Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Kehancuran Mala


__ADS_3

Dengan jantung yang semakin tidak karuan detakannya, Calvin kembali berlari keluar, dia harus menemukan dimana istrinya sekarang, sekelebat terbayang kembali bagaimana Alice yang mengeluarkan air mata karena nya.


Bukan pertama bahkan pernah terjadi saat dia yang juga tidak tahu kahadiran Laura di ranjang pengantin mereka.


“Agggghhh,”


Calvin terus mencari, dia tidak pernah menyangka bahwa apa yang dilakukannya dengan mudah diketahui, senyuman dan tangisan Alice terus saja menari dikepalanya.


“Alice kau dimana?” gumamnya.


Di tengah kepanikaannya ponselnya berdering berulang kali, Calvin tahu siapa yang menghubunginya hatinya semakin gundah, apakah dia akan tetap mencari keberadaan Alice atau kembali ke apartemen Mala.


Karena terlalu panik Calvin memilih menepikan mobilnya, dia akan menenangkan pikirannya sejenak, dia tahu jika dia panik maka akan semakin sulit menemukan dimana keberadaan Alice.


Sementara itu, seorang wanita yang tengah mengandung dengan keadaan wajah yang sangat berantakan kini tengah menangisi kehidupannya yang malang. Andai saja dia tidak memikirkan anaknya maka dia memilih untuk menyusul kedua orang tuanya saat ini juga tetapi sekali lagi dia tidak akan melibatkan anaknya.


“Kau pasti kuat,” seorang wanita seusianya entah sejak kapan sudah berada disana, duduk disebelahnya dan sesekali menepuk pelan punggung rapuh tersebut. Rasa bersalahnya semakin terasa karena beberapa bulan sebelumnya dia juga adalah penyebab dari kesedihan wanita yang masih menangis disebelahnya.


“Kau pulanglah! Kau sudah melihat bagaimana menyedihkannya aku kan?” Alice bangkit dengan perlahan dengan bantuan tangannya. Sungguh Laura ingin membantu tetapi Alice tidak ingin disentuh olehnya.


“Alice, bagaimana bisa aku membiarkanmu sendiri dalam ke adaanmu yang –”


“Hentikan sandiwaramu Laura, apa bedanya kau dengannya? Alice masih memunggungi Laura yang sudah berdiri dan ingin menyusulnya.


Terdengar helaan napas Laura, “Benar. Aku dan dia sama-sama hina dimataku, tapi biarkan aku menemanimu sekarang, heum?” Laura masih kekeh.


Apakah pendosa sepertinya tidak bisa mendapatkan maaf?


Alice hanya mengabaikan Laura, wanita hamil itu masuk di dalam kamarnya membiarkan Laura diluar sendiri, dia tidak peduli apa yang akan Laura lakukan, asal jangan membawa pria itu datang, dan hanya itu yang dia inginkan.


Sementara itu, di apartemen Mala, kedua pasangan yang akan hidup bersama itu sekarang tengah dalam suasana hati yang tidak baik, Calvin yang sejak tadi tidak bisa tenang karena tidak bisa menemukan di mana Alice semakin kesal karena Mala terus saja mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.


“Ayolah Mala, menegertilah, aku mencintaimu tetapi kau tahu aku tidak bisa kehilangan anakku.” Jelasnya untuk kesekian kalinya.


“Bukan hanya dia yang bisa memberikanmu anak sayang, aku juga bisa, bukankah kau lebih mencintaiku? Kau tenang saja aku akan segera hamil,” Mala akan terus membuat Calvin tetap berada di sisinya.

__ADS_1


Calvin baru saja saja akan duduk, tetapi sebuah panggilan dari ponselnya membuatnya mengurungkan diri mendaratkan bokong di sofa saat meihat nama si penelepon.


“Daddy ….” Lirihnya


Calvin langsung berlari keluar setelah menjawab panggilan sang ayah, mengapa mendadak sekali, kenapa harus datang dihari yang tidak tepat.


Plak!


Satu tamparan mendarat mulus di wajahnya yang sudah berulang kali dia dapat hari ini.


“Dadd –”


“Apa yang sudah kau lakukan Calvin!!’ bentak pria paru baya itu pada sang putra yang sekarang tengah terduduk di lantai karena kerasnya tamparan sang ayah.


“A-apa maksud Daddy?”


“Kau masih berlagak bodoh?! Pria paruh baya itu menghela napas dengan berat lalu duduk di sofa single semari mengusap pelan dadanya.


“Aku menikahkanmu dengan Alice karena aku tahu bahwa dia yang terbaik untukmu, tetapi Daddy tidak menyangka kau bahkan melakukan hal hina itu pada wanita yang sudah berusaha mencintaimu,” nada kecewa ayah Calvin terdengar.


“Daddy ….”


Dengan tangan gemetar diam meraih kertas itu, jantungnya seketika berjenti berdetak, bagaimana mungkin surat cerai ini sah? Bahan dia tidak pernah ingin hal ini terjadi.


“Kau senang karena sekarang kau sudah berpisah dengannya secara hukum?” ejek sang ayah.


“Ti-tidak ini salah, Calvin tidak pernah ingin berpisah dengan Alice, Daddy,”


“Sadarlah! Wanita malang itu sudah membebaskanmu, maka kembalilah pada kekasihmu,” setelah mengatakan itu sang ayah meninggalkan mansion, dia sudah beberapa hari di Indonesia karena pengakuan menantunya yang atas tindakan Calvin.


Calvin merobek kertas itu, dia tidak akan berpisah hanya karena selembar kertas yang tiada artinya.


Tidak membuang waktu dia mengendarai kembali mobilnya, dia harus mencari Alice, sekarang dia tahu kemana harus mencari.


“Sayang … maafkan aku, aku janji ini yang terakhir aku menyakitimu,” Calvin tetap bergumam sepanjang jalan.

__ADS_1


Ponselnya terus bordering ada nama Mala disana, sesaat Calvin bingung dengan dirinya, bukankah sebelum rahasianya terbongkar dia memang mengatakan bahwa lebih memilih Mala dibanding Alice lalu sekarang?


Kepalanya kembali berputar pusing, bagaimana jika dia juga kehilangan Mala kembali setelah Alie tidak ingin dibujuk bersama?


Calvin menepikan mobilnya, dia berpikir di sana langkah apa yang harus di ambilnya, memejamkan mata, tawa Alice dan tawa Mala menari di kepalanya.


“Aaaaaghhhhh,” memukul stir mobil dan kembali termenung.


Dia harus memikirkan benar-benar langkahnya selanjutnya, panggilan dari Mala kembali masuk, dengan malas Calvin menerima dan mendengarkan apa saja yang akan kekasihnya ucapkan.


“Apa!?” pekiknya


Betapa terkejutnya Calvin saat mengetahui apa yang terjadi, kebetulan sekali dihari yang sama. Dengan segera dia menuju apartemen Mala, dia harus tahu kejadian sebenarnya seperti apa.


“Apa maksudmu?” tanya Calvin setelah dia sampai di apartemennya.


“It-u butik milikku yang di bandung habis terbakar,” wajah cemas Mala tidak ia di sembuntikan, itu adalah satu-satunya jalan rizikinya dan sekarang semua habis, apa yang terjadi.


“Pelan-pelan, heum apa yang terjadi sebenarnya?”


Mala menceritakan semuanya bahwa tiba-tiba saja didalam butiknya terdapat percikan api. Tidak ada korban jiwa dan cctv tidak menangkap gerakan mencurigakan apapun.


“Ayo! Kita harus melihatnya secara langsung, aku yakin ada sesuatu yang terlewat, mungkin saja petugas tidak melihat dengan benar rekaman cctv nya,”


Mala masih terdiam, dia seperti mengingat apa yang di ucapkan wanita lain yang mendatanginya setelah kepergian Calvin tadi.


“Apakah Alice yang melakukannya?” gumamnya masih dapat di dengar oleh Calvin.


“Apa maksudmu?” jelas Calvin tidak akan terima hal ini.


“Setelah kau pergi ada wanita lain yang mendatangiku, dia mengatakan kalau Alice tidak akan tinggal diam karena aku merebutmu darinya,” jelas Mala.


Calvin melihat rekaman cctv beberapa jam setelah kejadian, matanya membola saat melihat apa yang Laura lakukan disana. Sekelebat bayangan ketika dia dan Laura yang tidak sengaja bertemu di dalam lift.


“Apakah Laura wanita suruhan Alice? Tetapi bagaimana bisa? Jelas Calvin melihat bagaimana mereka bersiteru saat itu.

__ADS_1


Sesaat dia terdiam dan mengaitkan semuanya, hingga akhirnya dia memutuskan menghubungi Laura, dia yakin ada yang wanita itu ketahui selama ini.


__ADS_2