
Mereka makan dengan tenang, tidak ada yang memulai percakapan, semua sibuk dengan hidangan didepan mereka, lagi melihat bagaimana romantisnya pasangan didepan mereka tentu saja mereka enggan bersuara.
"Nona kau beruntung mendapatkan Tuan Calvin, dia sangat perhatian". Puji Bella tulus. Baginya Calvin ini paket lengkap. Kaya raya, tampan, perhatian, dan mendapatkan istri cantik yang kaya raya juga.
"Kau juga akan mendapatkan pria yang perhatian juga nantinya". Alice melirik Edgar yang masih memakan makanannya dengan tenang.
"Hm, tentu aku selalu berdoa dia bisa melihatku sebagai wanita, nantinya". Bella terkekeh, dan mengabaikan tatapan Tuannya.
Selesai dengan makan malam mereka Calvin kembali ke atas, seperti biasa dia akan merasa pusing di jam-jam tertentu.
Tuan Thomas dan Edgar sudah masuk ruangannya bersama Edgar dua pria beda generasi itu akan membicarakan hal penting nantinya. Dan tinggallah Bella sendiri di taman belakang sebelum Alice datang bergabung dengan dua cangkir coklat panas ditangannya.
"Hei, kau melamun? Minumlah kau akan merasa hangat". Katanya menyodorkan segelas coklat hangat pada Bella.
"Maaf karena merepotkanmu". Jawabnya dengan senyum manis.
"Jangan sungkan, kita mungkin seumuran panggil Alice saja".
"Tapi, aku rasa itu tidaklah sopan".
"Tidak, aku tidak ingin penolakan, Oke!" Yang hanya di angguki oleh Bella.
"Bagaimana Edgar menurutmu?" Alice yang memulai.
"Eh..?" menoleh ke arah Alice yang hanya diam menyesap coklat panasnya "Tuan baik". Jawabnya singkat.
"Alice hanya tersenyum "Aku tahu kau menyukainya". Kata Alice membuat Bella menoleh lagi "Dan aku yakin kau yang terbaik untuknya".
"Tapi dia hanya menganggapku sebagai adiknya". Terdengar Bella terkekeh "Dia menyuruhku menyerah, karena hatinya hanya ada namamu disana". Bella tersenyum getir.
"Jangan terlalu diambil hati, aku yakin dia akan membuka hati untukmu".
"Tidak Alice, bahkan dia sudah mengatakan bahwa sampai kapanpun dia akan terus mencintaimu, kau bersamamnya atau tidak, baginya tidak masalah, dia hanya tidak ingin ada yang menggantikan namamu di hatinya".
"Alice boleh aku bertanya?" Bella bertanya setelah mereka beberapa saat terdiam bersama.
"Hm, katakan saja".
"Bagaimana perasaanmu pada Tuan?" Menoleh ke Alice yang juga menoleh padanya, merasa tidak enak Bella meminta maaf "Maaf kan aku seharusnya tida-".
"Tidak perlu meminta maaf". Alice tersenyum getir kemudian menjawab "Hm, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.". Jawabnya kembali menyesap minumannya.
"Aku mengerti, sudah lupakan saja, kita bahas yang lain". Kata Bella merasa canggung.
"Kami hidup ditempat yang sama, dirumah ini, Ayah Thomas bekerja pada Ayahku sudah lama, Saat itu aku masih sangat kecil aku hanya berteman dengan sepupuku Samuel hanya berdua. Kami selalu saja bertengkar. Dan saat itu Ayah Thomas membawa satu anak laki-laki lain yang lebih tua dari kami berdua. Dia selalu menjadi penengah saat kami berkelahi"
"Lambat laun kami bertiga tumbuh besar bersama, tidak Maksudnya tetap saja dia yang lebib besar" Alice terkekeh.
__ADS_1
"Kami memang jarang berbicara, karena dia orang yang sangat menjaga jarak, karena menurutnya aku tetaplah Nona baginya".
Menghela nafas pelan.
"Entah sejak kapan aku merasakan ada sesuatu dihatiku saat melihatnya, aku akan terganggu saat dia tidak ada dimataku". Alice menjeda "Sampai akhirnya aku yakin bahwa aku memang menyukainya".
"Semakin dewasa kami semakin jauh juga dia dari pandanganku, aku semakin jatuh cinta padanya, karena dia gerus saja menghindar. Membuatku sangat kesal. sampai suatu saat aku berniat akan memberi tahunya namun-"
"Nona menikahi Tuan Calvin?" Terka Bella yang di angguki pelan Alice kemudian sudut bibirnya tertarik lurus.
"Apakah Tuan tahu?". pertanyaan Bella membuat Alice terdiamam lama lalu terdengar helaan nafas pelan.
"Jawaban apapun itu tidak akan mengubah apapun"
"Dan sampai kapanpun aku juga tidak akan bisa bersamanya, karena dia juga mencintaimu". Alice tidak tahu harus menyanggah apa, dia hanya diam. Kini mereka berdua terdengar tertawa bersama.
Setelah sama-sama terdiam, mereka kembali canggung, tidak sebenarnya hanya Bella saja.
"Sering-seringlah berkunjung kemari bersamanya, aku yakin saat kemari kau sudah menjadi kekasihnya. aku senang akhirnya memiliki teman dan calon ipar yang cantik sepertimu".
Mereka mengobrol banyak, dan karena sudah sangat lelah Alice kembali ke kamarnya. Sampai dikamar, dia melihat Calvin tengah bersandar di tempat tidur dengan tatapan datar.
Alice melangkah masuk, walau dia merasa aneh dengan tatapan itu dia tetap tersenyum dan duduk dipinggir kasur berhadapan dengan suaminya.
"Kau masih merasa pusing?" katanya meletakkan tangan dikening Calvin.
"Kalau begitu tidurlah, sudah sangat larut, aku menyusul sebentar lagi". Katanya
"Kau mau kemana?" melihat Alice berdiri dan hendak keluar kamar.
"Ke kamar Ayah, aku harus memastikan dia sudah meminum obatnya atau belum".
"Bukan untuk bertemu kekasihmu?" Calvin sudah berdiri dan berjalan ke adah Alice yang terlihat sangat bingung.
"Apa maksudmu?"
"Halah..jangan pura-pura bodoh, Oh tidak, aku yang bodoh karena tidak mengetahui hubungan gelap kalian". Hardiknya dengan tatapan marah.
"Apa maksudmu, sudah malam jangan bicara omong kosong tidurlah". Alice hendak keluar, dia tidak akan meladeni Calvin karena akan membuat emosinya meledak nanti. Dia harus memastikan tetap tenang.
"Jadi karena Edgar kau tidak pernah melihat cintaku selama ini? Karena dia yang kau cintai sejak dulu begitu?"
"Calvin.."
"Apakah itu juga alasan kenapa kau selalu datang kemari dan mengabaikanku? atau jangan-jangan itu anaknya!".
Mendengar tuduhan Calvin yang tidak masuk akal membuat emosi Alice memuncak dengan rasa sakit hatinya satu tamparan mengenai wajah tampan itu.
__ADS_1
DIAM, KAU TERLALU BANYAK BICARA". Teriaknya
"Hah, kenapa kau marah? Apakah memang benar itu anaknya?"
"CALVIN". Alice kembali berteriak, dia merasakan nyeri diperutnya namun dia tahan, dia tidak akan terlihat lemah, sudah kedua kalinya Calvin mengeraskan suara padanya. Dan harusnya dia akan baik-baik saja.
"Ataukah saat kau melihatku bersama Laura, kau hanya pura-pura terkejut begitu? dan kau menjadikan itu sebagai alasan untuk perceraian kita".
"Aku bilang hentikan". Lirihnya sudah memegang perutnya.
"Jangan jadikan bayimu sebagai alasan". Cibirnya walau sebenarnya dia sangat hawatir.
"Ini bayimu Brengsek, bayimu". Katanya lagi dengan nada sedikit bergetar.
"Bukan, aku tidak akan percaya, setelah apa yang aku ketahui, kau dan dia menjalin kasih dibelakangku".
Setelah mengatakan itu Calvin menggeser kasar Alice dan keluar, dengan langkah ceoat dia menuruni tangga dengan menggulung lengan kemejanya.
Akice yang sangat terkejut, karena tindakan Calvin mencoba menyeimbangkan diri, sampai nyeri perutnya benar-benar berkurang, dia berlari kecil mengejar Calvin yang melangkah dengan kemarahan.
"Calvin..berhenti". Teriak Alice, baru kali ini dia merasa suaminya sangat marah dan dia tidak bisa membiarkannya pergi.
Alice menuruni tangga dengan sedikit berlari, dia memegang perutnya dengan masih berteriak.
"Calvin berhenti kataku".
Tuan Thomas dan Edgar yang kebetulan keluar melihat Alice yang berlari menuruni tangga membola sangat terkejut, pasalnya wanita itu hamil dan dia berlari. Dan disaat beberapa undakan lagi, kakinya menginjak salah.
"Alice....". Edgar berlari menghampiri Alice yang terlihat akan terjatuh, menangkapnya dan membantunya berdiri.
Calvin yang mendengar teriak orang dibelakangnya melihat bagaimana Edgar yang memeluk istrinya semakin tersulut emosi.
Dia melangkah cepat ke arah dua pasang kekasih itu dan memberi satu tinjuan di rahang Edgar.
"Calvin hentikan". Alice mencoba menarik tangan suaminya yang terus saja menerjang Edgar sampai dia merasa perutnya sangat sakit saat dengan tidak sengaja Calvin menegenai perutnya dengan tangannya.
"Awww.....". Rintihnya.
"Alice..." Edgar bangkit karena sangat panik, sedang Calvin yang melihat istrinya kesakitan mematung.
Setelah lama memperhatikan bagaimana reaksi Edgar dia semakin emosi, dia terbahak karena emosi yang menumpuk. Tetapi di ujung matanya mengalir tetesan.
"Aku semakin yakin kalau kalian memang mempermainkanku".
Edgar tidak memperdulikan itu dia berusaha menenangkan Alice yang terus memegang perutnya
"Tuan darah....". Teriak Bella yang memang juga sudah berada disana karena mendengar teriakan Alice.
__ADS_1