
Rahayu masih diam saja, dia masih bingung dengan apa yang terjadi, jika anak kecil tadi adalah anak Calvin, dan wanita cantik yang mengaku sebagai ibu dari anak kecil itu artinya mereka?
“Nona?” Alice kembali menegur.
“Oh, terima kasih nyonya, saya datang membawa makan siang untuk Tuan.” Rahayu sengaja mungkin saja, dia bisa mendapatkan sedikit celah nantinya. Alice memperhatikan rantang yang berada di atas meja, tatapannya lurus membuat Rahayu merasa tidak enak.
“Baiklah, karena Daddy nya Orlando akan makan siang, saya akan membawa juga makanan yang nona bawa, terima kasih.” Ucapan Alice seperti sudah dipahami oleh Rahayu dia di usir secara halus. Wanita berkulit sawo matang itu menunduk sedikit lalu meninggalkan kediaman Calvin dengan hati dingkol.
Sementara itu, Calvin yang baru saja selesai mandi, dia mendatangi Alice yang sudah menunggunya di dapur. Alisnya mengkerut karena disana sudah tersedia banyak makanan, bahkan isi kulkasnya juga bertambah.
“Alice ….”
“Itu tabungan Orlando, aku membelikan beberapa keperluan Daddy nya, jangan menolak karena itu akan membuatnya sedih.”
Yah, sebelum mereka bertemu langsung orang-orang Alice sudah memasukkan bahan makanan ke dalam rumah Calvin, jangan bertanya bagaimana mereka bisa masuk, karena pintu itu memang kebetulan tidak terkunci tadi. Mungkin Calvin lupa atau memang itu kebetulan.
“Ayo duduklah, kenapa wajahmu seperti itu?”
__ADS_1
“Aku tidaklah pantas menjadi ayahnya, bahkan memiliki uangpun sekarang aku hanya bisa mengumpulkan sedikit.” Jelas Calvin merasa dibawah, isi dapurnya penuh dan itu bukan uang nya tetapi uang milik anaknya yang masih sangat kecil.
“Keluarga harus saling membantu, ayo cobalah, semoga kau menyukainya.”
Calvin mengangguk, air matanya berhasil menetes satu biji membuat Alice, merasa tidak enak hati tetapi dia tetap acuh.
“Bagaimana enak tidak?” Calvin mengangguk.
“Aku boleh menidurkan Orlando di kamarmu dia tertidur.” Alice sudah berdiri, memang sejak tadi, dia tetap menggendong Orlando, dan Calvin tidak mengira bahwa putranya tertidur.
“Heum, biar aku yang memba--,”
Di dalam kamar kecil itu Alice meletakkan anaknya, kamar Calvin memang sangat kecil, tetapi sangat rapi dan harum. Setelah meletakkan anaknya Alice kembali menemani Calvin—mantan suaminya makan siang.
“Kenapa? Apa tidak enak? Oh ya, ini makanan yang dibawa oleh wanita tadi, kau mau aku mengambilkannya?”
Calvin menggeleng, “Tidak. Aku hanya ingin makan masakanmu, sudah sangat lama dan--,”
__ADS_1
“Lupakan saja. Sudah masa lalu dan tidak baik di kenang.”
Calvin mengangguk, dia juga tidak akan bisa menahan Alice agar tetap bersamanya, siapa dirinya yang sekarang, bahkan harga sandal yang Alice gunakan saja tidak akan mampu di belinya hari ini.
Setelah makan siang, Alice membereskan semua sisa makanan, merapikan dapur kecil itu dan melanjutkan dengan mencuci piringnya. Tiba-tiba saja Calvin datang dan memeluknya dari belakang.
“Calvin ….”
“Sebentar saja, aku mungkin tidak akan bisa lagi melihatmu nanti, aku tidak akan bisa lagi menghirup aromamu, jadi ku mohon izinkan aku memelukmu sebentar.” Ibanya dan Alice membiarkan, dia tetap mengerjakan pekerjaannya.
“Calvin, aku--,”
Calvin melepaskan pelukannya, dia mengusap air matanya, ini sudah kesekian kali nya dia menangis, rasa bersalah berkecamuk di dalam hatinya, andai saja saat itu dia tidak mengikuti hawa nafsunya, mungkin saja saat ini dia masih bisa bersama dengan anak dan istrinya.
Alice kembali memeluk mantan suaminya, membuat Calvin terkejut, tetapi kemudian juga memeluk kembali, Alice mengusap punggung rapuh itu berulang kali dengan lembut, “Jangan mengingat masa lalu, hem.” Ucapnya lembut semakin membuat Calvin mengeratkan pelukannya. Wanita cantik itu kembali melanjutkan, “Buka hati untuk orang lain, aku yakin kau akan kembali bahagia.” Calvin menggeleng.
“Jangan memaksaku. Aku tidak akan pernah menikah lagi.” Alice hanya menghela napas, dia tidak akan memaksa jika memang Calvin tidak menginginkannya.
__ADS_1
“Boleh aku menciummu?” pinta Calvin setelah melerai pelukannya dan menangkup wajah bulat di depannya.