
Seminggu setelah kejadian...
Dalam seminggu ini Alice dan Calvin terlibat perang dingin, sebenarnya Alice yang tidak ingin berbicara lebih tepatnya, hubungan mereka semakin lama semakin tidak bisa dikatakan baik, Alice atau Calvin lebih sering pulang larut malam, tentu dengan alasan berbeda, Jika Calvin pulang larut malam karena merasa sesak karena terus-terusan diabaikan. Sedang Alice tentu saja karena memang tidak ingin bertatap muka dengan Calvin. Tiap kali mata mereka tak sengaja bertemu rasa sakit hati Alice semakin bertambah.
Disinilah mereka saat ini dimeja makan, menikmati sarapan mereka, moment yang jarang terjadi setelah insiden waktu itu. Dan dalam keadaan terpaksa Alice harus berada satu meja dengannya. Ya mereka berdua libur ke kantor jadi seperti biasa mereka akan di mansion manghabiskan waktu bersama.
Jika kemarin mereka akan menghabiskannya dengan melepas rindu, sepanjang hari didalam kamar. Berbeda dengan saat ini, bahkan setelah kejadian itu Alice memutuskan menempati kamar lain. Dan Calvin hanya bisa mengalah, setidaknya asal dia masih bisa melihat istrinya didalam mansion maka tidak mengapa, walaupun hatinya sangat rindu saat ini.
"Alice, apa kau masih marah? Aku mohon jangan menghindariku". lirih Calvin sekarang sudah berada disamping Alice dan memegang tangan Istrinya.
Alice masih terdiam.
"Aku tahu aku memang bersalah, dan aku juga sudah mengatakan bahwa kau salah faham". Bujuknya lagi.
"Alice.."
Alice menoleh melepas tangannya yang digenggam tadi, ia hendak jalan melangkah ke kamarnya tapi langkahnya terhenti karena tubuh kekar Calvin memeluknya dengan erat dari belakang.
"Aku mohon, bicaralah! Maki-maki aku, luapkan semua kemarahanmu, asalkan kau bersuara".
Alice masih terdiam, ada rasa bersalah di lubuk hatinya saat merasakan bahu yang memeluknya bergetar. Dan terdengar isakan kecil. Calvin menangis.
Alice melepas pelukan suaminya dan menghadap kearahnya, sekarang dia bisa melihat dengan jelas mata indah yang sangat meneduhkan itu sekarang berair.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Alice lembut sambil menghapus jejak air mata itu.
"Bukankah sudah kukatakan malam itu untuk mencoba melupakan rasa cintamu yang baru tumbuh, dan itu belum terlambat, masih bisa dihentikan".
Ucap Alice panjang lebar mengingatkan kembali percakapan mereka malam itu.
Flashback
" Apa maksudmu?" Tanya Calvin tidak mengerti " Aku akan memberikanmu satu kali lagi kesempatan, tapi aku tidak yakin akan bisa kembali bersamamu walaupun kau berjuang". Calvin mengerutkan dahi.
"Waktu enam bulan yang ku maksud adalah waktu untukmu mengenali perasaanmu sendiri, mungkin saja kau memang salah mengatakan mencintaiku.
__ADS_1
Flashback off
Hanya helaan nafas yang terdengar dari Calvin memhuat mereka kembali terdiam tapi saling menatap, terlihat jelas didalam sorot mata Calvin bahwa dia sangat mencintai istrinya dan Alice percaya itu, tetapi satu hal yang tidak bisa dia toleransi bahwa dia tidak akan memaafkan jika prianya tidur dengan wanita lain.
"Bagaimana mungkin aku sanggup?" Ucapnya lirih, ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Tu- tuan, maafkan saya". Kata Bram selaku keamanan di gerbang depan, ia merasa tidak enak hati dan merutuki diri karena tidak sengaja melihat Tuan dan Nyonya nya tengah berpelukan.
Alice yang menyadari langsung melepas pelukan suaminya, dia malu Karena kepergok, jadi ia segera berbalik dan akan kembali ke kamarnya sebelum Bram menjawab pertayaan Tuannya ada urusan apa sehingga dia terlihat sangat terburu-buru, Alice yang namanya disebut lantas terdiam dan berbalik dengan wajah bingung.
"Siapa?" Ulangnya merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Namun dia sangat yakin bahwa yang di dengarnya memang benar.
"Aku?" Menunjuk dirinya sendiri, menatap suaminya yang terlihat terpaku yang mengetahui siapa tamu mereka sepagi ini.
"Baiklah, bawa dia masuk dan menunggu". Jawab Alice masih memandang suaminya, dengan tatapan datar dan dingin.
"Aku tidak percaya wanita itu berani menginjakkan kakinya kembali kesini". senyumnya sinis pada Calvin dan setelah itu dia berlalu menemui tamunya yang tidak pernah di undang namun datang kembali.
Calvin yang terkejut karena tiba-tiba saja Laura datang sepagi ini membuatnya ikut melangkah keluar menyusul istrinya. Dia tidak ingin ada keributan sepagi ini.
"Katakan". Ucap Alice memecah keheningan setelah beberapa saat terdiam.
Alice masih membelakanginya dengan tangan bersidekap di atas perut. Penampilan wanita itu saat ini sangat cantik, dress berwana hijau daun dan rambut yahg dikuncir rendah semakin membuatnya makin cantik, jangan lupakan bibir tipis, hidung mancung dan mata indah dengan bulu mata lentiknya. Alice sangatlah sempurna, tetapi sesempurna apapun jika prianya tak setia maka semua itu percuma.
"Maafkan saya Nyonya". Laura memberanikan dirinya.
"Kenapa baru sekarang kau datang?" Tanya Alice kini berbalik menghadap wanita yang sangat tidak ingin dia lihat sejujurnya.
"Maafkan saya, seharusnya saya segera meminta maaf saat itu, tetapi-"
Laura bingung harus mengatakan apa sekarang.
"Tapi apa?" Tuntut Alice
"Nyonya saya bersalah, tolong maafkan saya, apa yang terjadi waktu itu memang salah saya". akunya kini menuduk
__ADS_1
Alice yang mendengar itu hanya tersenyum kecut. Sedangkan Calvin semakin tidak bisa berkata apa-apa, mendengar pengakuan asistennya.
"Baiklah, jika sudah tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan kau boleh kembali". setelah mengatakan itu Alice hendak melangkah untuk pergi karena merasa pembahasan ini tidak berguna namun pengakuan Laura membuatnya terdiam dengan jantung yang berdetak kencang.
"Ucapkan sekali lagi". Desisnya dengan nada rendah. Namun terdengar sangat dingin. Alice belum berbalik.
"Maafkan saya nyonya, saya memang mencintai Tuan, dan saya -" belum sempat laura melanjutkan penjelasannya sebuah tamparan keras mendarat di pipinya membuat kepalanya refleks kesamping dengan rambut yang menutupi sisi wajahnya.
Plak
"Itu karena kau sudah lancang tidur dengan suamiku".
Belum sempat laura membela diri sebuah tamparan kembali mendarat di wajah sebelahnya, membuatnya semakin pening, terlihat jelas luka sobekan di sudut bibirnya.
Plak
"Ini karena kau tidak tahu malu mencintai suamiku".
Plak
Satu tampan mendarat lagi.
"Ini karena kebodohan dan keberanianmu merusak rumah tanggaku".
"Hentikan!". Bentak Calvin melihat istrinya membabi buta Laura tampa ampun. Alice menepis tangan Calvin yang menahan tangannya diudara saat akan memberi tamparan lagi ke Laura.
"Woah, kau datang terlambat Tuan Calvin". Setelah mengatakan itu Alice meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam kamar. Rasanya kepalanya akan meledak saat ini. Mendengar dan melihat kenyataan yang membuat matanya perih.
"Kalian berdua memang brengsek".
Suara pecahan kaca melengking didalam ruangan, Alice melampiaskan semua kemarahannya yang masih tertinggal dengan menghancurkan semua yang ada dikamarnya.
"Kau akan menanggung akibatnya Calvin Riveira" teriaknya dengan emosi yang semakin memuncak.
Setelah itu Alice memilih kekamar mandi, berendam agar emosinya bisa berkurang.
__ADS_1