Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Tetap Tenang


__ADS_3

Calvin menyugar kasar rambutnya. Dia naik ke lantai atas mungkin saja menemukan jejak dimana istrinya sekarang. Di dalam kamar dia menyusuri apa saja yang kemungkinan bisa membuatnya tahu dimana sang istri.


Di dalam lemari dia masih bisa melihat pakaian Alice yang tidak ada satupun berkurang, artinya memang Alice hanya keluar sebentar. Namun netranya tertuju pada benda pipih diatas nakas.


Calvin menganbilnya dan melihat hanya panggilannya yang berada disana.


“Dia tidak membawa ponsel,” gumamnya.


Calvin membuka semua, memeriksa mungkin saja dia menemukan hal yang lain. Semua kosong. Tidak ada riwayat panggilan atau pesan dari seseorang.


“Kenapa kosong? Apakah selama ini dia menerima panggilan atau laporan diponsel yang berbeda?” kembali dia bergumam.


Karena tidak ingin terlau lama membuang waktu Calvin kembali turun, dia akan kembali ke kantor mungkin saja sang istri akan kembali mencarinya.


Namun sebelum memasuki mobil ponselnya kembali bordering. Tanpa melihat nama si penelepon Calvin mengangkat.


“Hallo Alice sayang kau dimana? Kau baik-baik saja, kau di –”


Ucapannya terpotong saat mendengar bahwa suara dibalik sana bukanlah suara wanita yang dicarinya tetapi suara Mala kekasihnya.


Calvin mengusap wajahnya kasar dan menghembuskannya berulag kali. Dia membawa mobilnya ketujuan dimana ada Mala sekarang, namun sepanjang jalan dia terus saja melihat kekiri dan kekanan mungkin saja dia menemukan mobil istrinya diantara banyaknya mobil yang lalu lalang.


Sementara itu di dalam apartemen mewah jauh ditengah kota, wanita hamil itu tengah selesai dengan rutinitas membersihkan diri. Setelah berbelanja keperluan untuk anaknya dia menyandarkan diri di atas sofa dengan menaikkan kaki lurus ke depan.


Sesekali dia mengusap lembut perut buncitnya.


“Sayang, kita akan kembali kerumah Mommy setelah memberi hadiah untuk Daddy, heum.’ Ucapnya dengan senyuman.


Buah yang dipotongnya tadi dimakannya dengan pelan sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk mengakhiri drama rumah tangganya.


Namun suara bel membuat kunyahanya terhenti. Alice mengeryitkan kening karena setahunya tidak ada yang tahu alamatnya selain dirinya dan mungkin juga kak Samuel karena sudah menempatkan orang untuk mengawasinya.


“K-kau?” Alice mundur saat melihat siapa tamu yang tidak pernah dia perkirakan akan datang menyapanya.


“Biarkan aku masuk,” Laura masuk begitu saja tanpa menunggu Alice mempersilahkannya.


“Kau mengikutiku Laura?” kata Alice berdecak. Dia berjalan melewati Luara yang masih menyapu isi dalam apartemen mewah milik Alice.

__ADS_1


“Alice, aku khawatir padamu.” Katanya mengikuti Alice yang sudah duduk dan kembali memakan buah-buahnya yang tadi.


“Khawatir? Bukankah kau datang ingin menenrtawakanku?” tanya Alice menatap dingin Luara yang langsung menelan ludah kasar.


“Tertawalah! Bukankah kau mau mengejekku karena sekarang hidupku sangat miris?” kembali Alice menyerang Laura dengan tatapan datar.


“Alice … aku hanya –”


“Hanya ingin memberitahuku tentang perselingkuhan Calvin? Itu yang akan kau katakan bukan?”


Laura hanya membulatkan mata tidak percaya, jika sudah tahu lalu kenapa dia terlihat sangat santai?


“Kau akan memberi tahuku bahwa selain dirimu ada wanita lain juga yang menikmati malam bersama pria tidak tahu untung itu?”


Laura hanya diam. Bagaimanapun dosa dimasa lalu tetaplah masih berbekas. Lagi dia memang pernah berniat akan merebut Calvin dan menghancurkan Alice. Tidak salah jika wanita dihadapannya marah dan membencinya.


“Pulanglah Bibik!” katanya masih dengan senyuman.


“Kau tahu dan membiarkannya?” Laura masih tidak percaya.


Alice menghela napas pelan lalu meletakkan piring buah yang sudah kosong. Dia meyandarkan punggungnya dengan nyaman, meletakkan kepalanya di sandaran sofa dan menutup mata.


“Bibik. Jangan sampai tempat ini ada yang tahu selain dirimu,” katanya dengan mata tertutup.


“Aku tahu kau masih marah padaku. Aku tidak akan menyalahkanmu, tapi jangan menganggap dirimu sendiri. Heum.” Laura berbicara lirih dia tahu Alice mendengarnya.


“Maafkan kakakku. Dia terlalu mencintaimu hingga menemukan jalan buntu dan menyebabkan –” Luara tidak bisa melanjutkan, dia tahu kesalahan kakaknya memang tidak bisa di maafkan.


Kesalahan orang tua terdahulu membuat kehidupan mereka yang muda hancur karena dendam.


“Bukan cinta. Paman hanya terobsesi memiliki semua yang kakaknya miliki,”


Sementara Luara masih mencari cara membujuk Alice memaafkannya, kini Calvin tengah berada di pusat perbelajaan dengan wajah menegang, takut jika ada yang melihatnya bersama dengan Mala.


Kekasihnya ini meminta ditemani berbelanja dan menghabiskan waktu bersama. “Kau tidak senang kita jalan-jalan?” tanya Mala yang masih menggandeng tangan Calvin mesra.


“Sayang. Kenapa harus bertemu ditempat ini. Bagaimana jika ada yang melihat?” desis Calvin melepas tangan Mala yang terus bergelayut manja padanya.

__ADS_1


“Kenapa takut? Kita sepasang kekasih kan?” kata Mala mulai jengan tangannya terus saja dilepas.


“Mala. Masalahnya beda sayang. Bagaimana jika Alice lihat atau ada orang lain yang mengenaliku dan –”


Calvin hanya mengusap wajahnya kasar lalu membawa Mala kembali ke apartmennya.


Mengabaikan wajah cemberut Mala yang kesenanganya harus dirusak karena ketakutan pria disebelahnya.


“Dengarkan aku baik-baik, heum.” Calvin meminta Mala duduk di sampingnya saat mereka berdua sudah sampai di apartemen Mala.


“Aku tidak bisa selalu besamamu jika diluar kenapa?” Mala diam, Calvin melanjutkan, “Karena jika ada yang melihatku bersamamu, aku khawatir akan ada masalah lain, dan aku tidak ingin kau terkena masalah,” ucapnya lembut dia akan melindungi kekasihnya.


“Aku hanya ingin berjalan-jalan,” protesnya.


Calvin kembali menjelaskan bahwa boleh saja asal tidak berdua dengannya. Saat ini Calvin tengah frustasi karena tidak menemukan dimana keberadaan istrinya.


Setelah membuat Mala mengerti dia meninggalkan apartemen Mala dan mengatakan tidak bisa datang malam nanti.


Bukankah dia harus bersandiwara agar Alice tidak curiga padanya?


Namun saat akan memasuki lift matanya melebar saat melihat siapa yang berada disalam lift tengah menatapnya dengan senyuman berbeda. Sesaat tubuh Calvin menegang tetapi dengan cepat dia menetralkan diri agar kegugupannya tidak terlihat.


“Selamat siang Tuan,” sapanya.


“Kau. Heum selamat siang, bagaimana kabarmu?” tanya Calvin masih menyembunyikan kegugupannya.


“Saya baik Tuan. Terima kasih. Bagaimana kabar Nyonya Alice?” Laura mencoba bertanya, karena melihat bagaiman gugupnya Tuannya.


“Alice baik, bagaimana kau betah bekerja di perusahaan cabang? Maaf karena saya harus melakukannya,”


Laura hanya mengatakan bahwa dia senang, dan memaklumi keputusan Calvin. Mereka akan turun kembali kelantai bawah karena Laura meminta sedikit waktu bersama Calvin.


“Saya mengerti Tuan anda tidak perlu merasa tidak enak. Dan saya senang karena Nyonya baik-baik saja,” Laura tersenyum seperti biasa.


Setelah sampai di lantai bawah Calvin menerima ajakan Laura makan siang bersama karena tidak ingin Laura berpikir yang macam-macam padanya setelah mengetahui dia keluar dari apartemen tadi.


“Tuan terima kasih makan siangnya. Oh ya apakah Nyonya berada di apartemen yang tadi Tuan kunjungi?” tanya Laura dengan wajah tidak bersalah sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2