Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Dasar Keras Kepala


__ADS_3

Alice yang sadar langsung melepaskan pelukannya, "Maafkan aku, kak." Alice memalingkan wajah, malu sekali rasanya karena tidak sengaja memeluk Edgar.


"Kenapa minta maaf? Aku senang, akhirnya mendapatkan pelukanmu." Edgar duduk di sebelah Alice, tepat dihadapan wanita yang memenuhi hatinya selama ini.


"Dia melakukan hal buruk padamu? Kau ingin aku membalasnya untukmu?"


Alice menggeleng, "Tidak perlu." Alice tersenyum, dia kembali mengalihkan pandangannya, tetapi Edgar menahannya, "Jangan suka memalingkan wajah dariku."


"Bagaimana dengan Ayah? Dia sehat?" Alice mencoba mengalihkan pembahasan. Dia malu diperhatikan terus oleh Edgar.


"Ayah ... dia sehat. Tapi tolong maafkan dia karena sudah jarang menemuimu." Alice mengangguk.


Keduanya berbincang ringan, kesedihan Alice sudah berkurang, Arabella juga sempat melakukan panggilan vidio sehingga mereka bisa kembali saling sapa.


"Kalian terlihat sangat serasi duduk berdampingan." ucap Arabella dari seberang.


Edgar hanya berdehem, sejak tadi pria itu hanya diam mendengarkan Alice dan Bella yang terus bercerita banyak.


"Kami merindukanmu. Aku berharap kita bertemu kembali." ucap Alice tulus.


Didalam ponselnya, Arabella tersenyum tulus, dia menatap Edgar yang juga menatapmya, tentu saja dengan tatapan yang berbeda. Jika Arabella menatap penuh harap, beda dengan Edgar yang menatap sayang seperti adik sendiri.

__ADS_1


"Bulan depan orang tuaku akan menjodohkanku, aku berharap kalian bisa hadir di saat hari pertunanganku nanti."


Alice terdiam, dia melirik Edgar yang menatap Arabella dengan tatapan berbeda kali ini. Arabella melanjutkan, "Tuan hadirlah! Mama ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menerimaku bekerja bersama Tuan, mama senang karena anak gadisnya bisa mandiri." Bella terkekeh tetapi terlihat jelas ada kesedihan di sana.


Alice yang mengerti langsung undur diri dan beralasan ingin melihat ke adaan Orlando--putranya.


"Kalian mengobrollah duku, aku harus melihat keadaan Orlando di atas. Edgar mengangguk, dia tahu kalau Alice hanya beralasan tetapi dia memang harus berbicara pada Bella.


"Tuan ...."


"Kau tidak berbohong, kan?" tanya Edgar memastikan.


"Bella ...."


Arabella terkekeh, "Tuan, jangan menatap saya seperti itu. Bukankah saya memang harus melanjutkan hidup? Percuma juga harus menunggu yang tidak pasti, kan?"


"Aku harap kau selalu bahagia." ucap Edgar.


"Tuan. Disaat seperti inipun kenapa Tuan tidak juga memperjuangkan saya sekali saja, asal Tuan tahu, tadi saya berharap Tuan akan mencegah perjodohan itu dan mengatakan pada Mama kalau Tuan ingin bersama saya."


"Bella ... Kau tidak akan bahagia bersama pria yang tidak mencintaimu, kau berhak bahagia." ucap Edgar.

__ADS_1


"Tapi kebahagiaanku bersama Tuan ...." lirih Bella.


"Dan kau tahu kan, dengan siapa aku bisa bahagia?" Arabella cemberut. Dia memasang wajah lelah dan sedih.


"Baiklah Tuan. Percuma saja memang, titip salah pada Alice, aku kabari setelah perjodohan terjadi, tolong doakan aku mendapatkan pria seperti Tuan."


"Aku doakan semoga pria yang menjadi jodohmu tidak sepertiku, sekali lagi aku katakan, kau berhak bahagia bersama prianyang mencintaimu."


Arabella mengangguk, dia mengakhiri panggilan karena jika di teruskan maka hatinyalah yang menjadi korban.


Edgar naik ke lantai atas untuk menemui Alice, dia tahu tadi Alice sengaja menghindarinya, agar bisa berbicara dengan Arabella.


"Bagaimana? Kalian sudah meluruskan masalah?" tanya Alice saat keluar dari kamar Orlando, keduanya menuju ruang santai di lantai atas.


"Masalah apa? Dan apa yang ingin diluruskan?" mata Edgar sudah duduk duluan.


"Kak ... Bella akan menjadi milik orang lain kalau kakak--,"


"Alice, ini yang terakhir, Aku hanya menginginkanmu, kalau kau tidak ingin bersamaku, aku siap sendiri seumur hidupku."


Alice mendesah lelah, "Dasar keras kepala."

__ADS_1


__ADS_2