
Calvin tersadar dari tidurnya, dia merasa hanya berbaring saja tetapi ternyata rasa pusing dikepalanya membawanya tertidur dan itu sangat lama. Di melihat jam di atas nakas. Dan dia terkejut karena sudah sore.
Dia melangkah akan ke kamar mandi, mungkin dengan berendam air panas akan membuat tubuhnya segar. Namun keributan dibawah membuatnya mengurungkan niatnya, dengan langkah cepat dan amarah dia melangkah turun. Dia sudah yakin siapa pelakunya. Tetapi yang membuat Calvin penasaran dengan siapa dia membuat keributan.
Sampai diruang tengah Calvin tentu tidak percaya dengan pengelihatannya. Istrinya ada disini. Kalan Alice datang, kenapa dia tidak diberitahu?
"Sekarang keluarlah, kau membuatku sakit kepala". Usir Alice yang mulai jengah.
"Nyonya, tetapi biarkan saya berpamitan kepada Tuan dulu". Laura masih berdiri didepan Alice yang menatapnya tajam. Alice mengerutkan kening saat mendengar jawaban Laura.
Berpamitan langsung? Alasan yang tidak masuk akal.
"Aku tidak pernah tahu sebelumnya kalau ada wanita sepertimu". Alice memandang Laura rendah. Membuat Laura mengepalkan tangan. Dia tidak menyangka bahwa Alice akan kembali secepat ini, rencananya belum juga dijalankan.
"Nyonya Al-"
Alice berdecak kesal, karena terlalu lelah berdiri Alice memutuskan untuk duduk. Kondisinya yang tengah hamil membuatnya sangat mudah lelah.
"Katakan apa maumu?". Alice masih menatap lurus. Melihat pakaian yang Nania pakai membuatnya tidak percaya bahwa wanita didepannya ini memang bersungguh-sungguh dalam misinya.
"Ah, itu saya hanya ingin mengatakan bagaimana keadaan anda?".
"Kau tidak ada pertanyaan lain? Sudah berapa kali pertanyaan itu kau lontarkan sejak tadi?". Alice kembali berdiri tepat dihadapan Laura membuat Calvin was-was jangan sampai hal buruk terjadi pada buah hatinya nanti, mengingat bagaimana istrinya yang kadang suka kelepasan.
Laura mengembuskan nafas, dia juga sangat lelah karena harus berpura-pura baik, dan dia merasa sangat kesal karena kakaknya terus saja memintanya untuk tidak menyakiti Alice.
__ADS_1
"Nyonya, biarkan saya disini sampai Tuan Calvin menyuruh saya kembali dan-".
Kalau begitu kembalilah". Calvin datang sebelum Laura menyesaikan ucapannya, pria itu masih dengan pakaiannya tadi lagi, hanya kancing kejanya saja yang sedikit terbuka.
Melihat suaminya datang Alice tidak berekspresi apapun. Dia mundur dan memilih duduk bersidekap melihat apa yang akan mereka berdua lakukan.
"Tapi, Tuan bukankah kita akan menyelesaikan proyek yang-"
"Bukan kita, tapi itu tugasm-" Belum juga selesai Laura menyelesaikan ucapannya Calvin sudah memutus, lagi, sekarang kalimatnya yang di putus oleh Alice.
"Calv, kau masih memperkerjakan dia? Kenapa? Kau sengaja?" Alice menunjuk Laura dengan dagunya, dan menatap tajam ke arah suaminya, dia tidak tahu bahwa Calvin tidak langsung memecat wanita ini.
Calvin hanya diam, dia memang tidak langsung memecat Laura karena dia tidak mengira bahwa Laura akan nekad.
"Oh baiklah aku sangat lelah, selesaikan urusan kalian dengan cepat". Alice berdiri melewati Calvin dan Laura. Kemudian dia berhenti dan berbalik ke arah Laura. "Kau, keluar dari rumahku, sampai aku turun lagi, dan kau masih gentayangan di rumahku, ku pastikan kau akan menyesalinya".
Karena sudah merasa hilang muka Laura menyambar tasnya dan meninggalkan rumah itu dengan perasaan kesal "Alice, aku pastikan kau tidak akan bahagia mulai hari ini".
Laura melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh ke arah apartemennya, dia akan memikirkan kembali rencana selanjutnya.
Alice yang sudah sangat lelah, memutuskan kembali ke kamarnya di lantai bawah. Kamar yang dia gunakan saat dia dan Calvin masih dalam masalah.
Setelah mandi dia merebahkan tubuhnya, yang masih menggunakan bathrobe, "Oh, kenapa harus lapar sekarang, mataku tidak kuat". Gumamnya memejamkan mata dengan kedua tangan di atas perut.
Calvin yang sejak tadi mencari nya dikamar atas merasa lega saat melihat ternyata istrinya ada dikamar ini. Dia melangkah sangat pelan "Sayang, kau kah itu?" tanya Alice yang mengenal wangi farfum suaminya. Dia masih memejamkan matanya.
__ADS_1
Calvin yang mendengar itu tersenyum dan, duduk di pinggir kasur. Mengulurkan tangannya dan ikut mengelus perut buncit itu.
Alice membuka mata dan tersenyum lembut. Dia mencoba bangun dan duduk disamping suaminya, dia menyandarkan kepalanya di dada bidang itu, menghirup aromanya dalam-dalam. Melihat itu Calvin mengelus rambut panjang istrinya dan mengecupnya lama.
"Kamu lapar?" Tanyanya yang langsung di angguki Alice. Calvin tersenyum dan melerai pelukan mereka, membenahi anak rambut Alice dan menyelipkan ke telinga. "Ganti baju, aku akan menyuruh Hans untuk membawakan kita makanan".
"Tidak perlu, kita makan diruang makan saja". Alice berdiri dan berjalan ke arah lemari besar di kamar itu, mencari pakaian over size dan memakainya di hadapan suaminya.
"Sayang, kau sengaja?" Alice hanya terkekeh melihat bagaimana frustasinya Calvin.
"Ayolah, anakku sudah sangat lapar didalam". Alice berjalan mendahului Calvin yang hanya melongo karena ditinggal sendiri. Dengan langkah lebar pria berprawakan tinggi tegap itu menyamakan langkah dengan istrinya.
"Jangan lupa, kita membuatnya bersama, sayang" . Calvin mempertegas, bahwa dia juga ikut andil dalam pembuatan, mendengar itu Alice hanya memutar mata malas.
"Aku baru tahu, kau ternyata masih memperkejakan wanitamu itu". Alice melangkah hati-hati, dengan memegang perut bawahnya.
"Kau belum memaafkanku?". Calvin memegang pundak Alice agar berhenti dan memutarnya agar mereka saling berhadapan, mereka sudah ada di dekat tangga. "Malam itu hanya jebakan seseorang, dan-". Calvin menghembuskan nafas. Setiap kali dia mengingat itu dia tidak bisa membendung emosinya.
"Ayo makan, aku lapar". Alice manarik tangan suaminya agar mengikutinya dibelakang, tadi dia hanya kelepasan, jangan kan Calvin dia juga sangat sesak tiap kali ingatan itu muncul dikepalanya.
"Aku mau, pecat dia besok". Putusnya tampa bisa ditawar lagi. Setelah lama diam akhirnya Calvin menganggukkan kepala. Memang lebih baik memecat Laura. Dia akan menelpon Luce setelah ini, setidaknya pria yang baru saja menjadi Ayah itu harus tahu bahwa adiknya sudah tidak bisa dipekerjakan lagi.
Akhirnya suasana hangat dimeja makan kembali terulang, Alice merindukan ini, dan dia bahagaia karena masih bisa merasakan nya kembali.
Setelah menyelesaikan makannya, Alice menuju ruang tamu, dia akan bersantai sebentar sebelum kembali ke kamarnya. Tidak lama Calvin datang dengan segelas susu hamil dan buah-buahan yang sudah dipotong-potong".
__ADS_1
"Sayang, aku membawa susu". Alice berbinar, dia berdiri namun segera dicegah oleh Calvin. Pria itu benar-benar menjadi calon Ayah yang siaga. Baginya kehamilan Alice adalah anugrah terindah baginya, dia yakin mereka tidak akan bercerai. Calvin tersenyum lebar membuat Alice mengerutkan kening.
"Pantas saja kau digilai banyak wanita". Calvin mengehela nafas panjang, sindiran Alice kembali yang artinya setiap hari dia akan membahas wanita-wanita lain.