Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 9 | Kau sengaja


__ADS_3

Pagi-pagi sekali disebuah kamar hotel seorang wanita mengeliat merenggangkan otot-ototnya. Dia menatap langit-langit kamar kemudian menoleh ke arah samping dimana seorang pria tampan tengah tertidur dengan pulasnya disana.


Arabella dengan nakalnya meraba dada bidang itu, memainkan tangannya disana. Dia terkekeh geli saat melihat si pemilik bereaksi karena ulahnya.


Dan benar pria tampan dengan sedikit bulu halus diwajahnya itu terbangun. Mata indahnya terbuka dan langsung menangkap jari nakal yang tadi membuatnya frustasi. Di ingatkan kembali Edgar tetaplah pria normal.


"Kau sengaja menggodaku?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Aku memang sengaja menggodamu, Tuan". Kekeh Bella pelan.


"Jangan bermain terlalu jauh, sudah cukup seperti ini, hm". Ucap Edgar menatap wajah Bella yang terlihat kembali kecewa.


Mereka memang sering tidur bersama, dikasur yang sama, bahkan tampa rasa malu Bella sering naked didepan atasannya. Merayu dan menggoda duluan. Tidak ada penolakan dari Edgar, bahkan sesekali jika ingin pria itu akan bermain dengannya. Namun sejauh ini Edgar belum memasuki Bella, atau mungkin tidak ingin memasukinya, itulah yang membuat wanita cantik itu semakin semangat menjajakan dirinya pada atasannya.


Dia tidak ingin menjebak Edgar dengan minuman atau apapun yang membuat mereka akhirnya menyatu. Tidak. Arabella sudah mempertimbangkannya justru cara itu akan membuat nya semakin jauh dari pujaan hatinya.


Dia hanya perlu menunggu. Dia yakin tidak ada seorang pria normal akan tahan bila terusan dihidangkan kenikmatan tampa di cicipi bukan?


Dengan gerakan sensual Arabella mengangkat sedikit tubuh bagian atasnya sehingga selimut tebal yang tadi menutupi bagian atasnya hampir merosot kebawah. Edgar melihat itu. Dan dengan cepat memalingkan wajah. Dan menyarankan Bella memperbaiki selimutnya. Dia menuruti. Dan Kembali membuat tatapan Edgar kembali padanya.


Dia mengecup lembut bibir Edgar, sangat lembut, kemudian mengusapnya dengan jempolnya perlahan. Bella tersenyum teduh karena Edgar tidak pernah menolak saat dia menciumnya.


"Angkat selimutmu, itu merusak mataku". Tegur Edgar kembali menyadari selinut itu akan melorot, Wajah Edgar tetap datar. Tetapi tidak terdapat aura marah disana.


Arabella tersenyum karena lagi-lagi Edgar menolaknya halus. Dia menaikkan kain selimut dan menutupi dadanya. Lalu bersandar di dada bidang pria itu. Memainkan jemari lentiknya diperut yang tidak tertutup kain.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Edgar hawatir karena walaupun hanya sentuhan diperut sudah membuatnya pusing. Wanita ini sangat berbahaya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin -".


"Ingin apa, Nona? Dengan secepat kilat kini Edgar yang membalik Bella dan berada di atas tubuh Bella tampa menindih.

__ADS_1


Jantung keduanya berpacu sangat kencang. Hasrat Edgar sudah sampai di ubun-ubun, dia sudah tidak tahan terus menolak hidangan gratis didepannya. Tampa aba-aba dia mendekatkan wajahnya ke Bella meniup wajah halus itu dengan nafas hangatnya membuat Bella meremang.


Bella menutup mata, takut dengan apa yang akan terjadi, namun sedetik kemudian dia merasakan sesuatu yang lembut di keningnya. Dia membuka mata. Dan melihat Edgar mencium keningnya. Arabella reflek memegang dahi yang baru saja mendapat hadiah itu.


Bibir hangat itu sekali lagi mendarat disana.


"Jangan memimpikan hal lebih, hm" kata Edgar bangkit dan memasang kembali baju kaosnya. di masih duduk ditepi kasur membelakangi Arabella yang merasa dongkol.


"Bangunlah, aku akan mengajakmu kesuatu tempat setelah sarapan". Edgar bangkit namun dia merasakan tangannya dicekal


"Tuan..apakah kau memang tidak pernah tertarik padaku?". Tanyanya memperhatikan punggung itu. Edgar tidak berbalik.


"Jangan buang waktumu, aku yakin akan ada seseorang nanti yang akan menerimamu". Kini Edgar berbalik dan kembali duduk membetulkan selimut yang hampir saja melorot lagi.


"Gunakan selimut dengan benar, andai saja bukan aku disini mungkin kau akan menyesal karena tidak bisa menutup dengan baik tubuhmu". Masih mengomel seperti seorang kakak yang mengomeli adiknya yang keras kepala.


Arabella hanya mengerucutkan bibir. "Aku tidak akan menyesal jika Tuan orangnya".


"Ck, jangan memulai Bell, kau tahu aku tidak mungkin memecatku karena kau cukup mampu dibidangmu kan?"


"Bagaimana mungkin aku tidak tertarik padamu, Tuan kau selalu saja terlihat menggoda". Gerutu Arabella yang hanya disambut kekehan dari Edgar.


Bagi Edgar Arabella sangat mirip dengan Alice sama-sama suka mengatakan sesuatu terang-terangan. Mengingat wanita itu Edgar semakin merindukannya. Rindu yang sesungguhnya. Bukan rindu palsu yang hanya rindu saat mengingat saja. Namun rindu yang saat mengingatnya rindu itu berkembang semakin besar setiap harinya


Dikediaman Calvin. Pria itu menatap istrinya yang terlihat semakin cantik karena pipinya sedikit berisi.


"Sayang, kau meminum obat gemuk? Kuperhatikan kau terlihat semakin berisi.


Sontak saja pernyataan Calvin membuat Alice tersendak, dengan cekatan dia mengambilkan air untuk istrinya.


"Hati-hati". Kata Calvin panik.

__ADS_1


"Baiklah aku akan berangkat awal, kemungkinan aku akan menginap beberapa hari lagi".


Calvin hanya mengangguk malas. Dia sebenarnya tidak menyukai istrinya harus bekerja jauh. Namun dia juga tidak bisa menjalankan perusahaan milik mertuanya karena surat perjanjian yang dia buat dulu. Dan sialnya dia menyesali itu.


Dia menyesal pernah membuat perjanjian tertulis sebelum melihat calon istrinya. Dan Bella tidak mengetahui perkara perjanjian yang suaminya dan pihak keluarganya buat.


Dia hanya mengikuti wasiat orang tuanya menikah dengan Calvin dan mendapatkan perusahaan ayahnya. agar tidak jatuh ketangan yang salah. dia tahu ada seseorang yang sangat menginginkan semua harta ayahnya dan dia belum mengetahui siapa sebenarnya orang itu. Dia yakin semua ini ada kaitannya dengan kematian kedua orang tuanya.


Dikantor Calvin masih saja termenung bagaimana caranya membatalkan surat perjanjian sialan itu. Sampai tidak menyadari kedatangan Laura asistennya.


"Tuan minuman anda.." katanya sambil menaruh gelas berisi air diatas meja kerja dengan hati-hati.


"Bagaimana dengan kekuargamu? Kau jadi mengunjungi mereka?"


"Mereka baik Tuan. Dan Luce menitipkan salam pada Tuan". Laura masih berdiri dengan senyuman termanis. Dia bertekad akan menaklukkan pria didepannya. Awalnya dia hanya mengikuti perihtah kakaknya, namun karena tamparan yang Alice berikan padanya dia semakin bertekad membuat wanita sialan itu menderita.


"Tuan, apakah Nyonya masih marah?"


Calvin tidak menjawab.


"Maafkan saya Tuan, ini salahku". Ucapnya lirih


"Sudah ini juga salahku".


Laura mendekat, dan semakin dekat tiba-tiba duduk diatas pangkuan Calvin.


"Laura.... Apa yang kau lakukan?" Calvin akan berdiri namun tangan Laura menahan bahu Calvin.


"Tuan..tenanglah". Laura mencoba berbicara dengan lembut.


Laura memainkan jemarinya dari bahu, turun ke lengan dengan sangat halus.

__ADS_1


"Tuan, bagaimana jika aku hamil?" Laura menatap wajah datar Calvin yang menahan amarah. Seketika berubah pucat.


"Hamil....?


__ADS_2