Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Aku Datang Bukan Membahas Kita


__ADS_3

Malam hari seperti yang Orlando inginkan. Dia ingin membuka hadiah yang dibawanya bersama sang kakek. Anak itu sangat bersemangat, bahkan dialah orang yang paling bersemangat untuk menunjukkan hadiah-hadiah yang di bawanya.


"Kakek suka, 'kan semua hadiahnya?" tanya Orlando girang.


"Kakek suka, sangat suka, terima kasih, ya." Orlando mengangguk kemudian dia menoleh ke arah sang ayah dan ibunya.


"Papa, besok kita ke rumah Daddy, Orlando.sudah siapkam hadiahnya." Alice mengerutkan kening, karena tidak tahu kapan anaknya menyiapkan hadiah. Dia menoleh ke arah Edgar yang berada di sebelahnya, menempel seperti prangko.


"Hem, besok kita temui Daddy bersama Mommy."


"Eeh, aku akan bersama ayah dirumah, kalian saja yang pergi." Alice menolak.


Edgar menggeleng, "Kita akan menemuinya bersama, dia harus tahu kalau kau milikku." bisiknya.


"Mommy, kenapa Mommy selalu menolak? Mommy tidak suka dengan Daddy? Dia jahat?"


Edgar menengahi, dia berjalan ke arah Orlando dan ayahnya, meninggalkan Alice yang masih duduk di sofa dengan bersila menonton sejak tadi.


"Daddy tidak jahat, Mommy juga bukan tidak suka dengan Daddy, hanya saja karena Papa terlalu cemburu, jadi Mommy memilih tidak bertemu pria lain." terang Edgar.


"Oh, baiklah! Mommy tenang saja, Papa tidak akan masalah, kita pergi bersama jadi Papa tidak akan cemburu."


Alice mengedesah pelan dan mengangguk. Semuanya terlihat lega, Tuan Thomas bahagia karena anak-anaknya bisa berkumpul, dan tentu saja Edgar harus membawa Alice bertemu dengan Calvin kesalah pahaman di kemudian hari harus di cegah.


Malam berganti dengan sangat cepat, seperti memang sangat ingin pertemuan itu terjadi, dan saat ini pagi ini, Orlando adalah orang yang lagi dan lagi paling bersemangat, anak itu sudah berada di dalam mobil dengan terus memeluk hadiah untuk Calvin.


"Mommy, kenapa lama sekali?" Orlando protes.


"Sayang, Mommy harus bersiap." Edgar yang menjawab. Alice hanya tersenyum dan meminta maaf karena kegiatan rahasia bersama Edgar.


"Ayo kita berangkat." putus Alice karena tatapan Edgar terus tertuju padanya.

__ADS_1


Mereka keluar mansion sekitar jam 9 pagi, masih sangat pagi karena Orlando sudah sangat merindukan Daddy-nya.


Hanya membutuhkan dua jam di perjalanan, mereka sampai di kota tempat Calvin, jangan tanya kedua bisa tahu dari mana, Edgar sudah meminta seseorang untuk mengawasi Calvin selama ini, jadi dia bisa dengan mudah mendapatkan alamat barunya.


"Papa tahu dimana Daddy?"


"Hem, tahu dong, Papa kan hebat." bangga Edgar. Alice yang di sebelah Edgar hanya menghela napas pelan karena Edgar masih sempat menaik turunkan alis menggodanya.


Mobil mereka memasuki lorong yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja, Orlando membuka kaca jendela mobil setelah ayahnya mengizinkan. Anak tampan itu memperhatikan pemandangan diluar yang memang masih sangat asri, Calvin memilih tetap di kota tersebut tanpa berniat akan kembali.


Terserah Calvin saja.


Mereka akhirnya sampai di sebuah pekarangan yang cukup luas, dibelakangnya jelas terlihat gedung-gedung berdiri masih dalam pembangunan.


Edgar keluar lebih dulu, memutari mobil dengan sedikit berlari dan membukakan pintu untuk kedua orang tercintanya.


Alice keluar, memperhatikan dengan jelas apa yang berada di hadapannya, tatapannya tertuju pada sehuah rumah beringkat dua bercat putih dengan interior klasik modern.


Alice bersyukur karena kehidupan mantan suaminya bisa lebih baik setelah pertemuan terakhir mereka.


"Daddy ...."


Mereka berpelukan erat, saling menyalurkan rasa rindu, Orlando melerai pelukan mereka dan memperhatikan Calvin yang sudah berurai air mata. Tangan kecil itu mengusap lembut dan mencium pipi ayahnya.


"Daddy, Orlando kembali."


Calvin mengangguk dan memeluk kembali putranya, dia melihat Alice dan Edgar menghampiri dengan tangan saling menganggem, hatinya nyeri tetapi pelukan Orlando dapat meredakan walau tidak banyak.


"Bagaimana kabarmu?" Alice yang lebih dulu menyapa, senyumnya terlihat sangat manis membuat hati Calvin semakin tersenyuh.


"Hem. Seperti yang kalian lihat." Calvin memandang putranya yang terus memeluk lehernya erat, karena Calvin tetap tidak kuat melihat bagaimana Edgar menggenggam tangan Alice di hadapannya.

__ADS_1


Calvin melanjutkan, "Kita masuk ke dalam, kalian pasti lelah." tanpa menunggu jawaban Calvin berbalik dan membawa takunya masuk ke dalam.


Di ruang tamu, hanya ada foto Orlando disana, foto yang di ambilnya saat kedatangan anaknya terakhi kali, dengan itu Calvin tidaklah terlalu merasa kesepian. Dia memiliki foto Alice tetapi dia menyimpannya di dalam kamar dan hanya dia saja yang tahu itu.


"Daddy, Orlando membawa hadiah, Mommy di mana hadiah untuk Daddy?" Orlando menatap arahnya lalu menoleh pada aang ibu yang tertegun saat di tanya.


"Papa ambilkan." Edgar berdiri, Alice mencegah tetapi pria itu menggeleng dia akan mengamnilnya sendiri.


Papa, kita ambil bersama." Orlando turun dari pangkuan atah kandungnya dan beralih pada gandengan ayahnya yang lain.


Seperginya Edgar, Calvin menatap sayang Alice yang jjga menatapnya dengan tatapan biasa saja.


"Kau sudah sukses sekarang."


"Hem, Orlando harus memiliki sesuatu dari ayahnya." Calvin menghela napas panjang kemudian melanjutkan, "Selamat atas pernikahan kalian." tenggorokannya kering, hatinya sakit, sungguh kehancuran yang sangat mendalam.


"Hem. Menikahlah, kau akan temukan kabahagiaan juga."


Calvin tertawa sumbang dengan air mata menetes, "Tidak, bagaimana bisa aku bahagia saat kebahagiaanku memilih bersama orang lain?"


"Kau salah jika menganggap aku kebahagiaanmu, 3 tahun lebih dan kau masih belum paham, aku bukan kebahagiaan itu."


Calvin berdiri, dia membelakangi Alice dan mengusap air matanya, "Selamanya, aku akan tetap menganggapmu kebahagiaanku, aku memang salah, berulang kali mengkhianati, tetapi--,"


"Calvin, aku datang bukan untuk membahas kita. Orlando merindukanmu, haruskah dia bertanya kenapa Daddy-nya menangis?"


Calvin berbalik dan akan mendekat tetapi pintu terbuka dan menampilkan Orlando yang masuk dengan raut wajah bingung, "Daddy kenapa?"


Edgar membiarkan Orlando bersama ayahnya, sementara dia duduk di sebelah Alice, "Mau jalan-jalan?" tawarnya.


Akice mengangguk dan menatap Orlando sayang, "Sayang, Mommy akan pergi sebentar, nanti Mommy dan Papa kembali, hem?"

__ADS_1


Orlando mengangguk, lagipula mereka tidak akan pergi jauh, hanya disekitar pekarangan saja.


"Siap Mommy."


__ADS_2