
Alice mendesah pelan saat menutup panggilan dari Edgar. Tenyumnya seketika hilang saat mengingat bagaimana dia kehilangan pria itu dan di jodohkan oleh pria yang sebenarnya tidak pernah mencintainya.
Dia menyimpan ponselnya di atas nakas kemudian mulai memejamkan mata, dia lelah. Mungkin lebih baik tidur beberapa menit. Pikirnya
“Kau sangat jahat Tuan,” gerutu Arabella menyandarkan punggungnya di sofa di dalam ruangan Edgar.
Egdar hanya berdecak dan tidak menghiraukan Arabella, dia berjalan ke pantry dan membuka kulkas dan membawa dua kaleng minuman dingin, satu untuknya dan satu untuk Arabella.
“Minumlah, kau harus tetap segar karena sebentar lagi kita ada rapat,” wanita itu berdiri dan meraih kaleng minuman dingin yang atasan tersayangnya berikan.
“Tuan, setidaknya sekali saja anggap aku sebagai wanita yang manis dan cantik,” ucapnya berjalan berdampingan dengan Edgar menuju lift.
“Kau sudah manis dan cantik Bella, mau cantik bagaimana lagi?” tanyanya, dia terkadang bingung kenapa wanita ini tidak juga lelah bertanya sesuatu yang itu-itu saja setiap hari.
“Ish Tuan, kau sangat menyebalkan!” Arabella mempercepat langkahnya dan meninggalkan Egdar di belakang yang terlihat tersenyum melihat tingkah Bella. Menghela napas pelan, dia kembali mengingat Alice, bagaimana bisa dia menerima Bella sedangkan tingkah keduanya sama?
Edgar tidak ingin suatu saat Bella merasa sakit hati karena dirinya menjalin hubungan dengannya karena masih menyangkut pautkannya dengan Alice.
Jika memeng mereka di takdirkan bersama, maka biarkan Edgar mencari sisi lain yang tidak ada sedikitpun kemiripan tingkah dengan Alice, karena ia tidak akan bisa menahan kegundahannya, bersama wanita lain tetapi hatinya dan otaknya bersama Alice.
***
Pagi harinya di kediaman Alice, sudah ada Samuel dan ayah Thomas, di meja makan, mereka sarapan bersama karena Alice akan kembali lagi ke tempat suaminya Calvin.
“Kamu benar baik-baik saja Nak?” tanya Thomas pada putrinya, di usianya yang sudah tidak bisa bepergian jauh membuatnya sangat kesusahan saat ini, dia mudah lelah.
“Hem. Aku baik ayah, ada kak Samuel yang mengantarku,” ucapnya menenangkan, dia harus kembali, karena ada banyak yang harus di bereskan disana.
“Ayah tidak bisa melakukan apapun untukmu,” ibanya dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga anak majikannya dengan baik.
“Siapa bilang? Ayah sudah melakukan banyak hal untukku, menjagaku dan selalu memberikan cinta untukku,” jawabnya dengan ketulusan.
“Paman tenang saja, aku akan selalu menjaga Alice. Lagi, jika ada apa-apa aku akan langsung datang, tidak akan terjadi apapun padanya karena aku sudah menempatkan beberapa orang untuk menjaganya.
Thomas mengangguk, sudah ada Samuel. Dia hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja, dia bisa menjaga anaknya dari tempatnya juga.
Dia tahu Alice bukan wanita lemah, bahkan dia tahu bahwa anak perempuannya ini pergi menemui Antonio seorang diri.
Sangat nekat, tetapi dia bersyukur karena Alice kembali dalam ke adaan yang baik-baik saja.
Saat Alice sudah berada di dalam mobil bersama Samuel menuju rumah suaminya, di tempat lain sepasang kekasih baru saja terbangun setelah melewati malam yang panjang bersama.
“Eugh … Mala membuka pelan matanya, dia melihat kebawah perutnya, tangan kekar melingkar memeluknya dengan erat. Senyumya tersungging karena dia bisa kembali bersama pria yang sangat di cintainya.
“Kau sudah bangun, sayang?’ bisik Calvin di telinga Mala,”
Mala berbalik dibantu Calvin, mereka saling menatap penuh cinta, Calvin selalu jatuh cinta dengan mata Mala yang meneduhkan. Tangannya terulur dan menangkup wajah cantik di depannya, mengecup keningnya dan membawanya kembali dalam pelukannya.
__ADS_1
“Terima kasih sayang karena kau kembali,” ucapnya dengan tulus.
Dia memang mencintai Mala, dan saat mengetahui bahwa Mala sudah kembali dia tidak bisa menahan diri untuk tidak segera bertemu.
“Hem, dan terima kasih karena kekasihku masih mencintaiku walaupun dia sudah memiliki istri,” jawab Mala, ada rasa sakit saat dia kembali menyadari bahwa Calvin suami dari wanita lain.
“Sudah ku katakan, kau lebih ku cintai,”
“Tapi kau juga mencintainya kan?” Mala cemberut.
“Dia mengandung anakku sayang, aku tidak akan melepaskannya,” jawab Calvin tegas.
“Kalau aku juga memiliki anak bagaimana?” dia ingat semalam mereka melakukannya lagi, dan dia tidak akan minum pil kali ini.
Calvin tempak berpikir membuat Mala kesal dan sedih, “kau tidak suka jika aku memiliki anak darimu Calvin? Aku tidak akan minum pil sialan itu lagi,” Mala memunggungi Calvin dia sangat sedih karena Calvin tidak ingin memiliki anak darinya.
“Sayang ….”
“Aku tidak akan meminum pil itu kau harus ingat, aku akan melahirkan anakmu!” putusnya. Calvin tidak bereaksi apapaun, tetapi dia akan berusaha membuat Mala meminum pil itu atau ayahnya akan mengambil semua hartanya.
Tidak masalah jika Alice yang mengambil hartanya, karena anaknya ada bersama Alice.
Tetapi jika ayahnya tahu dia memiliki anak lain bersama Mala juga, dia yakin akan ada masalah yang lebih besar dari pada hanya jatuh miskin.
“Baiklah, jangan meminumnya jika kau tidak ingin, tapi –” Calvin sengaja mengantung ucapannya membuat Mala berbali menghadapnya.
“Kau jangan pergi meninggalkanku lagi, hem?” Mala mengangguk kemudian memeluk kembali Calvin.
“Kau serius? Kau ingin aku hamil anakmu?” tanya Mala kembali.
“Tentu saja sayang, tapi setelah anakku dari Alice lahir, bagaimana?” Mala tampak berpikir, dia tidak suka, tetapi tidak ada yang harus dia lakukans selain menyetujui keputusan Calvin, asalkan mereka bersama.
“Kau tidak pulang? Bagaimana jika istrimu mencarimu?” tanya Mala, sekarang mereka berada di balkon apartemen, saling berpelukan dengan mesra di bawah langit sore.
Seharian ini tidak ada yang mereka lakukan selain memadu kasih, mengeluarkan semua rasa rindu yang terpendam selama ini.
“Besok saja, aku masih sangat merindukanmu. Alice akan kembali beberapa hari lagi, jadi tidak masalah jika aku menginap beberapa hari lagi kan?” katanya.
“Dia selalu meninggalkanmu?” Mala semakin penasaran dengan sosok istri kekasihnya, saat pernikahan mereka Mala sudah pergi dan tidak mau tahu tentang semuanya, bahkan untuk melihat siapa istri kekasihnya saja dia enggan tetapi belakangan dia semakin rindu dan tidak tahan lagi, untuk itu dia memutuskan untuk kembali. Dan beruntungnya dia saat Calvin menyambutnya dengan penuh cinta.
“Dia pimpinan di perusahaannya sendiri, untuk itu dia harus bertaggung jawab kan,”
“Dia pasti sangat hebat dan cantik,” ucap Mala merasa rendah, karena dia memang dari keluarga yang tidak sekaya Alice dan Calvin.
“Kau juga cantik sayang,” Calvin memeluk Mala tetapi pikirannya kembali pada Alice dan anaknya, bagaimana jika mereka ketahuan? Apakah dia sanggup jika Alice meninggalkannya? Perceraian mereka batal karena kehamilannya saat itu. Tapi bagaimana jika saat ini dia tahu bahwa dia berselingkuh dengan Mala?.
Kepalanya sangat pusing dan dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia kembali membawa Mala masuk ke dalam kamar, mungkin dengan bersama Mala lagi, pusing di kepalanya akan menghilang.
__ADS_1
Keduanya melakukan lagi dan lagi entah sampai berapa kali, sampai mereka benar-benar lelah dan terlelap begitu saja.
Yang tidak keduanya tahu adalah, di dalam kamarnya Alice sudah tahu apa yang terjadi pada sauminya, dia tidak perlu menyimpan penyadap suara atau cctv untuk membuktikan dugaannya.
Didalam kamarnya dia tersenyum masam dengan kembali mengelus sayang perut buncitnya.
“Sayang, maafkan Mommy … tapi kali ini setelah masalah Mommy dan Daddymu selesai Mommy terpaksa akan membawamu pergi, kita akan hidup berdua kau mau?” tanyanya pada calon bayinya.
Setelahnya dia memejamkan mata, dia tidak perlu bertanya pada para pelayan apakah Calvin kembali ke rumah atau tidak. Karena dia tidak suka berbasa basi saat sudah mengetahui apa yang orang lain sembunyikan.
Pagi harinya, setelah sarapan bersama setelah pagi tadi kembali bercinta, Calvin dan Mala memilih makan di dalam kamar, dia akan kembali kerumah untuk mengambil beberapa berkasnya dan sorenya akan kembali lagi. Dia akan menginap bersama Mala sebelum Alice kembali.
“Kau janji akan kembali sore nanti?” tanya Mala setelah mereka selesai makan.
“Tentu sayang, aku harus mengambil beberapa berkas setelahnya kembali, kita akan bersama lagi malam nanti,” ucapnya membuat wajah Mala merona.
“Aku kembali sayang, tunggu aku! Dan jangan pergi lagi, oke,” Mala mengangguk setelah Calvin memberikan satu kecupan di bibir merah muda yang tipis itu.
Diperjalanan Calvin pulang dengan wajah cerah, dia senang karena Mala sudah kembali, dia seperti sangat bahagia kerena kehidupannya sangat lengkap. Kekasih nya kembali dan dalam beberapa bulan anaknya akan lahir.
Sampai di halaman rumah, dia masih tersenyum bahagia dan Alice melihat itu dari balik jendela kamarnya di lantai atas. Senyum tipis yang penuh misteri terlukis.
Langkah lebar Calvin dan wajah cerahnya menandakan bahwa dia memang tidak tahu siapa yang akan menyambutnya di kamar atas. Dengan cepat dia memutar knop pintu dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang duduk di pinggir kasur duduk dengan manis menunggunya.
Alice berdiri dengan senyuman yang tidak pernah sama sekali dia lihat selama ini, senyum yang tidak dia ketahui apa artinya. “sayang kau sudah kembali?” Alice berdiri dan menyambut suaminya kemudian memeluknya.
Calvin yang terkejut karena kehadiran Alice, dan semakin bingung dengan pelukan yang dia rasakan, dia tidak mengenali pelukan ini. Dia melerai pelukan mereka, menatap lamat wanita yang akan melahirkan anaknya.
“Sejak kapan kau kembali?” tanya Calvin mengabaikan pertanyaan serupa Alice.
“Kemarin pagi, kau dari mana?” tanya Alice basa basi, menepis pelan tangan Calvin yang akan meyentuh wajahnya. Tetapi bibirnya tetap tersenyum memanipulasi luka hatinya.
“A-aku di kantor menginap,” ucapnya sambil mengangguk membenarkan ucapannya sendiri.
“Kau sibuk rupanya, kenapa kembali? Ada yang kau lupakan?” tanya Alice yang sudah duduk di pinggir kasur.
“I-itu, aku ada beberapa berkas yang harus aku ambil,” jantung nya sebenarnya sudah berdetak sangat kencang, entah kenapa dia sangat takut.
“Sayang kau berkeringat, kenapa?” tanya Alice melihat keringat di dahi suaminya, dalam hatinya dia akan membalas ini dengan lunas.
Calvin mengusap wajahnya, menghilangkan rasa gugupnya dan Alice terseyum karena melihat kebodohan suaminya. “kau sakit? Kenapa wajahmu memucat sayang?”
“Alice … maafkan aku,” ucapnya tiba-tiba memeluk istrinya.
“Untuk apa? Jangan di pikirkan, aku akan selalu memaafkanmu, tenanglah,” mengusap punggung Calvin dengan wajah datar.
“Karena tidak menjemputmu kemarin,” Calvin memejamkan mata karena kembali berbohong.
__ADS_1