
Pagi hari dimansion milik Alice semua orang sudah berkumpul di ruang makan, Alice yang terlihat banyak makan sempat membuat Ayahnya dan Edgar sedikit heran. Namun kemudian mereka mengabaikan itu karena mengira mungkin itu kebiasan baru dari Alice.
Karena kejadian semalam baik Alice maupun Edgar satupun dari mereka tidak ada yang berbicara, melihat itu Tuan Thomas akhirnya mencairkan suasana canggung yang mulai terasa.
"Bagaimana tidurmu, Nona?" Tanya nya pada Arabella yang sejak tadi hanya diam melihat putranya, dan pria paruh baya itu tahu tatapan seperti apa yang wanita cantik ini berikan ke putranya.
"Sangat nyenyak Tuan, terima kasih, Mansion milikmu sangat besar dan nyaman". Senyum Bella tulus.
"Terima kasih, Nak tetapi Mansion ini milik putriku Alice-"
"Berarti milik ayah juga". Alice memotong karena dia tidak pernah merasa nyaman jika sudah membahas tentang hak milik.
Alice melanjutkan "Baiklah, aku harus segera berangkat, aku ada rapat". Berdiri dan mencium pipi Ayah angkatnya kemudian berlalu, mengabaikan ajakan Edgar untuk mengantarnya.
Alice melajukan mobil dengan kecepatan sedang, dia masih ada waktu dua jam untuk rapat tadi dia hanya berpura-pura terburu karena tidak bisa berlama-lema satu meja dengan Edgar.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini dan segera kembali ke rumah". Gumamnya. Ya dia lebih baik pulang kembali ke kota suaminya. Dia masih punya apartemen yang tidak Calvin ketahui.
Dan seperti biasanya saat dia tidak ingin pulang dia akan tinggal disana selama yang dia mau.
Didepan gedung bertingkat tinggi dan kokoh, gedung perusahaan Alice 'Acgroup' Alice turun dan mendesah pelan kemudian naik, mengabaikan bagaimana tatapan karyawannya.
Sebagian dari mereka memang ada yang belum tahu bahwa Alice adalah pemilik asli karena selama ini dia digantikan oleh orang kepercayaannya. Mengurus dan mengelola, bisa dikatakan Alice adalah orang dibalik layar itu.
Sampai di lantai paling atas. High hell itu menggema disepanjang koridor, Wina sekertaris Samuel membungkuk dan menyambut bos besar mereka.
Didalam ruangan Samuel berdiri dan memberi tempat untuk Alice duduk di kursi kebesaran itu. Kursi yang selama Alice tidak menjabat maka Samuel yang akan menempatinya sebagai CEO sementara.
"Bagaimana perjalanan anda, Nona?" Tanya Samuel dengan senyum hangat.
__ADS_1
"Jangan terlalu formal kak, dan kau lupa kita sudah bertemu kemarin sebelum aku pulang ke mansion". Alice memutar bola matanya, karena kelakuan sepupunya ini sangat diluar nalar.
Diantara semua sepupu yang Alice miliki dia hanya mempercayai Samuel bersamanya. Karena pemuda yang terpaut dua tahun lebih tua dengannya ini sangat jujur menurutnya, lagi ini juga termaksud wasiat dari mendiang orang tuanya.
Mereka sudah melihat bagaimana Samuel kecil tumbuh dan berubah menjadi pemuda yang bisa dibanggakan.
Samuel tergelak melihat bagaimana kekesalan adiknya. "Kau akan lama disini?" yang dijawab gelengan oleh Alice.
"Kenapa?
"Aku juga punya keluarga". Kilah Alice tidak ingin ditanya lebih banyak lagi. Tidak mungkin dia akan mengatakan bahwa dia tidak bisa berlama-lama karena ada Edgar, walau dia tidak tahu pria yang berhasil merebut hatinya dimasa lalu itu sampai kapan akan disini.
"Ah, baiklah..kau selalu memikirkan suamimu, aku heran sudah hampir dua tahun kalian menikah tetapi batang hidungnya pun tidak pernah nampak". Berdecak kesal.
"Dia sibuk, bagaimana bisa datang". Kilahnya lagi.
Kedua sepupu itu terus bercerita banyak, sampai dimana jam menunjukkan rapat akan segera dimulai. Sekertaris pribadi Samuel dan Alice, Wina masuk dan membungkuk sedikit menyampaikan bahwa bagian direksi sudah ada diruang rapat.
"Baiklah Nyonya, sesuai permintaanmu".
Diruang rapat Samuel menjelaskan apa saja kendala yang mereka alami selama sebulanan ini yang kemungkinan besar membuat hasil pemasaran mereka menurun.
Semua menyimak dengan baik, dan bertekad bekerja sama dengan sepenuh hati. Sampai saat ini tidak ada diantara mereka yang terlihat melakukan kecurangan. Itu yang membuat Alice sangat bangga dan tidak segan menambahkan dana pesangun untuk mereka.
Selesai rapat Alice tidak langsung pulang, dia kembali ke ruangannya, bahkan tidak turun mencari makan siang, dia akan makan siang diatas bersama Samuel saja.
"Kau yakin bahwa dia terlibat dalam pembunuhan orang tuaku?" Tanya Alice pada Samuel yang baru saja selesai meneguk minumanya.
"Kemungkinan, aku bahkan sudah menyuruh beberapa anak buahku untuk meneror adiknya".
__ADS_1
"Adik?" Tanya Alice yang di angguki langsung oleh Samuel.
"Paman Antonio memiliki adik?". Alice memang tidak terlalu mengetahui tentang ini, pasalnya dia hanya mengetahui bahwa Daddy nya memiliki saudara lain ibu. Dan yang membuat Samuel yakin bahwa kajadian yang menimpa pamannya ulah Antonio sebab saat pemakaman dia melihat gerak-gerik nya yang terlihat mencurigakan.
"Alice mencengkram kuat sendok yang masih ditangannya. Amarahnya memuncak. bahkan air matanya saja sudah tidak keluar karena emosinya sudah sampai ubun-ubun.
"Tahanlah beberapa saat lagi, saat semuanya membuktikan kita akan membuat perhitungan padanya".
Tidak ada jawaban. Dan Samuel sudah mengartikan itu persetujuan.
Setelah makan siang di Mansion besar itu terlihat Edgar tidak seperti biasanya yang terlihat sangat tenang, kali ini dia terus saja melihat jam yang melingkar ditangannya. Arabella menyadari itu. Gadis cantik itu sejak kemarin hanya diam, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana ditempat ini terlebih saat dia mengetahui bahwa mansion besar ini adalah milik wanita yang prianya cintai.
"Tuan, sebaiknya Tuan menelpon Nona kalau memang Tuan merasa hawatir". Tawar Arabella masih duduk di sofa ruang tamu.
Membuang nafas pelan lalu duduk disamping Bella "Kau sudah makan siang?" Tanya nya.
"Belum, nanti saja". Jawab Bella canggung
"Ayo kita makan diluar". Edgar berdiri dan melangkah sebelum mendengar suara Bella dibelakangnya
"Jangan terlalu memperhatikan saya seperti ini Tuan, itu akan membuat saya semakin terlihat menyedihkan".
Edgar berbalik melihat Bella berdiri menghampirinya "Aku bisa melihat bagaimana bahagianya Tuan saat melihat Nona kemarin, dan aku akui dia sangat cantik dan baik". Bella tersenyum kemudian melanjutkan "Aku saja sebagai wanita sangat suka melihatnya". Kekehnya kecil menyembunyikan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, mundurlah sebelum kau terlalu sakit". pinta Edgar dia tahu bagaimana lukanya Arabella. Tapi dia tidak bisa berbohong untuk tidak menginginkan Alice, lagi saat dia mengetahui bahwa wanitanya juga mencintainya.
Dia merasa sangat pusing setelah jarak mereka sangat jauh, kenapa harus ada fakta ini.
"Hm, sepertinya memang aku harus mundur, kalian terlihat lebih cocok bersama, dia cantik dan Tuan sangat tampan". Mendengar itu Edgar memeluk Bella. Dia sebenarnya tidak enak, namun ini lebih baik. Bella akan mendapatkan pasangan yang mencintainya nanti.
__ADS_1
Dia juga tidak tahu apakah takdir bisa membawanya bersama Alice atau tidak melihat wanita nya sudah menikah dan bahagia.
Dia cukup senang sampai di sini bersama atau tidaknya asal mereka tahu saling mencintai itu sudah cukup.