
Calvin kembali ke mansion dengan wajah tidak terbaca, Mala tetap kekeh mengatakan bahwa anak yang di kandungnya memang milik Calvin. Bayangan Alice terus berkelebat di kepalanya, dia menyesali semuanya.
Andai saja saat itu dia tidak menemui Mala dan tetap menemani istrinya semua tidak akan terjadi, pasti saat ini dia tengah mengendong putra mereka. “Kau bahkan lebih kejam dariku, aku akan menemukanmu dan mengambil anakku,” Calvin memukul stir beberapa kali penyesalan yang tidak ada gunanya sama sekali.
Di lantai atas, dia mengemasi semuanya, dia harus berangkat esok hari nya, Calvin akan buktikan pada sang ayah kalau dia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan darinya, setelah dia sukses dia akan mencari lagi dimana anaknya.
Ke esokan harinya, Calvin meminta Hans untuk tetap tinggal dan menjaga rumah selama dia pergi karena Calvin masih berharap Alice akan kembali nantinya.
“Ingat jangan biarkan siapapun masuk ke kamar selain Alice,” kata Calvin.
“Maaf Tuan, apa nyonya akan kembali?” tanya Hans penuh harap.
“Heum berdoalah, dia pasti akan kembali dengan anakku,” Calvin mengatakannya dengan senyuman. Sementara itu Mala sudah menyiapkan semua yang di perlukannya di luar kota, dia akan ikut kemanapun Calvin pergi.
Tiba di kota tujuan esok harinya, mereka melakukan perjalanan darat dengan menggunakan mobil karena ayah Calvin hanya menyisakan mobil saja pada anaknya. Mala semakin kesal karena mengetahui ayah Calvin sangat kejam.
Mereka memasuki rumah sederhana yang memang sudah di siapkan, hanya sebesar dua kamar utama di mansion nya, Mala yang terbiasa hidup enak melihat rumah yang akan mereka tempati terus mendumal.
Dia menyesal karena harus ikut, tapi juga sangat berbahaya jika tidak iktut, kehamilannya akan semakin membesar nanti nya dan dia membutuhkan Calvin untuk itu.
“Ayahmu sangat kejam,” Mala terus saja mendumal
“Masih sangat bersyukur kita di beri rumah, bagaimana jika harus tidur di pabrik akan sangat menganggu sekali,” kata Calvin, dia tetap harus bisa menjadi sukses setelah ini, anaknya adalah tujuannya.
“Kau duduklah, aku akan menyiapkan kamar untuk kita,” Mala duduk membiarkan saja, dia sudah sangat lelah. untung saja kehamilannya tidak bermasalah.
Kehidupan Calvin dan Mala benar-benar berubah, dia melihat bagaimana pabrik jagung yang akan membawa nya menjadi sukses, semua terlihat berkarat dan memang sulit sekali jika membuatnya berjalan jika tidak memiliki uang untuk merawatnya kembali.
Tetapi bayangan Alice dan anaknya membuatnya semakin semangat, berbagai cara di lakukan agar pabrik itu kembali berpungsi. Berbulan-bulan Calvin bekerja sendiri, dia tidak memiliki cukup uang untuk saat ini kalau harus memanggil orang untuk membatu.
Kehamilan Mala juga sudah terlihat semakin membesar, tetapi Calvin tidak menganggapnya, anak itu bukan miliknya. Calvin hanya peduli pada Mala dan mengabaikan perut buncit sang kekasih.
Calvin tidak akan menikahi Mala sampai kapanpun.
“Sayang, perutku … ah ….” Calvin mengabaikan ringisan Mala, dia terus memacu diatas wanita hamil itu. Hasratya sudah menggebu, membayangkan Alice saja gejolak nya meninggi.
__ADS_1
“Ah … sayang, per-perutku,” sungguh Mala merasa sangat nyeri di bagian perutnya. Tetapi sepertinya Calvin tidak mendengarkan dan peduli. Karena terlalu sakit Mala mendorong Calvin yang sudah di puncak-puncaknya dengan kuat.
“Sialan!! Apa yang kau –,”
Calvin akan marah tetapi saat melihat Mala yang meringis napsunya menurun. Dia melilitkan handuk menutupi miliknya yang sudah mulai layu melihat wajah Mala yang terlihat kesakitan.
“Perut-perutku sa-sakit,” Mala memegang perutnya, cairan keluar membuat mata Cavin melotot. Calvin menggunakan pakaiannya segera, membawa Mala di rumah sakit adalah solusinya.
Untung saja doker belum kembali padahal hari sudah gelap, Mala langsung mendapatkan penanganan, beberapa jam Calvin termenung di luar, dia kembali menyesal atas perbuatannya.
Calvin menyesali perbuatannya yang tidak bisamenahan diri, Alice memenuhi otaknya, “Shit, bahkan sekarang aku sampai berhalusinasi,”
Bagaimana tidak, Calvin seperti melihat Alice yang melintas mengendong anak lelaki di ujung sana. Namun kakinya dengan cepat berlari di mana tadi dia melihat Alice.
“Alice … aku yakin titu dia,” Calvin terus berlari celingukan, dia berlari keluar tetapi juga tidak melihat apapun, pikirnya karena haruli sudah malam jadi dia kesusahan untuk mencari.
“Kau di kota ini?” senyumnya mengembang, dia yakin kalau tadi bukan halusinasi.
“Baiklah sayang, kita lihat sampai kapan kau akan sembunyi membawa anakku, aku akan menemukan mu,” Calvin terus bergumam.
Mala melahirkan anak perempuan tetapi Calvin tidak menyentuhnya sama sekali. Pokusnya adalah merawat Mala sampai sembuh setelahnya dia akan kembai bekerja.
“Makanlah, kau harus tetap sehat,” sedih sekalli menjadi Mala bahkan kekasihnya tidak meminta maaf karena perbuatannya.
“Kau tidak ingin melihatnya, dia –,”
“Dia bukan anakku, kau hanya punya pilihan jangan memaksaku menerima anakmu atau kau kembali ke kota,” bibir Mala terkatup dia menunduk, sakit sekali menjadi dirinya dan semua ini karena Alice.
“Dia tidak akan kembali Calvin percayalah, dia –,”
“Meskipun dia tidak kembali, aku tetap tidak bisa menerima anakmu Mala,”
“Dia anak ki –,”
“Mala hentikan! aku tidak ingin memulai lagi, aku akan tetap membiayai hidup anakmu tapi sekali lagi jangan memaksaku mengakui apa yang bukan meilikku,”
__ADS_1
Calvin meletakkan mangkok bubur di atas meja kemudian keluar meninggalkan Mala sendiri.
Tanginsanya tdak bia di bendung, rasanya sakit sekali, belum juga air matanya mengering Mala kemballi di kejutkan dengan kedatangan tamu yang tidak di undang.
“K-kau?”
“Hem, bagaimana kabarmu?” sang wanita tetap menampilkan senyum menawan, tidak terlihat beban atau kebencian di dalam, sangat tenang sampai Mala benar-benar ketakutan.
“A-aku ….”
Alice tersenyum, dia melihat bayi yang msih di dalam box disamping Mala, “Jangan memaksanya mengakui anakmu, dia tidak akan tertipu, lihatlah tidak ada miripnya sama sekali,” ejek Alice.
“Apa maksdumu. Dia anak Calvin!”
“Dia saja tidak percaya, bagaimana denganku,” Alice tertawa rendah membuat Mala semakin kesal.
“Dengarkan aku!” Alice sedikit menunduk, mendekatkan wajahnya dengan wajah pucat Mala yang sedikit memerah karena habis menangis. “Aku belum selesai, masih ada beberapa pelajaran lagi untuk kalian,” Alice menampakkan senyum manis di hadapan Mala.
“Jadi kau yang bertanggung jawab atas butikku?” tanya Mala.
“Tentu saja sayang.” Alice mengelus rambut Mala kemudian melanjutkan, “Bukannya kau memiliki satu usaha lagi?” Mala terkesiap, dia menggeleng, membuat Alice semakin menampakkan senyumnya.
Alice menegakkan tubuhnya, “Berdoalah semoga satu usaha itu tidak hangus juga. Oh ya, katakan pada kekasihmu itu, jangan terlalu membuang waktu mencariku, heum.”
Setelah mengatakan itu Alice keluar begitu saja setelah mengelus sayang wajah mungil bayi di dalam box, hatinya miris karena saat melahirkan anaknya juga tidak ada Calvin, dia hanya seorang diri.
Beberapa menit kepergian Alice, pintu kembali terbuka, Calvin kembali karena melupakan ponselnya diatas sofa. Tetapi di depan pintu dia mematung beberapa saat, bahkan pertanyaannya membuat Mala terdiam.
“Apa Alice baru saja datang?” tanya ya dengan penuh penuntutan.
Mala hanya diam dan Calvin yakin jika Alice memang benar dari ruangan Mala, tanpa mengatakan apa-apa Calvin berbalik dan berlari mencari keberadaan Alice, dia sangat hafal dengan wangi parfum yang Alice gunakan.
Selama apapun mereka tidak bertemu Calvin akan mengetahuinya.
“Aliceeeeeeee!!”
__ADS_1