
Lama berdiri diluar akhirnya Calvin memutuskan untuk masuk, dengan perlahan dia menggeser pintu, siapa tahu didalam istrinya tertidur dan dia tidak ingin membangunkannya.
"Calv, kau datang?" masih lemah "Kau masih marah?" dia melambaikan tangan memanggil suaminya. sejak tadi dia menunggunya, bagaimanapun pernikahan mereka sudah lama, wajar-wajar saja jika terdapat masalah didalamnya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya setelah mendudukkan diri di kursi yang tadinya dipakai Edgar.
"Aku baik, dan anak-". Alice tidak melanjutkan katak-katanya, bagaimana jika Calvin masih tidak percaya.
"Anak kita". Kata Calvin membuat pandangan Alice yang tadinya mengarah pada perutnya kini menatap Calvin.
"Maafkan aku karena meragukannya". Mata Calvin berkaca-kaca dia sangat menyesal. "Aku tidak bisa membayangkan kau akan berpaling dariku".
Alice hanya tersenyum, dia meraih tangan suaminya dan meletakkannya di atas perutnya "Coba rasakan, jika kau tidak memiliki rasa apapun padanya, maka benar dia bukan anakmu". Katanya menatap wajah Calvin agar pria itu tahu bahwa itu memang anak mereka.
Tampa diminta air mata Calvin luruh juga, dan hatinya selalu menghangat tiap kali dia menyentuh perut istrinya. "Maafkan aku, aku terbawa emosi hingga membuatmu dan anak kita dakam bahaya.
"Kami baik-baik saja, kami akan berusaha kuat demi Daddy". Alice mencoba menghibur suaminya yang terus saja meminta maaf.
Hari memang sudah mulai pagi, Dokter dan perawat masuk memeriksa Alice dan semua memang sudah baik-baik saja hal itu biasa terjadi pada sebagian ibu hamil. Asalkan kandungan kuat maka tidak ada yang perlu dihawatirkan.
Calvin mengurus istrinya dengan naik, setelah mendapatkan izin pulang dan menebus obat, Calvin membawa Alice pulang dengan kursi roda, baru sampai di koridor terlihat Edgar dan Bella yang berjalan ke arah mereka.
Bella terlihat berlari kecil menghampiri Alice. "Kau sudah di izinkan pulang? Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya sedikit membungkuk menatap wajah cantik didepannya.
"Aku baik, terima kasih sudah datang, aku harap kau tidak pulang hari ini". Kata Alice yang mengingat bahwa Edgar akan kembali.
"Tidak, aku memaksa Tuan untuk menambah liburanku, dia sudah banyak merepotkanku dengan pekerjaannya". Jawab Bella terkekeh.
"Mm,,Kalian memang harus sering berlibur bersama". Katanya melihat ke arah Edgar yahg seperti biasanya. Datar.
Calvin yang memang tidak ingin berlama-lama melihat Edgar menjagak mereka semua kembali, agar Alice bisa segera istrahat. Ya memang benar. Alice butuh istrahat.
Sampai di mansion Calvin membawa menggendong istrinya naik tangga diantidak akan membiarkan wanitanya berjalan sejauh itu apalagi menggunakan tangga.
"Jangan berlebihan, aku bisa berjalan". Kata Alice dia sudah duduk di pinggir ranjangnya.
"Kau sudah sampai Nyonya ,dan sekarang istrahatlah aku akan membawakan makanan untukmu"
__ADS_1
Iya juga kenapa sejak tadi Alice tidak menolak? Dia terlaku bahagia karena Calvin sudah tidak meragukan anaknya lagi.
Di lantai bawah ditaman samping terlihat Edgar tengah duduk bersama Arabella. Wanita cantik itu masih sibuk dengan ponselnya, dia mengirim pesan pada orang tuanya bahwa dia akan kembali beberapa hari lagi.
"Mereka tidak marah?" Tanya Edgar melihat Bella sudah menyimpan ponsel disampingnya. kemudian menjawab atasannya yang dia cintai.
"Ayolah Tuan aku sudah dewasa, mereka tidak akan marah, karena aku mengatakan bersama bos tampanku".
Edgar berdecak, Arabella sangat random dia terkadang bersikap sangat manis bersama orang lain. Tapi bersama Edgar dia kan berubah menjadi sangat manja dan santai.
"Arabella". Geramnya.
"Hah, Tuan jangan selalu memarahiku, aku hanya mengatakan kau tampan". Menghela nafas panjang.
"Tuan, mau mendengar curhatanku tidak?" menatap lurus ke Edgar yang masih menatap lurus kedepan dan Bella tidak perduli.
"Kau benar, dia sangat cantik, pantas saja kau tidak bisa melupakannya".
Edgar melihat ke arah Arabella yang telihat sendu. "Kau juga cantik". Mendengar itu Bella mendongak "Tapi bagiku dia lebih cantik".
"Tuan sekali-kali berikan aku pujian". Arabelka cemberut.
"Tuan...
"Hm, katakan saja"
"Apakah Tuan masih menginginkan Nona? Dia sedang ha-" Bella tidak melanjutkan saat tatapan Edgar menembus jantungnya
"Maafkan aku, Aku mencintainya tidak perduli dia bagaimana". Jawabnya mantap "Aku percaya kau bisa mendapatkan yang terbaik".
"Hm, baiklah, lebih baik aku tidur aku lelah di tolak terus". Edgar yang mendengar itu hanya tergelak dan membiarkan Arabella pergi sambil menggerutu.
Edgar mengambil ponselnya yang sejak tadi bergetar. Dilihatnya nama yang menghubungi.
"Ada apa?:
(......)
__ADS_1
"Baiklah aku kesana sekarang". Dengan langkan lebar Edgar keluar Mansion, memasuki mobilnya dan melesat cepat ketempat tujuannya.
Disinilah dia sekarang diatas gedung tertinggi, didalam ruangan yang masih terasa terkesan untuknya. "Jadi dimana dia sekarang?" tanya Edgar pada Samuel.
"Dia sudah kembali kerumahnya, sepertinya dia tahu Alice ada disini". Jawab Samuel sambil memainkan ponsel ditangannya.
Tangan Edgar mengepal, pasalnya dia tahu bahwa Antonio memiliki niat lain. Dia mendengar sendiri saat itu bahwa Antonio menginginkan Alice sebagai istrinya namun ditolak oleh saudara tirinya.
"Jadi apa rencananya?"
"Dia meminta adiknya untuk masuk kedalam rumah tangga Alice dan membuat si sipit itu tergoda, tetapi sepertinya tidak berhasil karena Alice yang tengah berbadan dua". Jelas Samuel, dia tahu karena dia memiliki salah satu pengawal Antonio yang selalu mengabarinya apanyang bosnya lakukan.
"Sebentar, dia memasukkan adik perempuannya di tengah pernikahan Alice? Tanyanya dan dia angguki mantap Samuel.
"Apakab itu sebabnya Calvin mengatakan bahwa dia adalah penyebab Alice meminta cerai".Gumamnya dalam hati. Samuel yang melihat teman kecilnya selamun lantas menyadarkan.
"Ada masalah?" yang dijawab gelengan oleh Edgar.
"Kau masih betahan dengan perasaanmu? Sekarang bukan hanya suaminya sebagai penghalang, tetapi juga si Antonio".
"Aku tidak pernah menganggap Calvin penghalang, dia suaminya sudah lebih berhak, Aku hanya akan menyingkirkan Antonio dia sangat berbahaya".
"Ya tapi kita tidak bisa menyerang, biarkan dia keluar sendiri. Karena semua kejahatannya tidak memiliki bukti"
Edgar bedecak kesal, "Lalu bagaimana sekarang?" aku sudah jauh-jauh datang dan tidak melakukan apapun.".
"Kau ingin melakukan apa memang?, Aku hanya mengatakan bahwa Antonio sudah dirumahnya, kau sendiri yang datang".
"Bagaimana tidak, aku akan kembali dan tidak tahu bagaimana cara melindunginya dari Antonio". Katanya dengan wajah frustasi, dia yakin Antonio sangat berbahaya, tetapi tidak juga bisa menangkapnya karena tidak ada bukti bahwa dia yang melakukan pembunuhan Atas Tuannya.
"Bersabarlah, aku yakin dia tidak akan lama bersembunyi dan disaat itu kita akan menangkapnya"? Samuel sangat bersemangat.
Mereka mengobrol lama, sampai Wina masuk memberitahu bahwa ada seseorang yang memaksa untuk bertemu, karena memang tidak ada yahg harus dikerjakan Samuel mengizinkan.
Dan betapa terkejutnya saat mekihat siapa yang berada didepan pintu dengan senyum menawannya. "Antonio".
"Wah, aku kira kalian melupakanku?". Katanya melangkah maju menghampiri kedua sahabat itu. Antonio berjalan dengan tangan masih berada di dalam kantong celana. Auranya mendoninasi. Dan senyuman diwajahnya, senyuman misterius itu masih tetap sama seperti dulu.
__ADS_1
"Dimana keponakanku? Jam berapa dia akan datang?" Katanya to the point duduk di hadapan Edgar yang selalu saja memasang wajah tampa ekspresi.
"Ada apa dengan wajah kalian? Beginikah cara kalian menyambut adik dari atasan kalian?" menatap Edgar dengan tatapan mengejek.