
Setelah melakukan perjalanan panjang akhirnya Calvin sampai di mansionnya. 'Hah'. Hembusan nafas itu terdengar sangat berat. Dia memasuki rumah dengan tubuh yang sangat lelah.
"Tuan, anda sudah kembali?". Hans seorang penjaga yang memang dia tugaskan untuk menjaga Mansion datang dengan tergopoh saat mendengar suara mobil masuk halaman.
"Hm, Siapkan makanan aku akan turun setengah jam lagi". Dengan jas yang masih tersampir dilengan Calvin menaiki tangga dan berjalan memasuki kamarnya.
Pintu dibuka, sepi, sudah beberapa bulan sejak pertengkaran mereka kamar ini memang sudah kosong, tetapi tetap saja rasanya tidak enak. Lagi setelah mengetahui bahwa Alice mengandung buah hatinya.
Calvin berjalan gontai, mendudukkan diri di pinggir kasur, melepas dasi dan membuka kancing atas kemejanya. Dia gerah. bukan hanya karena dia lelah diperjalanan atau karena pendingin dikamarnya bermalasah, tetapi karena masalah rumah tangganya yang tiba-tiba saja banyak duri setelah akhirnya Alice membalas cintanya.
Alice.
Ya dia merindukan wanitanya.
Istrinya yang manis dan menggemaskan.
Calvin menggulung lengan kemejanya, merogoh kantong celana dan mengambil benda pipih serba gunanya, mencari nama yang sudah lama dia sematkan disana. Setelah mendapatkan nama kontak yang dia cari dengan bertuliskan 'Sayangku' Calvin tampa menunggu lama mendeal. Beruntung karena panggilannya langsung terhubung. Sudut bibirnya terangkat ke atas. Hatinya berbunga.
"Daddy, sudah sampai?". Suara manja Alice dari balik sana membuat hatinya menghangat, rasa rindunya semakin membuncah.
Ah sial! Andai saja wanita itu di depannya sudah habis Calvin memakannya.
"Mm, baru saja". Jawabnya tidak bisa menyembunyikan bahagianya.
"Apakah anak Daddy rindu?" Lanjutnya kembali. Yang di angguki langsung oleh Alice. Sepertinya wanitanya tengah berada ditamam samping rumah, terlihat dari latar dibelakangnya.
"Kau belum mandi, Calv?" tanyanya lembut.
"Aku ingin mandi, tetapi tiba-tiba saja aku merindukan babyku".
"Hanya baby? Lalu aku?" Alice memicingkan mata tak suka. "Jadi sekarang posisiku sudah digantikan, begitu?"
Calvin hanya terkekeh, dia suka melihat bagaimana wajah kesal Alice, "Aku justru lebih merindukan Mommy nya, cepatlah kembali aku merindukanmu".
Alice terlihat mengangguk dibalik layar, terlihat semakin cantik, apakah karena hormon kehamilannya? Calvin menyukai pipi cubby itu.
"Mandilah dulu lalu makan, kau harus menjaga kesehatanmu, aku tidak mengerti kenapa kau terlihat kurus sekarang". Alice kembali mengomel seperti dulu saat mereka belum terkena hempasan ombak.
"Kalau begitu aku tutup dulu, mandilah".
__ADS_1
Belum sempat Calvin membalas, panggilan itu terlutus, Calvin hanya melihat nanar ponselnya yang sudah berubah hitam layarnya
"Cepatlah pulang, aku merindukan kalian". dengan sudut bibir terangkat ke atas Calvin mencium berulang kali ponselnya sebelum dia mendengar suara ketukan beberapa kali dari luar.
"Masuklah".
Hans tidak masuk dia hanya berdiri didepan pintu kamar, dia masih mengingat bahwa tidak ada yang boleh masuk dikamar Tuannya. Kecuali si pemilik sendiri.
Calvin mengingat bahwa Alice memang tidak menyukai siapapun masuk dikamarnya, akhirnya mengerti dia bahkan membuang kasur yang pernah dia pakai saat Alice menemukannya bersama Laura saat itu. Calvin tidak mau menyimpan sesuatu yang membuat istrinya tidak nyaman.
"Aku sudah katakan aku akan turun setelah aku selesai membersihkan -".
"Maaf Tuan, tetapi ada seseorang menunggu anda diruang tamu, saya sudah memintanya menunggu tetapi-"
"Siapa yang bertamu di waktu seperti ini?" Calvin berdiri, menghampiri Hans, dia baru sampai dan sebentar lagi akan malam lalu siapa yang tiba-tiba saja ingin bertemu?
"Dia, Nona Laura".
Calvin menghembuskan nafas panjang, ada perasaan tidak suka mendengar nama sekertarisnya itu.
"Katakan padanya aku akan segera menemuinya". Hans membungkuk dan berlaku dari kamar Tuannya, dia sudah lama bekerja bersama keluarga Riveira, tentu dia juga sangat mengenal bagaimana Tuannya yang sangat mencintai Istrinya Nyonya Alice, namun kejadian malam itu benar-benar mengubah semuanya.
Sampai pagi itu terjadi, Hans melihat Nyonyanya memasuki rumah pagi-pagi sekali, dan terjadilah hal yang tidak seharusnya terjadi. Hans menyesal karena malam itu tidak mencoba melihat siapa wanita itu.
Sampai di ruang tamu sesuai yang Tuannya katakan dia menyampaikan pada Laura bahwa Tuannya akan segera turun dalam beberapa menit.
Laura mengangguk, dia masih duduk di sofa dengan tenang. Membiarkan Hans berlalu namun belum juga langkah itu menjauh Laura menghentikannya "
"Dimana Alice? Mm maksudku Nyonya Alice?".
Hans berbalik dan sedikit tersenyum walau didalam hatinya sangat tidak menyukai wanita didepannya.
"Nyonya masih di kediaman orang tuanya, Nona".
"Apakah dia akan lama disana, oh maksudku apakah dia tidak akan kembali lagi? Sayang sekali dia meninggalkan Tuanku". Mimik Laura saat mengatakan itu seolah-olah dibuat sangat sedih dan hawatir.
"Dia akan kembali Nona anda tenang saja, Lagi tidak mungkin mereka akan tinggal ditempat yang berbeda".
"Sudahlah, kau tahu apa soal itu, lebih baik kau kembali saja, berbicara padamu tidak ada gunanya".
__ADS_1
Hans mendengus lalu membalik diri, dia juga merasa enggan berbicara dengan wanita yang sudah membuat Tuan dan Nyonya nya renggang.
Lama menunggu akhirnya Calvin datang dengan setelan santai, kaos putih dan celana training berwarna hitam. Jangan lupakan rambutnya yang setengah basah yang dia biarkan acak-acakan.
Baru saja dia muncul Laura sudah berlari berhambur didalam pelukannya, menghirup aroma pria itu.
"Tuan, saya merindukan anda". Calvin menyentak tubuh Laura hingga terlepas darinya membuat Laura hampir saja terjengkal kebelangan.
"Ah, Tuan". Pekiknya yang hampir kehilangan keseimbangan
"Apa yang kau lakuakan?" Desisnya penuh amarah.
"Tu-Tuan, maafkan saya, saya hanya-".
"Kau lupa batasanmu? Kau sengaja ingin memperkeruh kembali keadaan?" Tatapan Calvin tajam ke arah Laura yang masih menunduk.
"Tuan...."
"Katakan, apa yang membawamu kemari?" ketus Calvin dia tidak akan memberikan celah sedikitoun sekarang, demi anak dan istri tercintanya
"Saya, saya hanya datang karena merindukan Tuan, saya mendengar bahwa, Tuan sudah kembali".
"Kau sadar dengan ucapanmu Laura?"
"Tuan, maafkan saya, tetapi saya tidak bisa menyembuyikan perasaan saya terlalu lama". Laura masih tertunduk dan meremas ujung bajunya.
Calvin berdecak kesal, dengan cara apa dia menyadarkan wanita didepannya. "Sungguh aku tidak tahu apa motifmu selama ini, aku hanya menyayangkan bahwa Luce membawakanku waniat sepertimu". Desisnya dengan menahan kekesalan.
"Tuan, maaf kan saya, tetapi Tuan salah faham pada saya, tidak ada motif apapun selain karena saya mencintai Tuan".
Amarah Calvin sudah mengunung, dia sudah bersabar tetapi wanita didepannya terus saja menyulut emosinya. Harus dia apakan wanita ini agar dia sadar bahwa apa yang dia inginkan adalah hal bodoh.
"Aku baru tahu ternyata kau tidak memiliki malu sedikitpun" Calvin berdecih. menghela nafas panjang dia mencoba menahan diri untuk tidak menyakiti fisik. Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, maka kekuarlah".
Laura hanya bisa mengepalkan tangan kuat, dia tidak boleh gagal.
"Baiklah Tuan, maafkan saya". Setelah mengatakan itu Laura berbalik dan melangkah meninggalkan Calvin tetapi tiba-tiba saja dia jatuh.
Calvin yang melihat itu beberapa saat hanya diam, mengeryitkan dahi sebelum dia mendapatkan kesadarannya dan memanggil Hans.
__ADS_1