tahu keberadaannya.


"Mm, ya tuan memamg sudah mengutarakan perasaannya". Dibalik sana senyum Alice semakin lebar. Dan Edgar bisa melihat itu, Arabella melanjutkan "dia mengatakan bahwa aku hanya akan menjadi adik kecilnya, tidak akan lebih, sangat menyebalkan".

__ADS_1


"Benarkah? Dia memang sangat menyebalkan". Tegas Alice disebrang. Edgar yang merasa dirinya menjadi bahan kekesalan kedua wanita itu memicingkan mata ke arah Bella namun Bella mengabaikannya.


Alice menumpahkan semua kekesalannya pada Edgar, karena tidak mau membuka hati, Edgar hanya mendengus karena Alice tidak berhenti mengomeli dirinya. Apakah jika dia menampakkan diri dilayar wanita itu akan berhenti mengomel?


Tidak.


Edgar tidak akan menampakkan diri, karena bisa saja Alice akan salah faham melihat dia dan Bella dalam satu kamar. Walaupun memang sudah lama terjadi. Hanya saja dia tidak ingin Alice tahu.


Bella yang kasihan melihat tuannya terus diomeli menegahi, dia akan menganti topik lain agar wanita hamil itu mengerti yang di omeli sudah memerah.


"Sudah, jika tuan tahu kita bergosip aku yakin wajahnya akan memerah karena marah".


"Jangan membelanya, dia memang harus mendapatkan omelan". Kata Alice tidak terima karena dia dihentikan.


"Kalau begitu bagaimana kalau kami besok bertemu, aku telpon dan tolong omeli dia untukku".


Mendengar itu Alice terdiam, ah mana mungkin dia akan mengomel didepan Edgar, dia tengah berjuang melepas semuanya tentang Edgar, jangan sampai perjuangannya yang baru dia mulai lagi gagal.


Lama berbincang akhirnya panggilan vidio berakhir karena Alice yang memutus duluan, sepertinya dia mendapatkan panghilan lain.


Arabella yang baru saja meletakkan ponselnya di atas nakas tersenyum kecil saat melihat tatapan tidak besahabat tuannya.


Bella mendekat, dia menggunakan pajamas lengan panjang, dan rambutnya di ikat asal. Dia juga menggunakan sandal bulu berwarna putih senada dengan pakaian yang dia gunakan.


"Ed, kau marah?" Bella mendekat dan duduk di hadapan Edgar dengan jarinya saling menaut.


"Aku tidak percaya kalian bergosip saat aku masih berada disamping kalian?" Bella cengengesan. dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maafkan aku, kau harus tahu hormon wanita hamil, dia memang kadang suka meluapkan emosinya".


Edgar berdecak, percuma dia mendebat dengan Bella dia tidak akan menang. " tidurlah, kita ada rapat penting besok pagi". Bella ingat dia memang ada rapat. Hampir saja dia melupakannya.

__ADS_1


"Baiklah, kau tidak ikut?" tanya nya melihat Ed masih memainkan ponselnya


"Bella,,"


"Ya ya baiklah tuan, aku hanya adikmu". Bella beranjak dari sana dengan menggerutu, sudah lama sekali mereka bersama namun Edgar manusia kutub itu hanya menganggap nya adik. Sial.


Edgar mendengar semua apa yang Bella katakan dia hanya memejamkan mata memijit pangkal hidungnya.


Sore hari saat Calvin sudah kembali dari kantor, dia naik keatas dan mencari istrinya. Namun setelah mencari kesegala sudut wanita hamil itu tidak terlihat sama sekali.


"Hans, dimana Nyonya?" Calvin bertanya saat melihat Hans berjalan dilantai bawah dengan membawa ember kosong.


"Nyonya, tadi katanya dia keluar sebentar tuan". Hans menjelaskan seperti apa yang Alice minta padanya.


"Keluar? Kemana?". Hans mengatakan bahwa tidak tahu dan izin kebelakang. Calvin merogoh ponselnya melihat apakah ada pesan atau panggilan dari Alice yang tidak dia lihat sebelumnya. Namun ternyata tidak ada.


Dia melupakan rasa lelahnya, dia turun ke lantai bawah dan menelpon nomer istrinya namun tidak juga ada jawaban.


Perasaannya mulai tidak enak, ini sudah sore dan beberapa jam lagi akan gelap, kemana Alice? Calvin terus menghubungi nomer istrinya dengan segera keluar dari dalam rumah dia mengecek dimana letak posisi ponsel Alice namun saat dilihat ternyata ada dibalkon.


Calvin mengeryitkan kening, jika ponselnya di balkon kenapa Hans mengatakan bahwa Alice keluar, memang Calvin tidak sempat memeriksa balkon tadi karena melihat pintu balkon tetutup.


Dengan langkah lebar Calvin berlari naik menuju balkon, berharap memang Alice disana dan Hans tidak melihat nya kembali, yang membuatnya yakin adalah mobil Alice masih terparkir diluar.


Dengan degup jantung yang tidak karuan Calvin membuka pintu bahkan sekarang dia tidak yakin bahwa Alice didalam karena pintu terkunci dari dalam.


Calvin melangkah masuk, pandangan menyapu seluas balkon kamar namun dia tidak melihat siapapun disana, dia melangkah ke arah dimana kursi panjang dan meja bundar di ujung tempat dimana dia dan Alice menghabiskan waktu jika tidak memiliki kegiatan lagi.


Perasaannya semakin kacau saat melihat ponsel milik Alice tergeletak begitu saja disana dengan tablet dan berkas yang biasa dia bawa saat bekerja.


Diraihnya ponsel itu mungkin saja ada tanda kemana perginya Alice, dibukanya daftar panggilan terakhir, namun yang aneh adalah semua panggilan terhapus apakah Alice memang sengaja menghapusnya?.

__ADS_1


__ADS_2