Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Kebenaran yang lain


__ADS_3

“Alice..” Alice yang namanya disebut langsung berdiri diikuti oleh Samuel yang berada disebelahnya .


“Bagaimana kabarmu?” mendekat dan memeluk keponakannya. Lalu mempersilahkan Alice dan Samuel duduk. Namun Alice tidak juga bergeming membuat Antonio mengeryitkan dahi.


“Paman, apakah paman tahu tentang kematian Ayah dan Ibuku?” Antonio yang mendapatkan pertanyaan itu sontak membulatkan mata namun dia berusaha tenang dan tidak terpengaruh.


“Kenapa paman diam? Aku hanya ingin tahu apa ada hubungan paman dengan kematian orang tuaku?” Tanya nya semakin dekat dengan Antonio, Samuel sudah merasa was-was melihat kemarahan sepupunya.


“Apa maksudmu, paman tidak mengerti!”


“Paman jangan berbohong, pamankan yang membunuh orang tuaku? Kenapa?” teriak Alice histeris sedetik kemudian dia terjatuh namun dengan cepat Antonio menangkap tubuhnya.


Samuel yang melihat sepupunya terjatuh pingsan juga sangat panik, dia dengan cepat membantu Antonio mengangkat tubuh Alice dan menaikkannya di atas sofa.


Antonio sangat panik, bagaimanapun dia menyukai Alice tentu melihatnya seperti ini membuatnya sangat cemas.


“Laura..Laura, kemarilah” panggilnya dia membutuhkan sesuatu, dia tidak ingin pelayan yang merawat Alice nya, Laura yang mendengar suara kakaknya berlari tergopoh menuruni tangga, jantungnya berdetak, tidak tahu yang terjadi namun jantungnya malah berpacu kencang.


“Kak..”


“Ambilkan sesuatu Alice tidak sadarkan diri”


Laura masih diam ditempatnya kenapa Alice tidak sadarkan diri, lalu kenapa dia yang harus susah payah bukankah mereka mempunyai pelayan?


“Laura kau mendengarku?” Laura terkesiap, dia berlari kearah ruang tengah mengambil kotak obat, dia membutuhkan minyak angin, tetapi kakaknya malah berteriak seperti itu. Laura datang dengan membawa apa yang kakaknya minta, dia maupun Samuel melihat bagaimana paniknya Antonio.


“Panggilkan dokter”


Tidak menunggu perintah dua kali dia menelpon dokter agar cepat datang, dengan menunggu beberapa menit dokter datang, dia memeriksa Alice dan kandungannya, jangan sampai terjadi sesuatu yang membahayakan.


“Aku tidak akan memaafkanmu kalau terjadi apa-apa padanya” kecam Samuel menatap sengit Antonio yang duduk dibawah Alice.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya Antonio pada sang dokter


“Nyonya hanya kelelahan, sebaiknya setelah ini jangan membuatnya berfikir terlalu keras”


Setelah perginya Dokter kini tinggallah Laura, Antonio dan Samuel. Samuel masih duduk disamping sepupunya yang belum juga sadarkan diri. Sedangkan, kedua saudara itu saling melirik lalu terlihat Antonio mendesah gusar.

__ADS_1


“Apa yang kau katakana padanya?” tanyanya pada Samuel. Di yakin Samuel mngatakan sesuatu sampai Alice datang menemuinya.


“Seharusnya aku yang bertanya apa kau memang ada hubungannya dengan kematian paman dan bibikku?”


Terihat Antonio sudah mulai gugup, bahkan Laura juga sudah meremas jari-nya


“Kenapa diam? Apakah memang benar?” Samuel berdiri dan menarik kerah baju Antonio, terjadi ketegangan disana, karena Samuel sudah sangat emosi, bahkan beberapa anak buah Antonio jyga masuk, Laura menutup mulut karena tidak percaya melihat kakaknya sudah jatuh terdorong Samuel.


“Katakan, kalau memang paman memang tidak terlibat” Alice yang sudah sadar sejak beberapa menit yang lalu berdiri dan menghampiri paman tirinya.


Bukan hanya Samuel tetapi juga semua orang yang berada disana menunggu jawaban.


Hingga bebeapa menit kemudian Alice terduduk dan menutup wajahnya dia terisak, bahkan semua orang yang berada disana juga merasakan kesedihannya.


Samuel mendekati adik sepupumya dan membantunya berdiri lalu membawanya dalam pelukannya. Setelah dirasa sudah tenang Samuel membawa adiknya kembali, akan sangat berbahaya jika terlalu lama disini namun sebelum kedua sepupu itu keluar ucapan Antonio membuat mereka mengerutkan kening.


“Maafkan aku, tapi yang harus kamu ketahui ada seseorang dibalik semua ini, dia yang harus bertanggung jawab, dan aku hanya ingin kau menjauhinya”


Sepanjang jalan Alice masih terus menangis air matanya tidak bisa berhenti mengalir, bisa saja dia , menyerahkannya pada pihak berwajib namun dia tidak memiliki bukti apapun selain laporan Samuel dan anak buah Samuel.


Akan sangat sulit menangkap paman Antonio dan apa katanya, ada seseorang dibalik semua ini? Bukankah dia orangnya ataukah ada orang lain yang membuat Antonio melakukannya? Siapa?


Alice mngerti dan dia juga membutuhkan waktu untuk sendiri, namun saat memasuki ruang makan dia dikejutkan oleh seseorang yang tengah sibuk dengan spatula ditangannya.


Rasa sedih yang tadinya menggerogoti hatinya kini berangsur mereda, dengan langkah pelan dia membwa kaki jenjangnya kedepan mememeluk erat pinngang berotot itu serta menyandarkan kepalanya pada punggung lebarnya. Tenang. Sangat tenang rasanya.


Alice memejam maya, dia merasakan didepan perut sana tangannya juga digenggam dengan eratnya.


“Kamu lapar?” yang dijawab hanya dengan anaggukan oleh Alice


Pria itu melepas pegangan tangan Alice diperutnya lalu membalik diri dan menatap mata itu yang sembab, keningnya mengkerut menatap wajah sendu di depannya.


“Ada apa?”


Alice menggeleng, dia kembali memeluk erat dan menenggelamkan wajah dalam dada bidang yang hangat itu.


“Apakah Samuel yang membuatmu menangis, biar ku habisi dia” Alice terkekeh, dalam kesedihannya.

__ADS_1


“Sayang ada apa? Tadi kau menangis sampai matamu bengkak dan sekarang tertawa?”


“Jangan menganggu kak Samuel hidupnya sudah sangat sulit kalau kau habisi dia maka dia tidak akan bisa merasakan kebahagian didunia”


Alice melerai peluknnya dan duduk dikursi, dia lelah, dia mengantuk dan juga lapar, dikehamilannya yang sudah lima bulan lebi, sering membuatnya kelelahan dan lapar.


Calvin hanya melihat istrinya, seandainya dini hari tadi dia tidak bergegas menyusul sudah pasti dia tidak aka nada disini disaat istrinya mmebutuhkan sandaran. Tapi ada apa sebenarnya?


Pria itu tidak bertanaya apa-apa lagi, dia hanya menyiapkan makanan untuk dam susu untuk Alice kemudoan membawanya naik kekamar, dia masih tidak bertanya namun dia sangat penasaran.


Dia menyesal karena terlambat ikut campur dalam kehidupan istrinya, sekarang dia sudah yakin, dia akan ikut campur atas semuanya, dia sudah memikirkan nya tidak mengapa kehilangan semua. Dan dia yakin Daddy tidak akan masalah.


“Kau datang terlalu cepat..sayang”


Calvin berdecak, mana bisa dikatakan terlalu cepat bahkan semalam tidak melihat istrinya saja membuatnya sakit kepala.


“Masih tidak ingin cerita”


Namun sampai keesokan harinya Akice masih saja diam membisu dia tidak akan menjawab jika Calvin membahas kenapa dia menangis, jawabannya karenaAlice tidak ingin suaminya tahu bahwa pamannya sendiri yang menghabisi orang tuanya.


Tidak.


Karena itu akan merusak nama keluarga.


Bukan karena dia tidak percaya pada suaminya, atau bahkan tidak menganggap suaminya, sehingga dia menyimpan rahasia itu sendiri.


Tidak, jawabannya bukan sperti itu.


Alice dan Calvin turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama karena pelayan sudah mengatakan bahwa Samuel sudah menunggu mereka dibawah.


“Hai, kapan kau datang?” Tanya Samuel melihat Calvin yang berjalan disamping istrinya.


“Kenapa kakak tidak datang kemarin, bukankah kak Samuel sudah berjanji?” Alice mengalihkan pembicaran


“Ah itu, aku lupa dan semalam baru ingat”


jawabnya canggung dia tidak akan bilang jika kemarin dia menghabiskan waktu telponan dengan Arabella.

__ADS_1


“Kau belum menjawabku, kapan kau datang..?’ Samuel kembali melihat kearah Calvin yang sibuk dengan ponselnya.


__ADS_2