
“Ayo kita pisah!”
Seketika waktu seperti berhenti berputar. Tangan Calvin yang tadinya akan meraih sang istri tergantung begitu saja di udara, perkataan sang istri terus saja tergiang dikepalanya membuat jantungnya semakin tidak bisa dikendalikan detakannya.
Apakah memang rasanya selalu semenyakitkan ini mendengar kata itu keluar dari sang istri, bukan pertama tetapi sudah pernah, dan sakitnya semakin membunuh Calvin.
Gelengan lemah serta mata yang sudah memerah, “Ti-tidak sayang ja-jangan, jangan katakan apapun, hem,” Calvin semakin mendekat dan memeluk Alice erat.
Sementara wanita yang dipeluk saat ini tengah menatap tajam kearah wanita di belakang suaminya, wanita yang masih menggunakan jubah tidur dengan tatapan dingin membuat Mala tercekat.
“Lepaskan!” Alice mengeram kesal karena Calvin semakin erat mendekapnya.
“Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu!”
“Lepaskan berengsek!” Alice semakin kesal karena Calvin semakin kuat, mendekapnya.
Calvin yang menyadari itu, berusaha melonggarkan tetapi masih tetap memeluk Alice agar tidak lepas.
“Maafkan aku sayang. Aku salah. Tolong jangan tinggalkan aku,” Calvin terus mendekap istrinya.
“Aku salah. Aku bodoh. Heum, tolong maafkan aku,” Calvin terus bergumam, bahunya bahkan sudah bergetar. Tidak pernah dia bayangkan bahwa kebusukannya akan terungkap lebih cepat.
Bahkan sebelum Alice melakukan hal lain saja sudah membuatnya sangat takut.
Calvin melerai pelukannya setelah lama menangis di bahu sang istri yang sudah sangat rapuh, menangkup wajah yang sejak tadi tidak juga mengeluarkan air mata sedikitpun.
Apakah begitu sakitnya sampai air mata saja tidak ada? Calvin tidak peduli dia tidak akan melepaskan nyawanya. Alice nyawanya.
“Maafkan ak –”
Plak!
Seketika kembali hening. Mala sampai menutup mulut dengan kedua tangannya, karena tidak percaya. Sementara Calvin hanya diam, wajahnya sampai memaling kesamping kearah Mala, tetapi dia tidak mempedulikan Mala saat ini.
“Maaf? Maaf untuk apa? Maaf karena ternyata kebenarannya kau tidak pernah tulus padaku?” suara dingin Alice sangat melukai Calvin.
Sekarang pria itu tengah menggeleng lemah, dia tidak sanggup melihat kekecewaan itu.
Alice tersenyum sinis, “Jadi ini pekerjaan pentingmu sampai kau meninggalkanku Calvin?” masih dengan suara yang tenang tetapi mencekam.
“Alice aku tahu aku salah, sayang, maafkan aku heum, ayo duduklah!” Calvin mencoba menenangkan terlalu lama berdiri tidak baik untuk sang istri yang tengah mengandung.
“Sayang? Kau masih memanggilku sayang saat beberapa malam ini kau asyik memadu kenikmatan bersama kekasih lamamu?” Calvin semakin membola, terkejut tentu saja, tetapi menyangkalpun tidak ada gunanya.
__ADS_1
“Terkejut?”
“Say –”
“JANGAN MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN MENJIJIKKAN ITU TUAN CALVIN RIVEIRA!” Alice berteriak karena sudah sangat jengah.
“Kau tidak berhak memanggilku dengan sebutan murahan seperti itu!”
Calvin diam mematung karena sudah melihat air mata sang istri, rasanya lebih sakit saat tertangkap basah tadi. Istrinya menangis karena nya.
“Aku hanya datang untuk memperingatkanmu. Ayo berpisah karena aku tidak tahan berpura-pura lagi,”
Alice akan membalikan badan ingin meninggalkan ruangan, tetapi kakinya berhenti saat mendengar suara Mala yang mendekati Calvin dengan lembutnya. Senyum Alice tercetak dan kemudian membalikkan badan.
Sekarang dia sudah melihat pemandangan romantis, wanita cantik itu tengah mengandeng tangan sang suami yang enggan membalas, Alice melangkah membuat genggaman Mala semakin kuat.
Plak!
Calvin menutup mata saat melihat dengan jelas bagaimana Alice menarik paksa dan melayangkan tamparan untuk kekasihnya.
“Apa kau bilang tadi? Calvin kau dengar apa yang dia katakan?” tanya Alice tetapi tatapannya mengunci pada Mala.
“Kau tenang saja Nona, dia sudah menjadi milikmu. Kau tidak perlu bersembunyi lagi jika ingin kepusat perbelajaan, atau bahkan kau sudah bisa menggandeng tangannya kemana-mana sekarang,” kata Alice menjelaskan membuat Calvin lagi-lagi tidak bisa berkata-kata, artinya semua pergerakannya selama ini diketahui?
Bagaimana bisa?
Alice hanya terkekeh tetapi hatinya tersayat, “Aku bisa lihat! Aku bahkan bersyukur karena bisa mengetahui kebenaran ini sebelum anakku lahir, sehingga dia tidak melihat siapa ayahnya,”
“Tidak Alice, apa yang kau katakan?” Calvin merasakan ada hal buruk yang akan terjadi.
“Belum jelas? Hubungan palsu yang kau buat sudah berakhir Tuan Calvin! Aku bahkan sudah mengirim surat cerai, tetapi kau tenang saja, besok semua sudah beres,” ucapnya dengan senyuman sambil menepuk-nepuk pelan wajah lebam milik Mala.
“Apa maksudmu? Siapa yang ingin bercerai? Jangan pernah mempermainkan pernikahan kita Alice?” teriak Calvin sudah frustasi.
“Sayang. Tenanglah! Bukankah ini bagus kita akan bersama, aku akan hamil dan memberikanmu seorang anak heum?” Mala mencoba menenangkan membuat Alice hanya tertawa kecil melihat pemandangan menyedihkan dihadapannya.
Hatinya sangat sedih, “Lanjutkan permainan panas kalian, maaf karena menganggu waktu indahmu tadi,” Alice keluar dari apartemen Mala dengan derai air mata yang tidak bisa lagi di bendungnya.
Ingin sekali dia membunuh kedua manusia tidak tahu malu seperi keduanya, tetapi dia tidak akan menjadikan anaknya sebagai anak seorang pembunuh walau dia ingin.
“Sayang biarkan dia pergi. Kita akan bersama-sama, heum?” Mala masih berusaha menenangkan.
“Diamlah Mala!” teriak Calvin. Dia mulai jengah sekarang.
__ADS_1
Dengan langkah cepat dia masuk ke kamar dan menganti pakaiannya, dia harus menyusul Alice sebelum wanita itu kembali meninggalkannya.
“Kau mau kemana Calvin?”
“Diamlah Mala, semua karenamu,” tuduh Calvin.
“Aku, sekarang kau menuduhku? Kau bilang hanya mencintaiku lalu sekarang setelah istrimu menceraikanmu semua salahku?” Mala tidak habis pikir.
Calvin mengabaikan kemarahan Mala, dengan langkah lebarnya dia meninggalkan apartemen Mala dengan hati yang gelisah. Setelah kepergian Calvin Mala menghancurkan semua apa saja yang berada didekatnya.
“Brengsek! Aku tidak akan pernah melepaskanmu Calvin!”
Mala terus saja menghancurkan seisi apartemennya sampai sebuah tepuk tangan menghentikannya, “Siapa kau?”
Wanita itu hanya tertawa dengan terus berjalan mendekati Mala yang mulai waspada
Plak!
Satu tamparan mendarat dengan sangat sempurna, membuat sudut bibir Mala robek.
“Sialan! Siapa kau?” kembali Mala berteriak bersamaan dengan satu kali tamparan di sisi wajahnya yang lain.
Wanita yang menampar Mala dua kali itu sedikit menundukkan tubuhnya karena tinggi Mala yang hanya sebatas telinganya.
Dengan kuat dia mencengram dagu Mala, “Biar ku lihat dengan jelas wajah jal*ng yang sudah menikmati suami orang berkali-kali ini,” ucap Luara dengan senyum menawan.
“Lepaskan siapa kau sebenarnya,” Mala menghempakan tangan Laura dengan paksa.
“Aku?” Luara berdecak, “Kau tidak perlu tahu aku siapa, yang harus kau pikirkan sekarang adalah nasibmu,”
“Apa maksudmu?” tanya Laura heran.
“Gadis bodoh! Kau kira Alice akan membiarkanmu lolos begitu saja?”
Mala hanya mematung, jujur dia tidak tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan Alice lakukan tetapi jelas saat ini hatinya sudah berdebar dengan hebat. Dia sangat ketakutan.
Namun setelahnya dia meyakinkan dirinya bahwa Calvin akan selalu bersamanya. Yah hanya Calvin harapannya saat ini.
Sementara di tempat lain Calvin tengah berlari naik ke lantai atas mencari Alice, dia melihat mobil sang istri terparkir artinya istrinya sudah di rumah.
Mereka harus berbicara, Calvin tidak akan membiarkan Alice meninggalkannya.
“Dimana Alice?” tanya Calvin pada Hans karena seluruh ruangan sudah diperiksa dan tidak ada Alice di manapun.
__ADS_1
“Nyona belum kembali Tuan,” kening Calvin kembali mengkerut.
“Oh sial, kemana lagi dia?”