
"Kemarin, saat kau membawa istriku," jawabnya santai meletakkan ponselnya di samping gelas kopinya.
"Kebetulan kau disini, aku akan mengajakmu jalan-jalan, kebetulan kami memiliki resto yang sangat enak, kau bisa makan gratis disana,"
Calvin menoleh pada istrinya, wanita hamil itu hanya diam, memang mereka tidak pernah membahas apapun sebelum mengetahui Alice mengandung. Kehidupan mereka sebatas suami istri yang pembahasannya hanya di dalam mansion saja. Tidak pernah ada pembahasan tentang bagaimana dunia kerja mereka masing-masing.
Alice yang tahu dirinya di tatap, juga menatap balik suaminya, memberikan senyuman yang hangat. Tidak ada rasa bersalah apapun di hatinya karena sampai sekarang mereka memang tidak terlalu terbuka dalam hal di luar mansion.
"Baiklah, aku ikut asal Alice juga pergi bersama kita,"
"Tidak!"
Calvin dan Samuel sama-sama terkejut karena Alice sedikit meninggikan suaranya. Sadar akan kesalahannya, Alice segera minta maaf pada keduanya.
"Maksudku, aku tidak bisa ikut, kalian pergilah,"
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Calvin yang khawatir. Tetapi karena Alice menggeleng dia tersenyum, mungkin saja istrinya lelah. Pikirknya.
Tetapi Samuel tentu tahu apa yang mengganggu pikiran adik sepupunya sehingga dia hanya tersenyum dan berharap, adik perempuannya tidak melakukan hal-hal aneh.
"Kau serius baik-baik saja? Kami tidak akan kemana-mana jika memang kau merasa tidak baik," Samuel jelas melihat kegundahan adiknya.
"Tidak apa-apa, ajaklah dia jalan-jalan,"
Samuel mengangguk, begitupun dengan Calvin, tetapi kemudian panggilan di ponsel Calvin bergetar, dengan wajah sulit di artikan Calvin undur diri untuk menjawab panggilan telponnya.
"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Samuel setelah melihat Calvin menjauh.
"Kakak tenang saja, aku baik." Balasnya dengan senyuman hangat.
Setelah kedatangan Calvin, Alice maupun Samuel mengubah topik mereka, sekali lagi Alice tidak ingin Calvin tahu drama keluarganya sebelum dia benar-benar mengetahui fakta yang ada.
Setelah sarapan, Calvin dan Alice kembali naik ke lantai atas, Calvin akan pergi bersama Samuel. Dan Alice sudah meminta sepupunya untuk kembali sore nanti. Samuel jelas menolak tetapi karena Alice memohon dengan wajah meyakinkan akhirnya Samuel menyetujui.
"Kau serius tidak ingin ikut?" Tanya Calvin untuk kesekian kalinya.
"Tidak! pergilah dengan kak Samuel, aku tunggu di rumah saja,"
Karena Alice sudah memutuskan maka tidak ada yang bisa mengubah itu, Calvin mengecup sayang kening istrinya sayang, lalu menunduk dan mwngecup perut buncit Alice yang terlihat seksi.
Calvin pergi bersama Samuel, dia ingin menolak tetapi juga tidak enak, ini pertama kalinya dia berbaur dengan keluarga istrinya jadi akan sangat tidak sopan jika dia harus menolaknya.
Setelah memastikan Calvin sudah jauh bersama Samuel, Alice juga terlihat tergesa-gesa, dia akan pergi mencari tahu kebenarannya hari ini.
__ADS_1
Sepanjang jalan dia terus memikirkan sejuanya, apa tujuan pamannya tega melakukan hal itu pada keluarganya, jika karrna harta, bukankah mereka mendapatkan hak yang tidak sedikit, sementara mereka tidak memiliki hubungan darah sedikitpun.
Dan tibalah dia di sini sekarang, di depan mansion mewah milik Antonio, paman tirinya.
Dengan langkah pelan, dan jantubg yabg berdetak tidak karuan, dia meyakinkan diri bahwa tujuannya sudah benar. Dia akan mencari tahu motif pamannya.
Baru saja dia akan menekan bel, terlihat pintu sudah terbuka, menampilkan pria seusia suaminya berdiri tegak dengan senyuman menawan di sana.
"Alice …."
"Paman, maaf tidak mengabarimu sebelumnya,"
"Tidak masalah, ayo masuklah!"
Alice masuk, dan duduk di sofa dengan tsngan sedikit gemetar. Antonio melihat itu, hatinya tercubit.
Antonio meminta pelayan membuatkan mereka minuman, dan buah-buahan yang sudah di potong-potong untuk Alice, mendengar itu Alice bergeming, tujuannya adalah mengetahui motif pria di depannya memisahkannya dengan orang tuanya.
"Paman … bisakah paman katakan dengan jujur, apa tujuan paman memisahkanku dengan ayah dan ibuku?" Suaranya bergetar, matanya sidah berkaca-kaca.
"Alice … tolong tenang dulu, kau boleh membenci paman, tetapi tolong dengarkan paman,"
"Jadi benar?" Tanyanya lagi, kemarin dia sudah tahu jawabannya tetapi dia datang kembali memastikan karena baginya ini sangat tidak masuk akal.
Alice terlihat ingin menyela tetapi Antonio dengan cepat melanjutkan.
"Kakekmu, ayah dari ayahmu Advinson adalah ayahku juga, tetapi aku hanya anak bawaan dari istri keduanya." Alis Alice mengkerut karena tidak mengerti, Antonio melanjutkan "Ibuku adalah istri keduanya, dan sialnya saat itu ibuku tidak tahu bahwa kakekmu sudah memiliki istri sebelumnya."
Menghela napas panjang Antonio kembali melanjutkan "Karena itulah nenekmu, menyerang ibuku karena menganggap ibuku perempuan tidak baik karena merebut suaminya. Dan yang sebenarnya memang ibuku tidak tahu, dia hanya ingin membuatku dan Laura memiliki ayah sama seperti anak-anak yang lain. Tetapi sialnya, serangan yang nenekmu berikan membuat ibuku jatuh sakit dan pergi meninggalkanku bersama Laura kecil.
Dada Alice sakit mendengarnya, dia tidak tahu cerita ini.
"Jangan membual untuk melindungi dirimu paman,"
Antonio hanya tersenyum miring, sudah tahu bahwa Alice tidak akan percaya tetaoi dia tidak akan menutupi sejuanya sekarang.
"Ayahmu tahu cerita ini, tetapi sepertinya dia memang tidak ingin memberi tahumu."
"Lalu, kenapa paman membunuh orang tuaku, bukankah dendam paman pada nenek? Kenapa melampiaskannya pada ayah dan ibuku!" Desisnya.
"Paman membenciku? Karena itu paman mengambil orang tuaku juga, kenapa?"
Antonio menggeleng, dia tidak membenci Alice, tetapi mencintainya, bagaimana dia akan katakan, bahwa dia menginginkan wanita di depannya ini.
__ADS_1
"Kenapa paman tidak meleyapkanku juga? Paman ingin membuatku merasakan bagaimana rasanya sendiri?"
Akice tertawa sumbang, kakek dan neneknya yang bersalah, tetapi dia juga merasakan akibatnya.
Air matanya mengalir begitu saja, haruskan dia marah? Sementata keluarganya adalah penyebab awal dari aemua ini?
"Maafkan aku Alice … aku, jika memang kau berniat menghukumku maka hukumlah aku, tapi jangan menangis, hem," Antonio mendekati Alice yang sudah tersedu karena memikirkan nasib kelaurganya.
Merasakan tangab Antonio, Alice menepisnya dan berdiri membuat Antonio mengerutkan dahi.
"Apakah paman tidak puas membuatku kehilangan orang tuaku, sehingga paman meminta Laura meniduri suamiku?" Tanyanya dengan tatapan sendu.
Dia merasa sangat miris sekarang. Antonio menggeleng, karena tidak bisa melihat kesedihan Alice. Awalhya dia hanya ingin memilikinya, entah Alice suka atau tidak padanya, tetapi melihat air mata itu, hatinya mencelos kecewa.
"Alice, kau salah paham padaku,"
"Salah paham bagaimana paman? Aku yakin paman memang meminta Laura menggoda Calvin. Aku tidak percaya paman membenciku sedalam itu, bukan aku yang salah laman tapi kakek dan nenekku!"
Alice mengambil tasnya, dan akan pergi jika terlalu lama dia tidak akan bisa menguasai dirinya, tidak ada kak Samuel bersamanya, dia tidak tahu apa.yang akan terjadi padanya nanti.
Tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Antonio yang semakin membuatnya tidak percaya.
Tubuhnya mematung, dia tidak bisa berbalik karena keterkejutannya.
"Aku mencintaimu, maafkan aku," Antonio mengatakannya dengan lirih tetapi Alice dengan jelas mendengarnya.
"Omong kosong apa ini paman?" Berbalik dan menatap mata yang memang indah.
"Aku memintamu pada kak Advinson, tetapi dia tidak mengindahkan perasaanku, dia memberiku semua hak yang seharusnya untuku, agar aku tidak mencoba mendekatimu, tetapi … Alice, aku tidak membutuhkan semua itu, aku hanya ingin dirimu." Jelasnya panjang kali lebar.
"Kau tahu, kau di jodohkan karena apa? Karena ayahmu takut aku meraihmu, dia menikahkanmu dengan pria yang jelas-jelas tidak menginginkanmu,"
Alice tidak terima dengan apa yang dia dengar, karena sejak awal suaminya lah yang lebih menunjukkan cintanya.
"Calvin, dia bahkan bersumpah tidak akan mendatangi kediamanmu, kau tahu karena apa? Karena dia berjanji tidak akan terlibat dengan apa yang menyangkut dirumu."
Pikiran Alice menerawang ke tahun sebelumnya, dimana Calvin memang tidak ingin mengunjungi kediamannya, bahkan tidak pernah mau menemaninya datang ke makan ayah dan ibunya. Apakah itu wajar.
Tentu saja tidak.
"Dari mana paman tahu?" Alice ingin tahu semuanya.
"Kau tidak perlu tahu soal itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa suamimu tidak sebaik itu.
__ADS_1