
Laura hanya mendesah, "Berdirilah! Tidak ada gunanya menyesal sekarang, kau hanya tidak mengenal lawanmu saja."
"Dimana Antoni sekarang?"
Laura mengatakan dimana kakaknya, kasihan juga Mala, tapi apa yang dia lakukan memang salah. Laura hanya beruntung saja.
"Minta maaf pada Alice, dia wanita baik, aku yakin dia akan memaafkanmu."
Mala berdecih. "Kenapa harus minta maaf, sejak awal dia yang menghancurkan hidupku. Dia menikahi kekasihku. Dia mengambil priaku."
Laura hanya diam dan terus mendengar nya. "Tapi statusnya sudah menjadi istri sah tuan Calvin, saat kalian berselingkuh."
"Suaminya yang datang, harusnya dia sadar kalau Calvin memang tidak pernah mencintainya."
Laura hanya tertawa, "Tapi melihatmu seperti ini sudah membuktikan kalau dia sudah tidak mencintaimu."
__ADS_1
Mala kesal, jika di pikir apa yang Laura katakan memang benar. Calvin sudah tidak mencintainya. Sekarang dia hanya ingin bertemu dengan Antoni-ayah dari Melisa. Laura tidak bisa mencerna bagaimana bisa Antoni menjadi kakak Laura dan pria itu juga mencintai Alice mantan kekasihnya.
Setelah kepergian Laura, Mala merenungi semuanya, jika memang Calvin tidak bisa bersamanya, setidaknya Antoni harus mau bertanggung pada anaknya.
Di tempat yang berbeda Calvin masih terus berusaha bagaimana agar mesin perontok jagungnya bisa di gunakan. Melihat kondisinya sepertinya memang sia-siapa, bukan hanya nerkarat tetapi ada bagian yang memanv sudah rapuh dan akan bahaya kalau memaksa menggunakannya.
Menghela napas, dia terpaksa merendahkan diri, menggunakan bantuan yang Edgar, ya setidaknya dia dia tidak akan membalas kebaikannya nanti.
Berbulan-bulan lamanya sudah Calvin lewati, karena bantuan Edgar kini pabriknya sudah bisa beroperasi kembali, hanya ada beberapa pekerja saja yang mampu Calvin bayar, bahkan meain lama sudah dijualnya untuk menambah alat lain yang mereka butuhkan.
"Tuan, ada seseorang yang mencari anda." kata seorang wanita muda yang bekerja dengannya, wanita yang setiap melihat Calvin maka matanya akan berbinar.
"Wanita?" tanya Calvin, masih melihat hasil gilingan jagungnya.
Rahayu, wanita berusia 23 tahun itu mengangguk, andai saja wanita yang datang tidak bersama dengan seorang anak maka dia akan cemburu dibuatnya, wanita itu sangat cantik dan terlihat kaya raya.
__ADS_1
"Kau lanjutkan pekerjaanmu, aku akan menemuinya." Rahayu mengangguk dan pamit undur diri, tidak lupa dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya.
Calvin mencuci tangan dan memcuci mukanya, yang terasa panas, beda rasanya saat dia bekerja sebagai CEO, namun ini sudah terjadi, dia yang salah dan mau tidak mau dia harus tetap melanjutkan hidup demi memantaskan diri kembali bersama Alice dan putranya yang sampai saat ini dia tidak pernah melihatnya.
Alice begitu kejam, dia selalu ada cara untuk menghilang dan menutupi keberadaan putra mereka, di ujung sama Calvin bisa melihat seorang wanita memunggunginya, dengan seorang anak laki-laki yang selepertinya barusia hampir setahun. Jantungnya berdegup kencang, kakinya seperti mati rasa, namun dia terus melangkah dengan membuka topinya.
Saat wanita itu barbalik, jantungnya seperti akan berhenti, matanya memanas, dia ingin menangis tetapi malu.
"A-Alice."
Wanita yang namanya disebut hanya tersneyum kecil memperhatikan Calvin dari atas sampai bawah, pria yang pernah membuatnya belajar mencintai kembali setelah ditinggal, namun nyatanya cinta yang dia anggap asli rupanya palsu.
"Bagaimana kabarmu?" suara itu, suara lembut yang sangat dia rindukan, ingin sekali memeluk, tetapi sadar, pakaian yang dia gunakan, akan mengotori pakaian mahal Alice.
"Aku--,"
__ADS_1