Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Fakta Lain


__ADS_3

"Kakak dari mana?" tanya Alice yang melihat edgar kembali saat malam hari.


"Menemui Calvin."


Alice mematung. Dia tidak pernah menyangka kalau Edgar akan menemui mantan suaminya


"Kak ... Kenapa tidak mengerti juga? Aku tidak ingin kakak menemuinya." Alice sudah duduk, di sofa. Arabella sudah tidur di kamar. Alice melanjutkan, "Bukan berarti aku tidak ingin kakak membalas sakit hatiku karena masih mengharapkannya, aku hanya tidak ingin masalah ini panjang."


"Semudah itu?"


Alice mengangguk. Aku sudah melihat kehancurannya, sudah cukup. Aku lelah."


"Lalu bagaimana dengan selingkuhannya?"


"Mala akan mendapatkan apa yang memang menjadi bagiannya. Kakak tenang saja, Laura akan mengurusnya." Alice tersenyum.


Edgar hanya menghela napas, "Apapun keputusanmu aku mendukungnya." Edgar berdiri dari duduknya, dia lelah, terlalu lama bersama Alice akan mengoyahkan dirinya kembali.


Alice hanya melihatnya berlalu. Bagaimanapun dia berharap Edgar bisa bersama Arabella. Wanita yang sudah memiliki satu orang anak itu beranjak dari duduknya dan melakukan panggilan rahasia.


Sementara itu, di tempat yang berbeda Mala tengah kesal karena pria yang dia harap dapat membantunya tiba-tiba saja menghilang. "Sialan dimana dia?" Mala terus saja mengumpat karena panggilannya sejak tadi tidak tidak tersambung.


Mala semakin pusing saat Melisa menangis, "Oh sayang. Tenanglah! Mom harus mencari dimana ayahmu, dia harus bertanggung jawab."


Namun semakin kencang tangis Melisa semakin kesal juga Mala karena panggilannya tidak juga tersambung.


"Bahkan mengurus anak saja kau tidak bisa tapi berani bermain dengan pria dewasa." ejek wanita yang baru saja datang.

__ADS_1


Mala menoleh dan mngerutkan keningnya, "Kau?"


"Masih ingat? Wah. Sudah lama sekali, ya?" Senyum Laura. Adik Antonio itu melangkah dan melihat bayi cantik tengah menangis, "Ternyata kau hamil? Anak siapa?"


"Tentu anak Calvin."


Mala hanya mendengar Laura tertawa, "Mau bohongi siapa?" sindirnya.


"Dia memang, anak --,"


"Kakakku." Alis Mala mengkerut, Laura merunduk dan mengangkat bayi cantik yang tangisnya mulai mereka, "Antoni adalah kakakku."


"Apa?"


"Kenapa terkejut. Kau itu. berlebihan sekali."


"Omong kosong apa yang kau katakan? Mana mungkin kalian --," Mala diam karena melihat kemiripan keduanya.


"Apa maksudmu? Dimana dia?"


"Jangan berteriak, kau membuatnya takut. Dasar wanita aneh."


Mala tidak peduli, dia terus membujuk Laura, "Dimana Antonio?" ucapanya menahan emosi.


"Dimana lagi kalau bukan memperjuangkan cintanya." ucapnya.


"Memperjuangkan cinta? cinta siapa? Kenapa bicara aneh sejak tadi?"

__ADS_1


Laura memutar bola malas. "Aku bilang jangan berteriak sialan! Kau menganggu tidur anak kakakku."


Melisa kembali menangis, Laura kembali menenangkannya sampai anak itu kembali tertidur, "Aku akan membawanya bersamku."


"Jangan coba-coba! Dia anakku." Mala mencoba mendekat meraih Melisa.


"Kau sadar? Untuk mendiamkannya saja kau tidak bisa, Mala! Aku akan tetap membawanya." Mala takut. Bagaimana jika benar anaknya dibawa, dia masih tidak mengerti apapun kenapa Antonio bisa bersaudara dengan perempuan gila seperti Laura.


"Aku mohon, jangan bawa anakku." Mala merendahkan suara.


"Kenapa? Karena kau tidak bisa menjadikannya alat untuk menarik Calvin?" ejeknya.


"Tidak. Aku mohon jangan bawa Melisa." kata Mala sudab berkaca-kaca.


Laura menghela napas panjang, "Dengarkan aku. Kau tidak bisa merawatnya. Anakmu butuh dana untuk hidup. Aku akan memberikannya, sementara kau? Harus dapatkan uang dari mana? Alice menghancurkan usaha butikmu bahkan saat ini usaha makananmu juga --,"


"Apa kau bilang?" Mala jelas panik.


"Usaha makananmu di Jogya mengalami masalah, kau tahu siapa pelakunya? Alice."


Mala mengambil ponselnya, usaha itu milik keluarganya, bagaimana bisa wanita jahat itu tahu, "Dia tidak akan membiarkanmu bahagia setelah kau rusak rumah tangganya."


"Kau diamlah! Aku akan membalas wanita jahat itu." geram Mala.


"Lalu, kau akan hadapi Calvin dan Antonio, kau tidak sadar keduanya sama-sama mencintai Alice?" mata Mala melotot.


"Aku beritahu, dibanding Calvin kakakku lebih berbahaya, dia membunuh orang tua Alice karena dia ditolak, lalu kau? Kau akan mencoba menyentuh Alice katamu?" Laura tertawa, "Dia akan langsung membunuhmu."

__ADS_1


Mala mematung, dia masih mencerna semuanya. "Antonio tidak akan bertanggung jawab, dia melakukannya juga bukan karena cinta."


Bagai di sambar petir, Mala luruh begitu saja di lantai, "Kalian semua penjahat!"


__ADS_2