
Tidak tetasa waktu berputar begitu cepat, Laura yang sudah pasrah dengan hukuman yang kakaknya terima hanya bisa bersabar dan menunggu sang kakak keluar. Tidak ada jalan lain, setidaknya dia bangga karena kakaknya mau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan di masa lalu, walaupun sebenarnya dia melakukannya karena ingin mendapatkan simpati dari wanita yang dia cintai.
Calvin sudah bisa menunjukkan pada sang ayah bahwa dia bisa berdiri sendiri dengan kerja kerasnya selama ini. Calvin sudah bisa memperkerjakaan banya orang, bahkan pabrik jagung miliknya sudah menjadi sangat besar.
Calvin tentu bangga dengan dirinya sendiri karena bisa menjadi seperti sekarang. Setiap penghasilannya setiap bulan dia sisihkan dan sebagiannya sumbangkan atas nama Alice dan Orlando--putranya.
Calvin tahu, sekuat apapun dia meminta Alice kembali, mantan istrinya tidak akan bisa dia raih kembali. Terlalu banyak luka yang Calvin torehkan selama ini.
"Kau lelah?" Calvin memberikan satu cup minuman dingin untuk wanita yang selama ini menemaninya berjuang kembali. Wanita itu menganbilnya dan menyerut sedikit dengan gelengan pelan.
"Hanya beberapa persen lagi, setelah itu selesai." Calvin saat ini tengah duduk menyaksikan pembangunan kantor miliknya, hanya beberapa persen lagi, kantor bertingkat ini akan selesai.
__ADS_1
"Hem. Kerja keras Tuan memang wajib diacungi jempol." Laura juga terlihat bangga dengan pencapaian mantan atasannya. Ah, mereka sudah bekerja sama kembali, berarti sudah menjadi atasannya swtwlah dia mengundurkan diri saat itu.
"Demi Orlando, anak itu harus memiliki sesuatu dari ayahnya, 'kan?" Laura mengangguk.
"Sudah dua tahun, dan Alice seolah sengaja tidak menampakkan dimana dirinya sekarang. Apakah dia sudah menikah atau belum. Dia benar-benar menghukumku dengan sungguh-sungguh." Calvin mendesah pelan, dia lelah, selama ini dia terus mencari informasi dimana Alice membawa putranya, tetapi satupun tanda tidak ditemukannya.
Alice memang sangat pandai dalam bersembunyi, sejak dulu.
Calvin semakin mendesah, "Andai saja, waktu bisa diputar kembali."
Laura terdiam, Calvin benar, andai saja waktu bisa diputar kembali, dia akan mencegah kakaknya untuk melakukan kesalahan itu, kalau perlu dia akan melakukan apapun asalkan kakaknya tidak dijalan yang salah.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kakakmu? Mala masih sering menjenguk?" tanya Calvin. Dia sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi pada wanita itu. Sedikitpun sudah tidak ada.
"Tuan masih memikirkannya?"
Calvin tertawa, "Apakah kau percaya kalau aku sudah tidak memiliki rasa lagi untuknya?"
Laura hanya mengedikkan bahu, mana dia tahu tuannya masih memiliki rasa atau tidak. Kecuali perasaan tuannya pada Alice baru Laura percaya masih ada.
"Aku memintanya sesering mungkin menjenguk kak Antonio, bagaimanapun ada anak diantara mereka, sudah seharusnya Melisa mengenal ayahnya." Calvin mengangguk paham.
Keduanya terlibat pembicaraan santai setelahnya, mengabaikan tatapan sendu dari seseorang yang sejak tadi berdiri diujung sana menyaksikan bagaimana tawa keduanya semakin membuatnya terluka semakin dalam.
__ADS_1
"Tuan, bagaimana bisa Anda menolak saya yang sudah lama menunggu, dan lebih memilih nona Laura yang hanya orang baru? Apakah karena saya miskin?" gumamnya berbalik meninggalkan tempat berdirinya sejak tadi. Niat awalnya ingin memberikan minuman dingin pada Calvin tetapi ternyata Calvin sendiri yang membawa minuman lain untuk diberikan pada Laura.