Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Bab 20| Memiliki Perasaan


__ADS_3

"Untuk apa Tuan mencari, Nona?" kata Edgar akhirnya


Antonio hanya tertawa mengejek, pria didepannya sangat menyebalkan. Dia menggela nafas lalu beedecak. "Apa masalahnya? Dia anak mendiang kakakku, sudah sewajarnya aku menanyakannya?". Kini tatapan Antonio sangat tajam, dia mencondongkan tubuhnya kedepan ke arah Edgar.


"Yang tidak pantas mencarinya bukankah kau? Kau bahkan berani mencintai diam-diam keponakanku yang sudah bersuami". Ejeknya menyunggingkan senyum.


Melihat itu Samuel menengahi kedua orang yang sudah dilingkupi amarah itu "Paman, tenangkan dirimu". Katanya, sebenarnya dia sangat kesal tapi mereka sedang dikantor akan sangat berbahaya jika adanyahg mengetahui ini.


"Katakan kapan dia akan datang?" katanya kembali menyandarkan punggungnya.


"Alice tidak mengatakan apa-apa, kemungkinan dia tidak akan kekantor". Samuel akhirnya berbicara tidak ada jalan lain. Dia tidak akan berani melakukan hal buruk jika Alice masih di Mansion.


"Kalau begitu hubungi dia, katakan pamannya menunggu". Perintahnya bersidekap.


Karena tidak ada yang mendengarkan akhirnya Antonio berdiri membuat kedua orang disana was was. "Hah, baiklah aku akan kembali, jika besok dia sudah ke kantor katakan padanya aku mencarinya". Antonio berlalu begitu saja.


Namun yang tidak mereka berdua ketahui adalah, Antonio melajukan mobilnya ke arah berlawanan. Tawanya memenuhi mobil yang dikendarainya.


"Sayang, tunggulah tidak lama lagi kita akan bertemu". Ucapnya membayangkan wajah manis keponakannya.


Sampai didepan Mansion, penjaga yang sudah mengenal Antonio langsung mempersilahkan masuk tampa curiga sedikitpun.


"Dimana Alice". Katanya melangkah masuk tampa melihat lawan bicaranya.


"Dikamar Tuan bersama Tuan Calv-". Antonio menghentikan sengan mwngangkat tangan. "Panggilkan, katakan padanga aku menunggu dibawah".


"Tapi Tuan, Nona-"


"Jangan membantah, atau kau akan tahu akibatnya". Dengan takut pelayan itu menaiki tangga dan berpaspasan dengan suami Nona nya


"Ada apa?" tanyanya


"Itu, Tuan Paman Nona sudah menunggu dibawah".


Calvin terlihat mengerutkan kening, pasalnya dia memang tidak banyak tahu tentang keluarga istrinya, dan itu karena kebodohannya. Dia sudah mengira paman yang dimaksud adalah pria yang sudah tua, dengan cepat Calvin turun akan menyambut kadatangan paman dari istrinya, namun setelah dia sampai diruang tamu, dia mengerutkan kening. Siapa dia?


Mendengar langkah kaki dibelakangnya membuat Antonio berbalik menatap siapa yang baru saja dia temui. Terlihat jelas senyum di bibir tipisnya.

__ADS_1


"Oh, Jadi ini suami dari keponakanku itu?" Antonio berjalan mendekati Calvin dan menilainya dari atas sampai bawah.


"Aku Antonio". Katanya menyalurkan tangan ke arah Calvin yang masih saja diam, dia terkejut karena perkiraannya salah, dia bisa melihat usia mereka tidaklah terlalu jauh. Sebenarnya bukan itu masalahnya tapi dia bisa merasakan aura yang berbeda saat pertemuan mereka, dan mata itu seperti tidak asing baginya.


"Oh maafkan aku, aku terlalu terkejut, karena ini pertemuan kita yang pertama".


Antonio tidak memperdulikan itu, dia kembali melangkah ke sofa duduk dan menumpu kakinya ke kaki yang lain.


"Jadi dimana keponakanku?". Antonio sudah tidak sabar, kali ini dia tidak akan gagal bertemu dengan pujaan hatinya. Dia merutuki kebodohannya tadi karena membuang waktu ke kantor. Seharusnya dia bisa saja langsung kesini.


"Dikamar, dia masih tert-". Calvin menghentikan ucapannya saat melihat Antonio berdiri dan melewatinya. "Aku akan melihatnya sendiri, tolong antarkan aku".


Tampa curiga Calvin mengikuti langkah Antonio menyamakan langkahnya dan berjalan ke arah kamar mereka. Dikamar Antonio bisa melihat kekasih hatinya tengah memejamkan mata, wajah cantiknya sangat memesona saat mata bulat itu tertutup.


Calvin menangkap ada yang aneh dari tatapan Antonio pada istrinya. Antonio berjalan mendekati ranjang dan duduk disamping Alice berbaring.


"Apa yang terjadi, kenapa dia tertidur?" Sejahat apapun Antonio dia tidak suka pujaannya terluka.


"Dia, maafkan aku, karena kecerobohanku anak kami". Jawab Calhin terbata-bata. Baginya walaupun perasaannya sangat aneh pada Antonio tapi dia menyadari dia paman istrinya dan dia memang bersalah. Jadi tidak perlu menutupi kesalahannya.


"Apa maksudnya? Anak...?" Jelas saja Antonio terkejut, Laura tidak mengatakan apa-apa dan apa maksud dari pria di depannya ini.


"Anak?" Antonio terkejut dan sedikit meninggikan nada suaranya membuat Alice terbangun.


Melihat istrinya mengeliat membuat Calvin mengerutu dalam hati, karena pamannya tidak bisa memelankan keterkejutannya.


Alice membuka mata perlahan dan ketika menangkap seorang tepat didepannya membuatnya langsung membola. "Pa-paman?" katanya dengan nada rendah


Alice mencoba bangun, namun karena terlalu terkejut membuat gerakannya lambat, lagi saat tiba-tiba Antonio yang membantunya untuk duduk, terlihat jelas bagaimana wajah mereka berdua yang sangat dekat


"Bagaimana keadaanmu?"Antonio bertanya


Alice maaih diam, menormalkan kegugupannya, bagaimana pun dia harus terlihat kuat sekarang.


"Aku sudah tidak apa-apa, terima kasih"


Antonio menyentuh tangan Alice dan menggenggamnya, terlihat Alice mencoba melepas tangannya namun sepertinya Antonio tidak ingin melepaskannya.

__ADS_1


"Tenanglah, Aku hanya merindukanmu". Katanya Ambigu menepuk punggung tangan Alice dengan lembut. Namun terlihat jelas bahwa Alice sangat tidak nyaman.


Antonio melihat jam tangannya sudah seharusnya dia kembali, sudah cukup untuk pertemuan mereka, walau sebenarnya dia ingin membawa Alice ke mansionnya dan mengurungnya disana, namun dia harus bersabar.


"Akh...sepertinya aku harus kembali". Dia meraih tubuh mungil itu dan membawanya dalam pelukannya, Alice mematung, dia ingin memberontak tapi tidak ingin Calvin curiga, dia tidak ingin Calvin tahu masalahnya.


"Sayang, besok aku kembali". Bisiknya tepat ditelinga Alice membuat emosi wanita itu membuncah. Perlahan dia melerai pelukan mereka dan tersenyum ke arah Antonio, dia menatap mata itu, seperti tidak asing tetapi dia tidak mengingatnya.


"Jangan hawatir paman, aku juga akan kembali kerumah suamiku, terima kasih sudah sempat datang". Katanya dengan delikan tajam.


Antonio tertawa, membuat Alice dan Calvin mengerutkan kening bersamaan.


"Oh, kau sangat menggemaskan sayang, jangan menatapku seperti itu, kau membuatku semakin menyukaimu" Setelah mengatakan itu Antonio berdiri mengabaikan Calvin yang menurutnya sangat tidak penting bahkan tidak seberbahaya Edgar.


Setelah kepergian Antonio Calvin mendekati istrinya seolah mengerti Alice menghembuskan nafas pelan "Dia pamanku, jangan hiraukan dia". Katanya membuat Calvin semakin penasaran.


"Kenapa? Kau tidak percaya?" Kata Alice lagi.


"Bukan seperti itu, aku hanya merasa aneh dengannya, mungkin karena ini pertama kalinya kami bertemu". Tersenyum kecut "Andai saja sejak dulu kau memperkenalkan semua anggota keluargamu".


Alice terkekeh "Bukankah kau memang tidak pernah mau mengenal keluargaku?"


"Ya, maafkan aku, tapi mulai sekarang aku akan selalu ada buatmu". Mencium gemas wajah Alice.


"Calv, boleh aku bertanya?"


"Tanyakan saja"


"Apa yang membuatmu tiba-tiba saja memutuskan datang? Dan kenapa kau bisa meragukan anakmu?".


"Jawabannya masih sama, Aku merindukanmu". jawabnya masih dengan senyuman yang sama..


"Dan kau belum menjawab, kenapa kau tiba-tiba marah? Kau tahu aku sangat takut saat kau tidak mengakuinya?" menghela nafas.


"Maafkan aku, fikiranku sangat kacau, aku tidak tahu bahwa alasanmu tidak mencintaiku selama ini karena kau mencintai Edgar".


Alice hanya diam mendengar, dia tidak akan membantah ini, dia memang pernah mencintai Edgar dulu, dan sekarang dia sudah menikah, untuk apa membahas nya?

__ADS_1


"Katakan padaku, apakah kau masih memilki perasaan padanya?".


__ADS_2