Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Mencoba melepas


__ADS_3

Terang saja Calvin langsung mematung, bak seorang pencuri yang tertangkap basah. Segala pemikiran sudah bermunculan dikepalanya yang cerdas. “Apakah dia mengetahui sesuatu?” gumamnya sudah berdiri dengan wajah yang memucat.


Bagaimanapun Alice tetaplah istrinya dan dia tidak ingin kehilangan wanita yang tengah hamil ini. Tapi Mala?


Cavin semakin kehilangan akal sehatnya, hingga Alice keluar dengan wajah yang lebih segar, rupaya wanita hamil itu masuk untuk mencuci wajahnya.


“Masuklah! air mandimu sudah ku siapkan,” kata Alice menuju lemari dan mengeluarkan piyama lengan panjang untuk Calvin suaminya.


Tetapi Calvin masih tetap mematung. Melihat bagaimana perubahan istrinya yang sangat terlihat. Cavin yakin bahwa Alice mengetahui sesuatu.


Alice yang mengetahui tidak ada pergerakan dari Calvin berbalik dan melihat wajah pucat pasi disana. Ia mendekat dan tersenyum.


Senyum yang Calvin tidak tahu artinya.


“Kenapa? Kau sudah mandi? kalau begitu gantilah pakaianmu dikamar mandi. Tidak nyaman tidur dengan menggunakan kemeja, atau kau akan pergi lagi?”


Calvin menggeleng dan mengambil pakaian tidur yang berada di tangan sang istri dengan segera Alice hanya menghela napas berat melihat pria yang dia kira memang sudah berubah itu berlalu.


Alice turun ke lantai bawah. Dia melihat banyak makanan disana. Dia menghela napas pelan setelah menyadari sesuatu, Calvin menyipakan ini untuk menutupi rasa bersalah rupanya.


Wanita hamil itu meminta Rafh kembali memanaskan kembali. Dia sudah makan di apartemen sebelum memutuskan kembali pulang, tetapi melihat usaha Hans menyiapkannya ada perasaan tidak enak di hatinya.


“Apa Tuan memintamu menyiapkan semua ini?” tanya nya melihat Hans sudah kembali memanasi kaldu kesukaannya.


“Benar Nyonya. Saya kira anda tidak akan turun, jadi saya tadi berniat akan memasukkannya kembali ke kulkas,” jawab Hans terus terang.


“Baiklah setelah ini kau istrahatlah. Aku yang akan membereskannya,”


“Tapi, Nyonya anda sedang –”


“Tidak masalah, aku biasa melakukannya,” jawabnya lembut yang di angguki oleh Hans langsung dengan rasa bersalah.


Tidak lama, dia mendengar suara langkah kaki, Alice tidak perlu menoleh dia masih memakan potongan buah yang Hans selalu siapkan untuknya. Dan saat Cavin akan mencium kepalanya, wanita itu langsung menarik pelan tangan Calvin untuk duduk.


Alice merasa sudah tidak bisa menerima sentuhan apapun dari Calvin. Jika terpaksa menerima maka dia yang akan terluka.


“Duduklah! Kau belum makan malam kan? Aku temani,” kata Alice mulai menyajikan makan malam untuk Calvin. Pria itu hanya meneguk ludah karena perutnya masih sangat kenyang karena dia sudah makan malam dengan Mala.


“Kau tidak makan?” tanya Calvin karena hanya piringnya saja yang terisi.


“Aku sudah makan sebelum kembali ke rumah. Lagi aku hanya ingin makan buah saat ini,” ucapnya santai dengan senyuman.

__ADS_1


Calvin hanya mengangguk dan mulai makan dengan pelan, semoga perutnya masih bisa menampung. Alice hanya diam memperhatikan suaminya makan dengan pelan.


Setelah selesai menemani Calvin makan, Alice membereskan semuanya. Calvin masih disana menunggunya. Walau berulang kali wanita itu meminta untuk ditinggalkan sendiri.


“Pergilah dulu ponselmu sudah bordering berapa kali. Mungkin saja itu pekerjaan penting,” kata Alice


“Kau tidak apa?” tanya Calvin ada keraguan di wajahnya.


“Aku tahu bagaimana pekerjaanmu. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika menyangkut pekerjaan.” Ucap Alice mempersilahkan sang suami pergi menerima telepon yang entah siapa malam-malam membuat keributan.


Calvin pergi menerima telepon sementara Alice beranjak naik dengan hati-hati ke lantai atas kamarnya. “Bagaimana apa ada masalah?” tanya Alice saat melihat Calvin sudah masuk ke kamarnya dengan wajah murung.


“Heum, itu, aku ….” Cavin bingung harus mengatakan apa.


“Pergilah! Aku tahu itu hal yang sangat penting. Karena tidak mungkin kau akan terlihat tidak baik-baik saja,” kata Alice dengan senyuman.


Calvin menimbang. Dia meneliti wajah Alice yang tetap tersenyum dan mendekatinya. Memang ada masalah serius karena Mala mengancam akan pergi jika malam ini Calvin tidak mendatanginya.


Calvin memeluk istrinya dan mengecup perut buncit itu berulang kali, ada perasaan aneh di hati Alice. Andaikan saja suaminya tidak kembali melakukan hal menyakitkan ini mungkin saja dia masih bisa menerimanya.


“Aku akan kembali besok. Maafkan aku karena harus pergi sekarang,” kata Calvin lirih. Dia bimbang sekarang. Dia berfikir bisa menyelesaikan masalah kecil ini tetapi kenapa berat sekali memilih salah satu diantara mereka.


Calvin mengganti pakaiannya dengan diam sambil memperhatikan wajah Alice, entah kenapa dia sangat merindukan wanita yang tengah duduk bersandar di atas kasur itu, senyumnya dan mata bulatnya selalu bisa menghipnotisnya.


“Sayang, aku mencintaimu,” ucapnya setelah mengecup kening sang istri dan keluar dari kamar.


Alice yang sudah memastikan sang suami pergi segera mengambil ponsel dan memastikan kemana perginya Calvin. Wajah dingin dan datar Alice membuat siapa saja akan takut setelah mengetahui kemana pria pembohong itu pergi.


Sekarang nonifikasi dari Laura kembali membuatnya tersenyum dia meletakkan ponselnya diatas nakas dan kembali melanjutkan tidurnya yang tadi sempat tertunda.


Sementara ditempat lain Mala sudah akan siap pergi dengan koper-kopernya, jelas Calvin tidak akan membiarkannya, dia menenangkan kekasihnya itu dengan segala upaya. Hingga akhirnya Mala luluh dan tertidur dengan tangisannya.


Dia mencintai Calvin, sungguh tidak rela baginya jika harus berbagi dengan orang lain. Apalagi mereka sudah kembali melakukan hal itu berulang kali tanpa pengaman dan Mala tidak akan bisa menghadapi hidup jika sampai dia akan hamil dan kehilangan Calvin.


Pergi adalah jalan satu-satunya. Dia menderita tetapi tidak akan terlalu sakit karena harus menyaksikan prianya bersama wanita lain, tidak peduli itu adalah istri sahnya.


“Tenanglah! Aku akan tetap berada disampingmu,” Calvin terus mengelus sayang punggung Mala yang sudah terlelap.


Setelahnya dia bangkit dan membereskan semua kekacauan, mengeluarkan semua pakaian didalam koper dan memasukkannya kembali ke dalam lemari. Akhirnya Mala lah yang kembali berhasil memeluk pria luar biasa ini.


Membiarkan Alice tertidur sendiri dikamarnya dia tidak peduli karena selamanya Calvin miliknya. Hingga pagi dini hari sepasang kekasih tidak halal itu kembali meneguk manisnya memadu kasih. Mereka melakukannya lagi dan lagi hingga suara bel mengganggu aktifitas panas mereka hingga pagi hari.

__ADS_1


Keduanya masih tidak memperdulikan hingga suara itu kembali membuat apa yang membara kini meredup. “Kau mandilah lebih dulu, biar aku yang membuka pintu,” kata Mala mengambil jubah tidurnya yang tebal.


Rambut acak-acakannya di sisir terlebih dahulu dan setelah memastikan bahwa dia sudah terlihat sempurna barulah dia melangkah mendekati pintu. Dia tidak yakin dengan tamunya tetapi dia harus memastikan siapa yang bertamu dijam sepagi ini.


Sebenarnya tidak pagi lagi karena ini sudah hampir jam Sembilan pagi.


Setelah membuka pintu dia termangu melihat wanita cantik di depan pintu, wanita tinggi, kulit putih dan perut buncit membuatnya semakin terlihat sangat cantik.


“Selamat pagi Nona,” sapanya. Bahkan suaranya saja membuat telinga Mala terbuai. Suara lembut wanita didepannya mampu memuatnya tersenyum karena keindahan yang dimilikinya.


“Pa-pagi. Maaf tapi apakah kita saling mengenal?” tanya Mala karena seingatnya dia tidak memiliki teman secantik ini. Apakah wanita dihadapannya salah alamat. Pikirnya


“Heum aku ad –”


Baru saja Alice akan menjelaskan siapa dirinya suara dari arah dalam membuatnya tersenyum kecut. “Siapa sayang?” suara bariton Calvin jelas sangat terdengar karena pria bodoh itu berteriak terdengar sangat bahagia.


“Silahkan masuk Nona,” kata Mala sopan. Dia tidak tega melihat wanita cantik dihadapannya berdiri lama. Mungkin memang teman lama yang dia lupakan pikirnya.


Alice duduk dengan nayaman, masih dengan senyuman manis, tetapi tidak ada yang tahu sehancur apa hatinya didalam. Calon ayah dari anak yang di kandungnya sekarang tengah dalam hati yang bahagia setelah meninggalkannya semalam.


Mala masuk ke dalam menyiapkan minum untuk Alice sementara Calvin yang tidak mendapatkan jawaban dari Mala lantas keluar masih menggunakan kimono dan rambut setengah keringnya.


Dia melihat Mala yang keluar membawa nampan berisi air putih, dia yang penasaran juga mengikuti langkah kekasihnya dengan berjalan disebelah Mala.


“Memang siapa yang datang, temanmu?” tanya Calvin merengguh pinggang Mala yang ramping.


“Heum. Aku temannya,” jawaban manis Alice membuat Calvin melotot dan melepaskan tangannya yang tadi berada di pinggang Mala.


Tubuhnya seketika lemas. Jantungnya berdegup kencang. Wajahnya memucat tetapi terasa sangat panas.


“A-alice?” lirihnya mendekat dengan langkah pelan.


Mala yang langsung menyadari sesuatu langsung menjatuhkan nampannya karena sangat terkejut. Wanita cantik itu adalah istri kekasihnya?


Apakah benar?


“Bagaimana tidurmu?" tanya Alice dengan wajah yang tidak lagi semanis tadi. Wajah datarnya membuat Calvin meneguk ludah kasar.


“Alice, aku,” Calvin terbata.


“Ayo kita pisah!”

__ADS_1


__ADS_2