
Dilain tempat Alice masih duduk menunggu seseorang, dengan sesekali menyesap minumannya, dia mulai mengantuk, tetapi tidak mungkin akan tidur. Sudah hampir malam Calvin pasti mencarinya.
"Lama menunggu?" kata seseorang yang baru saja datang dan duduk didepannya. Alice memutar mata malas, apakah wajahnya kurang jelas mengatakan bahwa dia memang sangat bosan menunggu.
"Kenapa harus bertemu di luar? Kau bisa datang kerumah". Dia berdecak karena harus merelakan waktu istrahatnya.
"Dan aku akan tersesat".
"Oh ayolah, ponselmu sangat ajaib". Yang dijelaskan hanya tertawa, dan menggeleng.
"Baiklah katakan, ada apa, Calvin akan mencariku, lagi aku meninggalkan ponselku dirumah". Jelas Alice menyesap minumannya.
"Bukankah itu ponselmu? Lalu wanita siapa yang aku temani berbicara semenit yang lalu?". Menunjuk ponsel di dekat minuman Alice.
Alice terkekeh melihat kebingungan sepupunya Samuel. Ya yang menelpon Alice adalah Samuel, entah ada berita apa sepupunya tiba-tiba saja datang dan mengajaknya bertemu diluar. sedangkan dia bisa saja kerumah langsung.
"Ini Ponsel pribadiku memang khusus untuk menerima panggilan darimu, dan beberapa orang lainnya, sementara yang dirumah adalah ponsel yang memang bisa Calvin hubungi".
Pantas saja saat Calvin mencari panggilan masuk di ponsel Alice dia tidak menemukan siapa-siapa karena ponsel yang tertinggal adalah yang biasa Calvin hubungi. Kenapa dipisahkan? Hanya Alice saja yang tahu.
"Kalau begitu ada kabar apa?" tanya Alice.
"Anak buah ku berhasil mendapatkan informasi penting". Jawab Samuel membuat Alice menghentikan minumnya. "Yah, pamanmu yang punya senyum manis itu memang terlibat".
Wajah Alice memerah, mengetahui fakta ini sungguh membuatnya tidak bisa menahan diri, andaikan saja, orang tuanya tidak mendapatkan firasat bahwa mereka akan meninggalkan Alice maka tidak ada wasiat perjodohan.
Jika benar paman Antonio dibalik semua ini lalu apa tujuannya? Kenapa pamannya tega melakukan ini pada kakaknya sediri? Apakah karena harta warisan? Bukankah Antonio sudah mendapatkan semua anak dari perusahaan inti?.
"Alice,, kau baik-baik saja?" kata Samuel dia hawatir sekarang karena melihat wajah tampa ekspreai dari adik sepupunya.
"Hum, aku baik kak, besok kita akan kerumah paman Antonio". Putus Alice yang jelas saja ditolak oleh Samuel. Namun sekuat apapun Samuel melarang tidak akan ada gunanya karena Alice akan kesana dengan atau tampa dirinya.
Di mansion Calvin semakin tidak tenang karena dia sudah mencoba menahan diri menunggu karena mungkin saja Alice berbelanja, walau dirinya sejak tadi ingin keluar mencarinya.
Dia bangun dari sofa meraih kunci mobil dia akan mencari istrinya, dia sudah tidak bisa duduk menunggu, karena akan membuatnya semakin. hawatir. Baru saja dia akan memasuki mobilnya, sebuah mobil mewah berwarna putih memasuki gerbang, Calvin menutup pintu mobil dan melihat siapa yang datang, hari sudah gelap namun lampu taman yang sangat banyak akan mempermudah nya melihat siapapun yang keluar dari mobil.
__ADS_1
Perasaan lega dihatinya, saat melihat Alice keluar dengan beberapa kantong belanjaan ditangannya, sudut bibirnya terangkat, namun ketika melihat siapa yang keluar dari pintu satunya membuatnya kembali tidak nyaman. Calvin tidak mengenali siapa pria itu.
Dia merasa cemburu, alalagi saat Alice menggandeng tangan pria yang bersamanya dan di sambut hangat oleh pria itu. Bahkan yang membuat Calvin dipuncak amarah sampai membuang kunci mobil sembarang adalah saat pria itu mencium pucuk kepala Alice.
"Alice". Teriaknya membuat yang disebut namanya berhenti melangkah karena terkejut.
Calvin mempercepat langkahnya hingga mereka sekarang sudah saling berhadapan langsung.
'Bug
Satu pukulan melesat namun dengan mudah ditangkis oleh Samuel. dengan sekali sentakan tangan Calvin di kibaskan.
"Berani-beraninya kau melakukan itu poda istriku". Calvin sudah tersulut emosi, Alice bisa merasakan bahwa Calvin dalam hati yang buruk dia mencoba meraih tubuh Calvin dan menenangkannya dalam pelukannya. Calvin tidak terima karena dia merasa Alice melakukan itu karena membela prianya.
"Lepaskan Alice".
"Jangan bergerak atau kau akan melukai lagi anakmu, Calv".
Mendengar itu Calvin diam, dia menatap sengit Samuel yang menatapnya santai. Bahkan sudut bibirnya terangkat. Sangat menyebalkan.
"Dia kak Samuel". Calvin memutar otak mengingat nama yang baru saja dia dengar, setelah mengingat dia menghembuskan nafas pelan lalu menepuk pelan bahu Samuel.
"Maafkan aku, tadi aku-".
"Tidak masalah karena kita memang tidak pernah saling bertemu sebelumnya, lagi karena tadi kau tidak mengenai wajah tampanku maka aku memaafkanmu".
Alice hanya tertawa melihat bagaimana Samuel mengatakan dirinya tampan. Sepupunya ini memang kelebihan percaya diri.
"Dari mana? Dan kenapa tidak membawa ponsel?".
"Maaf, tadi aku menemui kak Samuel dan lupa membawa ponsel".
"Ada masalah di kantormu?" Alice mengangguk membuat perasaan Calvin tidak enak, itu artinya Alice akan meninggalkannya lagi. Menghela nafas panjang Calvin mengambil kantong belanjaan istrinya dan membawa Samuel beserta kedalam.
Setelah membersihkan diri Calvin merasa lebih baik karena sepulang dari kantor dia belum sempat membersihkan dirinya karena hawatir kemana istrinya pergi.
__ADS_1
Dilantai bawah, Calvin menemui Samuel di ruang keluarga tengah menyaksikan siaran tv, Calvin yang melihat itu hanya berdecak dengan menggelengkan kepala.
"Kau menonton film kartun? Berapa sebenarnya usiamu?".
"Tidak setua dirimu, aku kira usiamu sama dengan kak Edgar". Mendengar nama Edgar suasana hati Calvin memburuk, dan Samuel bisa melihat itu, sepupu Alice yang ini memang sangat suka mengerjai seseorang.
"Kenapa wajahmu berubah? Kau tidak suka dengan kak Ed?".
Alice yang datang dari dapur mendengar nama Ed disebutkan menjadi mengerutkan dahinya setelah melihat wajah Calvin yang tidak enak dilihat.
"Kenapa wajahmu, Calv?". Lalu duduk disamping suaminya memperhatikan wajah masam itu.
"Sepertinya dia cemburu dengan kak Ed". Jawab Samuel tampa merasa berdosa, dia memang sejak awal tidak menyukai Calvin, jadi dia akan membuat pria ini merasa kesal.
Menghela nafas panjang lalu memegang tangan suaminya, Alice menjelaskan dengan baik bahwa dia hanya menganggap Ed sebagai kakaknya, lagi, mereka tidak memiliki hubungan apapun sebelumnya.
Karena penjelasan panjang lebar itu akhirnya Calvin mencoba mengerti, untuk apa juga dibahas, Alice adalah milik nya sekarang.
Mereka makan dengan hangat, Samuel melihat dibalik menjengkelkannya Calvin dia bisa melihat bahwa pria yang menikahi adik sepupunya ini memang baik, dia lihat bagaimana Calvin memperhatikan makanan untuk Alice yang tengah berbadan dua, dan bagaimana Alice yang terlihat sangat bahagia karena hal itu.
"Ed, kau harus segera mencari kekasih lain, jangan mengganggu kebahagiaan adikku". Gumamnya dalam hati, dia tahu bahwa Ed tidak akan menyerah pada perasaannya, namun siapa yang bisa menyangka hari esok bisa saja saat Ed kembali dia sudah menjalin hubungan dengan asisten cantiknya.
Ah mengingat Arabella, Samuel senyum-senyum sendiri, wanita itu sangat cantik dan menggemaskan.
"Ed jika kau tidak menikahi Arabella, maka aku yang akan menikahinya". Gumamnya lagi.
Samuel larut dengan fikirannya sendiri, mengabaikan dua pasangan yang sama-sama bahagia itu.
Sampai Alice mengatakan bahwa besok dia akan kembali bersama Samuel. Jelas saja membuat Calvin tidak setuju, bukankah mereka akan ke dokter?
"Sayang, bukankah besok jadwalmu ke dokter?". Alice mengangguk
"Aku akan berangkat sepulang dari dokter, bagaimana?".
"Jika tidak ku izinkan bagaimana?" kata Calvin dia tidak akan membiarkan istrinya bepergian lagi.
__ADS_1
"Aku akan memaksa, hanya dua sampai tiga hari saja? Atau kau boleh menjemputku setelah dua hari".