Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 35


__ADS_3

“Sekarang paman akan berbohong lagi?”


Alice akan melangkah meninggalkan mansion ini sekali lagi dengan kepala yang kan meledak. Sudah cukup dia mendengar semua. Dengan kasar dia menghapus air matanya dan membiarkan Antonio berdiri disana menatap kepergiannya.


“Aku tidak berbohong Alice, aku mencintaimu,” lirihnya.


Antonio hanya diam menatap punggung Alice yang memasuki mobil dan meninggalkannya sendiri. Menghela napas panjang dia naik ke atas ruang kerjanya. Dia tidak menyangka bahwa yang dia rasakan pada keponakannya adalah hal yang besar. Apakah dia sudah benar-benar mencintai Alice atau hanya sebuah obsesi saja?


Sepulang dari mansion pamannya Alice tidak langsung pulang ke rumah tetapi mendatangi ke dua orang tuanya. Menumpahkan semua rasa sedih yang selama ini di tahannya.


“Ayah … ibu … Alice datang berkunjung, bagaimana kabar kalian?” ucapnya dengan air mata yang sudah membasahi wajah putihnya.


“Apakah kalian mendengar apa yang paman Antonio katakan? Katakana pada Alice kalau dia berbohong?” Alice megingat bahwa Antonio melakukan ini semua karena mencintainya. Itu membuatnya tidak menyukai dirinya sendiri mulai sekarang.


“Maafkan Alice karena tidak bisa menjaga kalian dari niat busuknya, … hiks.” Alice kembali menangis, menumpahkan semua kesedihannya. Tidak pernah dia bayangkan ada yang mencintainya dengan salah seperti ini.


Pikirannya melayang pada Calvin yang sampai sekarangpun tidak pernah punya niat mengunjungi makam kedua orang tuanya, Alice menghela naps berat karena sudah tahu kenapa Calvin melakukan itu.


“Maafkan Calvin Ayah, dia masih sibuk dan belum bisa menjenguk kalian, kalian lihat dia mencintai Alice dengan sangat terima kasih karena telah menitipkan Alice padanya,” ucapnya di sela-sela tangisnya.


Lama dia disana memberitahu keduanya bahwa dia tengah mengandung dan akan enjadi ibu sebentar lagi, dia menceritakan semua yang di alaminya bahkan menceritakan pertemuannya dengan wanita terdekat Edgar. Arabella.


“Dia wanita yang sangat cantik, aku menyukainya, aku yakin kak Edgar akan bahagia jika bersamanya,”


“Aku tahu kenapa ayah dan Ibu tidak merestui perasaanku pada kak Edgar, walaupun saat itu kalian sudah menyadari bahwa aku menyukainya, karena kalian tahu bahwa Arabella akan adadi antara kami, kan?” Alice tersenyum kecil menyadari bahwa nasibnya memang sudah di tulis sedemian rupa.


“Aku akan kembali bersama Calvin suatu hari nanti, aku yakin kalian akan semakin bangga dengannya.”


Alice memutar badan dan meninggalkan pemakanan dengan hati yang ega, karena dia sudah menumpahkan segalanya disana, dia yakin kedua orang tuanya memaafkannya dan selalu medukungnya.


Sementara masalah Antonio dia akan melupakannya, dia serahkan pada Tuhan karena dia yakin Tuhan tidak akan tinggal diam atas perlakuan orang jahat di sekitarnya. Suatu saat nanti pamannya kan merasakan apa yang dia rasakan selama ini. Kehilangan orang yang sangat kita cintai.


Sesampainya di mansion dia sudah melihat Calvin terlihat gelisah, Alice mengerutkan dahi karena tidak biasanya melihat kegelisah Calvin.


“Ada apa?” Alice turun dari mobil dan mendekati suaminya yang sejak tadi terlihat mondar mandir di depan pintu.

__ADS_1


Calvin memeluk istrinya dengan sayang, lalu mengecup wajahnya berulang kali.


“Dari mana saja? Kau membuatku takut dan ponselmu? Kenapa tidak pernah membawa ponsel?”


Alice hanya cengir, matanya masih sembab sebab terlalu lama menangis di makan tadi.


“Aku ke makam ayah dan ibuku, aku merindukan mereka,” Alice tidak berbohong tetapi memtong cerita.


Menghela napas pelan, Calvin membawa Alice dalam pelukannya dan mengecup sayang pucuk pela istrinya.


“Kita masuk, kau psti lelah.”


Mereka berdua naik, memang belum terlalu sore karena Calvin sejak keberangkatanya tidak tenang sehingga meminta Samuel mengantarkannya kembali pulang, dan untungnya Samuel juga mendapat telpon dari asistennya di kantor sehingga kunjungan mereka ke resto Alice tertunda. Sesampainya di mansion Calvin tidak mendapati istrinya, dia tidak terlalu mengetahui kota ini jadi dia masih berharap Alice segera pulang.


Untungnya wanita hamil itu kembali, walau dengan mata sembab.


“Ada apa? Au melihatku sangat gelisah, aku baik-baik saja,” Ucap Alice dia kira setelah kepulangannya maka Calvin akan setenang biasanya tetapi rupaya ada masalah lain yang suaminya bawa.


“Pekerjaanmu apa masih lama disini?” tanya Calvin hati-hati berjongkok di depan istrinya.


“Ada pekerjaan di kantormu?” Calvin tidak menjawab tetapi perubahan sorot matanya Alice bisa mengetahuinya.


“Kembalilah lebih awal. Besok aku harus ke kantor,” katanya berbohong, dia belum bisa kembali karena terlalu lelah jika harus melakukan perjalanan lagi.


“Kau tidak apa-apa?” Alice mengangguk, tetapi matanya msih melihat sesuatu yang berbeda di mata suaminya, seperti ada sesuatu yang di rahasiakan. Tapi Alice tidak tahu apa itu. Dia tidak mampu berpikir terlalu banyak saat ini. Dan dia mengabaikan perasaannya yang mungkin saja salah.


“Aku mencintaimu, percayalah apapun yang terjadi hatiku hanya untukmu,” ucapnya memeluk Alice erat tetapi tidak membahayakan perut buncit Alice yang semakin terlihat menggemaskan.


Mereka berdua tertidur dengan lelap. Tidak, hanya Alice saja karena dia benar-benar lelah mengetahui semuanya dengan sekali tarikan napas. Sementara Calvin masih diam memandang ponselnya. Yang terus saja menyala.


Karena tidak ingin membuat Alie terganggu dengan cahaya dari ponselnya, Calvin keluar dan menerima panggilan itu dengan jantung yang berdebar takut jika Alice terbangun dan dia tidak bisa menjelaskan apapun.


“Tunggu aku di apartemenmu besok malam.” Setelah mengatakan itu dia kembali mematikan ponselnya dan masuk ke dalam kamar itu terbaring di samping istrinya. Membawanya dalam pelukan dan menciumnya dengan lembut.


***

__ADS_1


“Hati-hati, hubungi aku saat kau sudah sampai, hem.” Alice melerai pelukan suaminya. disana juga ada ayah Thomas yang baru saja datang dari kediamannya.


“Hem. Jaga dirimu dan kabari aku saat kau aka kembali pulang.” Alice mengangguk. Dan membiarkan suaminya pergi setelah berpelukan dengan ayah Thomas. Setelah kepergian Calvin Alice masuk dengan ayahnya, mereka akan ke taman belakang, membahas sesuatu yang menurutnya memang sangat penting.


“Jadi dia berniat menyerahkan semua perusahaannya?” kata Alice menatap ayah angkatnya. Dia sudah tahu tentang surat wasiat yang menurutnya sangat kekanankan karena harus mengorbankan seluruh hartanya.


“Katanya, baginya dia lebih memilihmu.”


Alice berdecak. Awalnya dia kecewa karena tahu bahwa suaminya melakukan hal kekanan itu padanya.


“Lalu bagaimana sekarang?”


“Ayah akan memantaunya,”


Alice mengangguk. Lebih baik menunggu sebentar untuk meliat bagaimana perlakuan suaminya selanjutnya.


Sementara itu malam harinya Calvin sudah sampai di kotanya, dia tidak langsung kerumahnya tetapi langsung menuju apartemen seseorang yang belakangan menganggunya.


Masuk dalam lift dengan wajah yang sangat datar. Dia harus menyelesaikan semua ini secepatnya. Menghela naps panjang dia keluar dari lift dan menuju kamar yang biasa mereka tempati untuk bertemu.


Baru saja dia akan menekan bel pintu sudah terbuka dan langsung menariknya masuk ke dalam kamar.


“Aku merindukanmu sayang,”


Mala memeluk Calvin sangat erat, melepaskan semua rindu yang selama ini terpendam di hatinya.


"Kau tidak merindukanku, Calvin?" tanyanya melonggarkan pelukannya.


"Kenapa kau kembali, Mala?"


Tentu saja alis wanita cantik di depannya mengkerut karena pertanyaan konyol yang prianya tanyakan.


"Tentu saja karena aku merindukanmu, kita sudah berjanji akan bersama, lalu kenapa sikapmu berubah?"


"Kita tidak akan bisa bersama, kau yang meninggalkanku."

__ADS_1


"Yah, tapi lihatlah aku kembali sayang, aku mencintaimu,"


__ADS_2