
Antonio mematung, jelas disana dia melihat kekecewaan diwajah wanita yang dicintainya sepenuh jiwa raganya.
"Aku tahu, kau kecewa padaku. Aku juga tahu kau marah padaku bahkan sangat membenciku. Tapi Alice, itu kecelakaan."
"Kecelakaan yang paman rencanakan."
Alice melanjutkan, "Paman tahu, kenapa sampai saat ini aku tidak membuat paman masuk penjara? Apa paman kira selama ini aku membiarkan pembunuh orang tuaku duduk manis?" Alice menghela napas lelah. Dia berdiri meninggalkan Antonio, masuk ke dalam ruang kerja ayahnya dan membawa sebuah kotak hitam berukiran klasik.
Alice melempar kotak tersebut ke atas meja kaca diantara mereka. Antonio mengambil kotak tersebut, membukanya perlahan.
Disana terdapat satu foto usang tetapi masih dapat dikenali wajahnya. Wajahnya dan kakaknya Advinson--ayah Alice.
Disana juga ada sebuah buku kecil seperti buku catatan, "Apakah paman tidak tahu bagaimana ayahku sangat menyanyangimu sebagai adiknya?"
Alice melanjutkan, "Tetapi bagaimana bisa paman dengan kejamnya menyingkirkannya? Apakah paman tidak pernah berpikir bagaimana perasaanku? Dia menganggapmu adiknya walaupun kalian tidak sedarah. Bahkan ayah menyerahkan sebagian besar hartanya padamu."
"Alice ...."
__ADS_1
"Karena paman mencintaiku? Baiklah! Buktikan cinta itu padaku. Serahkan diri paman ke pihak berwajib, ungkap kesalahan paman semuanya."
"Kau menginginkanya?" tanya Antonio menatap lamat wajah datar Alice
"Bukankah paman mencintaiku? Kalau begitu buktikan, buktikan kalau paman bertanggung jawab." Alice membuang wajahnya kesamping.
"Bagaimana kalau aku melakukannya? Bagaimana setelah kembali dari sini, aku menyerahkan diri dan mengakui semua kesalahanku, apa yang aku dapatkan darimu?"
"Apapun yang paman inginkan. Aku hanya ingin kedua orangtuaku beristirahat damai dengan paman menyerahkan diri kepihak berwajib."
"Berdirilah! Paman tidak pantas melakukan itu."
"Paman. Paman. Kenapa kau selalu memanggilku dengan sebutan itu? Aku bukan pamanmu. Aku dan ayahmu bukan saudara sedarah Alice!!" Antonio berdiri, dia menarik keras rambutnya pusing sekali rasanya menjelaskan pada wanita di hadapannya.
"Baiklah! Aku akan menyerahkan diri saat ini juga, aku akan buktikan bahwa aku mencintaimu, andaikan saja aku dihukum seumur hidup, atau bahkan dijatuhkan hukuman mati sekalipun, kau harus ingat, aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri." Antonio menekan setiap ucapannya membuat Alice percaya padanya sangatlah penting.
Antonio mendekat, memeluk Alice yang tidak bereaksi apapun, "Percayalah! Jika ini adalah akhir hidupku, aku ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, aku akan bawa mati cintaku padaku." Antonio melerai pekukannya dan mengusap pipi Alice yang merah karena menahan amarah.
__ADS_1
"Jagalah dirimu baik-baik. Aku mencintaimu." Sekali lagi ungkapan cinta itu keluar, Antonio berlalu membawa luka hati, tetapi ada perasaan lega, karena bisa memeluk wanita yang sangat di cintainya--Alice.
Di luar Antonio berpapasan dengan Edgar, dia yang tidak ingin memikirkan apapun mengabaikan Edgar yang berdiri menatapnya dalam kebingungan.
Setelah memastikan Antonio berlalu, Edgar masuk, dia masih bisa melihat Alice yang duduk dir ruang tamu dengan wajah memerah menahan amarah. Edgar mendekat, berdiri dihadapan Alice dan membawa wanita itu dalam masuk dalam pelukannya.
Alice menangis tersedu, posisi kepalanya berada di perut Edgar saat ini, pria itu terus mengusap rambut Alice, memberi ketenangan.
"Menangislah! Jangan ada yang kau pendam sendiri." dalam beberapa menit Alice menangis pilu, dia merindukan kedua orang tuanya.
"Ingin ke makan ayah dan ibu?" kata Edgar setelah tangis Alice reda.
"Aku merindukan mereka."
"Kita akan menjenguknya sebelum berangkat, jadi sekarang tenangkan dirimu." Alice mengangguk, dia memeluk pinggang Edgar dan kembali terisak.
"Akhirnya kau memelukku." goda Edgar.
__ADS_1