Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Apa Yang Kakak Lakukan?


__ADS_3

"Aku anggap itu pujian." Edgar merebahkan kepala di sandaran sofa. Memikirkan kesehatan ayahnya membuatnya ragu untuk bepergian.


"Ada masalah apa?" Alice duduk setelah memutar film yang ingin dia tonton. Sudah lama dia tidak menikmati hidup santainya.


"Ayah ... Bagaimana kalau kita juga membawanya?"


Alice menatap Edgar lamat, "Tentu saja itu ide bagus, tapi apa ayah mau?"


Terdengar helaan napas, "Itu dia ... Ayah tetap ingin tinggal disini, bersama kenangannya." Alice menghela napas pelan, dia tahu bagaimana ke setian ayah Thomas pada keluarganya.


"Kalau begitu kita tunda keberangkatan kita, sampai bisa membujuk Ayah ikut, bagaimana?"


Edgar baru saja akan menjawab, notif di ponselnya mengalihkan perhatiannya, pria dengan wajah bak dewa itu membola saat membaca berita terbaru di ponselnya.


"Ada apa?" tanya Alice.


Edgar menyerahkan ponselnya dan saat itu juga Alice terdiam. Disana terdapat berita bahwa Antonio menyerahkan diri ke kantor polisi. Oh, haruskan Alice senang karena berita begitu mudah menyebar.


"Dia menyerahkan diri? Semudah itu? Bagaimana bisa?" Edgar masih tidak percaya, bagaimana bisa seorang Antonio bisa menyerahkan diri semudah itu.

__ADS_1


"Sudah seharusnya kak. Kita tunggu saja panggilan untukku. Dan aku yakin para pemburu berita akan senang karena kehebohan ini." Alice menutup wajahnya dengan telapak tangan, kedepannya akan sangat sulit.


"Tenang saja, aku bersamamu. Kita temui dia nanti, setelahnya, biar aku yang mengurusnya."


Alice mengangguk setuju. Sementara itu, di kantor polisi sudah ada Laura dengan mata sembabnya, "Kakak ... Kenapa melakukan ini?" Laura tidak habis pikir kenapa kakaknya harus menyerahkan diri, bukankah Alice tidak membuka masalah lama, tapi kenapa kakaknya begitu bodoh.


"Kenapa menangis? Aku salah, dan sudah seharusnya berada di sini." ucap Antonio datar, dia akan melakukan apapun agar Alice bersamanya. Jika dengan cara ini dia bisa menebus dosanya dan Alice menerimanya, dia akan sanggup sampai kapanpun didalam penjara.


"Kak ... Aku harus bagaimana? Aku harus mencarikanmu pengacara atau apa, kau harus keluar." Laura sangat panik sampai tidak bisa berpikir tenang.


"Jangan lakukan apapun, aku tidak membutuhkan apapun. Biarkan Alice melihat ini."


Beberapa saat Antonio termenung, setelahnya baru melanjutkan, "Jika itu yang dia inginkan, aku--,"


"Dasar bodoh! Kakak tunggu saja, aku akan cari pengacara terbaik untuk kakak." Laura yang akan pergi dihalangi oleh suara berat Antonio, "Jangan lakukan apapun! Percayalah, Alice sendiri yang akan mengeluarkanku dari tempat ini." kata Antonio percaya diri.


Laura berbalik dan melangkah mendekati kakaknya, "Tapi, bagaimana kalau dia tidak melakukannya? Bagaimana kalau dia memang ingin melihat kakak mendekam seumur hidup? Kak, kenapa sebelum bertindak kakak tidak memikirkan ini?" Laura kesal dan sangat marah.


Di tempat yang berbeda, Calvin yang baru saja beristirahat, membuka ponselnya, sama seperti Edgar dia juga terkejut melihat berita kalau Antonio menyerahkan diri.

__ADS_1


"Alice sayang, maafkan karena dulu tidak bisa melihat kesedihanmu." lirihnya. Dia mengusap ponselnya yang terdapat foto Alice dan anaknya Orlando.


"Tuan, minuman Anda." Rahayu datang membawa dua minuman dingin untuk mereka. Calvin hanya berdehem dan tidak melihat ke arah wanita di sebelahnya.


Rahayu masih saja sabar mendapatkan perhatian duda di sebelahnya, dia yakin bahwa suatu saat Calvin akan melirik dan meminta nya untuk bersama.


"Jaga pandanganmu." Rahayu membeku karena tertangkap basah menatap atasannya dengan intens.


"Ma-maafkan saya Tuan."


"Jangan buang-buang waktu, karena aku tidak akan pernah menjadi apa yang kau bayangkan selama ini."


"Tuan ... Saya mencintai tuan dengan tulus, saya--,"


"Kau tidak akan mendapatkan balasan dariku, Ayu! Sampai kapanoun, aku akan tetap mencintai wanita yang melahirkan putraku." tegas Calvin menolak.


"Tuan ...."


"Kembalilah bekerja, dan mulai sekarang, jangan lahi membawakan apapun untukku atau kau tidak ku izinkan lagi bekerja di pabrik.

__ADS_1


"Sa-saya akan ingat ini. Permisi Tuan."


__ADS_2