Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Ketemu


__ADS_3

Ini sudah panggilan kesekiannya, tetapi sepertinya bawahannya ini memang sengaja tidak ingin menjawab panggilan darinya, dengan kecepat sedang Cavin mengemudikan mobilnya. Pikirannya bercabang saat ini.


Satu sisi ingin menemani Mala melihat kondisi dari butiknya satu sisi lain dia ingin sekali menemukan dimana Alice sekarang. “Alice … maafkan aku sayang ….” Lirihnya sepanjang jalan pulang.


Di dalam kamar Calvin duduk di pinggir kasur pasalnya Alice tidak membawa sebijipun pakaiannya bahkan ponselnya juga tidak di bawa.


Karena rasa penasaran dia mengambil ponsel Alice dan kembali memeriksa semuanya, alisnya mengkerut saat ia mengetahui bahwa di dalam ponsel tersebut hanya ada satu nama saja yaitu namanya.


“Artinya dia memiliki ponsel yang lain?”


Lebih dari itu sebenarnya dia sangat penasaran dimana Alice, bahkan ini sudah sore.


Sekali lagi dia menelepon Laura, mungkin saja kali ini dia bisa mengetahui sesuatu dari wanita itu. Dia juga tidak menyangka bagaiman bisa Laura menampar Mala.


Tidak menunggu lama, Calvin langsung meletakkan polsel ditelinga saat penggilan itu tersambung.


“Tunggu aku di resto biasa,” setelah mengatakan itu Calvin bergegas meninggalkan rumah kembali setelah dia membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sejak tadi Mala terus saja meneleponnya, namun ini lebih penting, bagaimanapun rasa cintanya pada Mala dia tetap akan membuat Alice selalu bersamanya. Terlalu menakutkan rasanya jika kehilangan wanita itu.


Dua tahun dia kehilangan Mala, meski terkadang dia merindukannya tetapi dia masih bisa tertawa dan tersenyum, tetapi bagaimana nasibnya jika tidak bersama Alice? Belum sehari tetapi dia sudah merasa sangat buruk.


“Tuan,” Laura membungkuk dia tahu bahwa Calvin akan marah karena tadi sudah membuat Mala kesakitan.


Kediaman Calvin tidak membuat Mala takut sedikitpun, “Maaf Tuan,” hanya itu yang Mala ucapkan, setidaknya dia sudah meminta maaf, jika harus di pecat juga tidak masalah baginya.


“Dimana Alice?” Laura mengangkat wajahnya. Dikiranya dia akan kena masalah karena menampar Mala rupaya pria yang pernah membuatnya kehilangan akal ini mencari istrinya.


“Nyonya? Saya tidak mengerti maksud anda Tuan?” Laura berusaha menangkan diri, jangan sampai di dicurigai.


Calvin menghela napas pelan, dia tahu bahwa Laura menyembunyikan sesuatu darinya, “Sejak kapan kalian menjadi teman?” tanya Calvin dengan wajah dingin.

__ADS_1


“Maaf Tuan, apa maksud anda?”


“Laura, aku hanya ingin tahu dimana Alice sekarang. Aku tidak peduli ada hubungan apa antara kalian, atau apa yang membuatmu akhirnya menyerang Mala,”


“Tuan. Maaf jika saya bersalah, saya sungguh tidak mengerti apapun tentang Nyonya,” Laura berusaha bersikap biasa, dia melanjutkan, “Lagi, saya melakukannya karena memang sejak awal saya mencintai Tuan,” Laura menunduk tidak ingin Calvin menangkap niat nya.


Ditempat berbeda Mala tengah mengamuk kembali karena Calvin kembali mengabaikannya, “Sialan, pembohong. Dia jelas mengatakan bahwa hanya aku yang dicintainya, tapi sekarang apa yang dia lakukan?” Mala terus mengumpat kesal.


Ini sudah kesekian kalinya dia menelepon tetapi Calvin seolah tidak menganggapnya. Perkataan wanita yang datang setelah Alice kembali ternyiang di telinganya.


“Apakah semua ini karena Alice?” Mala termenung,


“Perempuan sialan, dia merebut kekasihku dan sekarang dia menghancurkan karir dan membuat Calvin goyah,” Mala kembali mengamuk.


“Calvin aku tidak akan memaafkanmu, jika sampai kau kembali meninggalkanku,” ancamya.


Karena tidak bisa menunggu akhirnya Mala memutuskan untuk pergi sendiri, dia harus benar-benar memastikan bagaimana kondisi butik yang dia bangun dengan susah payahnya.


Mala tidak peduli jika Calvin tengah bingung menentukan sikap karena dia tahu sampai kaanpun Calvin akan kembali kepadanya.


Karena sudah sangat malam, Mala memilih menginap di hotel, besok pagi-pagi sekali dia akan melihat langsung kondisinya.


Dan sepertinya memang pagi sangat menyukai Mala bahkan dia merasa baru saja merebahkan badan sekarang pagi sudah menyapanya dengan kenyataan, dia harus dia terima dengan lapang dada.


Ditempat kejadian dia bisa melihat dengan jelas, hanya tersisa puing-puinnya saja, ingin sekali dia menangis karena melihat nasibnya begitu buruk, tangannya mengepal kuat, dia yakin bahwa yang melakukan ini adalah wanita sialan itu.


“Alice, aku akan pastikan kau juga akan kehilangan apapun yang kau punya?” katanya dengan senyum miring.


Calvin hanya ternganga dengan apa yang Laura katakana, artinya selama ini Alice memiliki tempat tinggal lain yang dia juga tidak tahu.


“Tuan, tolong jangan kesana karena Alice akan membenci saya setelah ini,” Laura memohon, dia tidak menyangka bahwa Calvin mengetahui rahasia yang di sembunyikannya dengan rapi, bagaiman jika kakaknya Antoni tahu?

__ADS_1


Setelah mengetahui kebenarannya dari Laura pria itu kembali ke mansion nya, dia akan menenangkan diri, setidaknya dia tahu bahwa sang istri baik-baik saja, dia akan kesana besoknya untuk meminta maaf.


Dan ingatannya kembali pada Mala, wanita yang di abaikannya karena terlalu kalut atas kepergian Alice, sekarang Calvin ingin membagi kebahagian, dia tahu Mala adalah wanita baik.


Namun wajahnya kembali terlihat lesu saat mengetahui Mala tidak ada di apartmennya, menghela napas berat, namun dia kembali meyakinkan Mala bahwa dia pasti akan kembali setelah urusannya bersama Alice selesai.


Keesokan harinya setelah Calvin menyiapkan semuanya, dia sudah bergegas menuju apartemen Alice yang dia tahu dari Laura, ada perasaan lega dan juga khawatir di dadanya.


“Alice setelah ini aku pastikan kehidupan kita aka baik-baik saja,” dia terus mengatakan hal yang sama sejak memasuki mobil, dia bahagia karena masih di beri kesempatan.


Tiba didepan pintu apartemen, baru saja dia akan menekan bel pintu sudah terbuka, dia menatap hean Alice yang seolah tahu kedatangannya, tidak menunggu lama Calvin memeluk sang istri, dia tidak peduli jika Alice sudah melayangkan surat cerai, baginya dia akan tetap menganggap Alice istrinya.


“Ternyata Laura masih mencintaimu,” Aice melerai pelukan memuakkan itu, dia tahu Laura yang mengatakan keberadaannya karena wanita itu sendiri yang mengabarinya dengan alasan yang dia juga tidak tahu.


“Sayang. Maafkan aku. Aku salah,” Calvin mengekori kemana Alice, dia akan memastikan tidak ada yang membuat kaki sang istri tersandung.


Jika diperhatikan aparemen ini sangat mewah, apakah setiap mereka betengkar Alice akan pulang kesini?


“Kau tidak malu mengucapkan kata memuakkan itu pada mantan istrimu?” Alice duduk di sofa lembut berwarna coklat dan memakan buahan yang sudah di potongnya, tatapannya tertuju pada layar besar di hadapannya.


Di sana sudah ada wajah Samuel yang tersenyum ke arahnya, mereka akan melakuka panggilan. Calvin hanya tercenang melihat nya, dia diam beberapa saat sampai Alie seesai dengan panggilannya.


“Alice ….”


“Pilihlah diantara mereka, bibikku juga tidak buruk, tetapi aku yakin bulan berikutnya kekasih mu juga akan hamil jadi kau rundingkan saja pada mereka, bagusnya bagaimana,” ucapan Aice sangat santai tetapi jelas mengusik harga diri Calvin.


“Alice!! Omong kosong apa yang kau katakana?!” bentaknya.


Wanita itu hanya tersenyum miring mendengar suara keras yang seolah membuatnya semakin kuat.


“Keluar dari sini atau kau akan menyesal karena bersuara keras padaku tuan Calvin!”

__ADS_1


__ADS_2