
Edgar terkejut dan melihat telur mata sapi buatannya sudah menghitam dengan asap yang juga mengepul. Alice yang melihat itu langsung membawa anaknya keluar agar tidak menghirup asap di dapur. Dan setelah memastikan Orlando ditempat yang aman, Alice kembali lagi melihat kacaunya dapaur mereka.
"Maaf." Edgar menampilkan gigi putihnya dan siap menerima amukan.
"Diluar dulu, kakak bisa bermain dengan Orlando, aku akan membereskan kekacauan ini." Alice beralih didepan kompor yang diatasnya masih ada telur hitam buatan Edgar.
"Hem. Sepertinya aku memang lebih cocok bermain bersama putraku."
Alice mengangguk kecil, Edgar memang sudah mengklaim Orlando sebagai putranya sejak putra semata wayangnya itu lahir ke dunia.
Di ruang tengah, Edgar dan Orlando bermain bersama, mereka saling menyayangi satu sama lain. "Papa ... Momny tidak ingin bertemu Daddy lagi?" mendadak tawa Edgar berhenti.
Dia memperhatikan wajah Orlando seksama, memang jika di perhatikan dengan seksama, Orlando adalah versi Calvin kecil.
"Bukan tidak ingin, mungkin Mommy memang belum sempat. Orlando rindu Daddy ya?" wajah itu mengangguk mantap, tetapi Edgar tetap saja tersenyum, bagaimapun darah lebih kental dibanding air.
"Kita hubungi Daddy setelah minta izin Mommy, ya?"
Orlando menggeleng, "Mommy tidak akan suka."
__ADS_1
Edgar menghela napas pelan, anaknya sudah semakin besar saja. Yang tidak mereka berdua ketahui, Alice mendengar obrolan keduanya. Hatinya terganggu, bagaimana bisa Orlando masih saja tetap mencari ayahnya yang jarang ditemuinya.
"Kalau begitu, ayo kedapur mungkin Mommy sudah selesai membuat makanan spesial untuk kita."
Orlando mengangguk dan naik dalam gendongan Edgar. Di dalam hati pria yang menjadi cinta pertama Alice itu terus berdoa semoga jalannya mendapatkan anak dan ibunya di mudahkan.
Di dapur, kedua pria itu sudah di sambut baik oleh wanita paling cantik di dunia. Alice memamerkan senyumnya, seolah tidak mendengarkan apapun tadi.
"Ta daa ... Makanan spesial untuk dua pria spesial." Orlando berbinar karena mendapatkan telur mata sapi impiannya, bulat sempurna. Sementara Edgar, jantungnya akan jatuh untuk kedua kalinya karena ucapan Alice.
Ketiganya makan bersama, dengan tenang dan hati yang gembira. Hari ini adalah hati terbaik untuk Edgar karena Alice seperti membuka jalan untuk mereka bersama.
Alice tidak memungkiri bahwa Calvin juga bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya, dia bisa melihat bagaimana Calvin menyayangi anaknya, tetapi ... ada hal yang tidak bisa Alice kesampingkan, terlalu lama membiarkan Calvin dekat dengan Orlando tentu membuatnya khawatir.
Takut kalau tiba-tiba saja Orlando memintanya tetap bersama Calvin. Hal ini bukan karena Alice masih memiliki perasaan untuk mantan suaminya, tetapi karena dia tidak akan mampu menolak permintaan anaknya.
"Lamunkan apa?" Edgar masuk ke kamar Akice setelah menidurka Orlando. Pria tampan dengan postur tubuh sempurna itu duduk di sebelah Alice dan menggenggam tangan wanitanya lembut.
"Orlando merindukan Calvin, ya? Bagaimana caranya agar anak itu tidak lagi memikirkan pria yang tidak pantas menjadi ayahnya."
__ADS_1
"Alice ... Calvin ayah kandungnya. Sebagai anak, sudah benar Orlando merindukan ayahnya."
"Kau ayahnya."
Edgar tersenyum tipis, dia ingin berteriak karena senang tetapi, harga dirinya harus tetap terjaga.
"Hem, aku ayahnya. Tapi ... Calvin ayah kandungnya." Edgar mendengar helaan napas Alice, dia yang sudah gemas langsung melanjutkan, "Kalau kau izinkan kita bisa membuat adik Orlando, bagaimana?"
Satu cubitan Edgar dapatkan, "Sejak kapan kakak se mesum ini?"
Edgar tertawa, semakin membuat Alice curiga, "Jangan bilang kakak pernah melakukannya bersama Arabella?" mata Alice melotot sempurna dengan mulut ditutup tangan.
"Eh ... Aku ini pria baik-baik. Aku sudah tekadkan akan melakukannya bersamamu."
Bugh
Satu pukulan di lengan, "Ampun. Kau ini kenapa semakin galak!"
Alice memalingkan wajah, kesal dan malu dalam waktu bersamaan.
__ADS_1