Rindu Yang Palsu

Rindu Yang Palsu
Aku Berat Tidak?


__ADS_3

"Papa, kita kembali?" Orlando berlari ke arah pria tampan yang baru saja masuk ke dalam kamarnya bersama wanita cantik yang tidak lain adalah ibunya.


"Hem. Kakek merindukan kita, jadi besok kita akan terbang dan kembali, Orlando senang?" bocah tampan itu tersenyum lebar.


"Mommy, nanti kita cari Daddy, oke?" Alice menoleh pada Edgar meminta bantuan, satu anghukan dari Edgar membuatnya mendesah pelan.


"Nanti Orlando perginya dengan Papa, bagaimana?" anak tampan itu mengangguk, dia menatap ayahnya untuk meminta persetujuan.


"Papa, mau, ya?"


Egdar tersenyum hangat, "Siap bos." ketiganya tertawa bersama, kehidupan Alice beberapa tahun ini memang bisa dikatakan sangat bahagi, bahkan sangat bahagia. Kehadiran Edgar, pria yang memang dia cintai mengubah senua kesedihan yang pernah di rasanya selama ini.


Dan malam itu, untuk yang kesekian kalinya Orlando kembali tidur bersama kedua orang tuanya. Tengah malam Alice terbangun dan turun dari ranjang dengan sangat hati-hati. Pergerakannya yang sangat pelan juha bisa di rasakan oleh Edgar. Pria itu tidak bergerak tetapi tatapannya tetap lurus kemana Alice bergerak seolah tatapannya sebagai pelindung.


Setelah keluar dari kamar mandi Alice melihat Edgar sudah duduk di sofa menunggunya dengan kaki menyilang serta tangan yang menemupuk paha agar Alice duduk di pangkuannya.


"Kenapa bangun? Kau lapar?" tanya Edgar menyelipkan rambut kebelakang telinga Alice. Sementara Alice sejak tadi sudah mengalungkan tangan di leher kokoh Edgar.


"Sedikit. Tapi aku malas turun ke bawah."


"Aku juga lapar, sedikit." ucap Edgar berdecak kemudian melanjutkan, "Kita turun bersama, aku yang akan masak untukmu."

__ADS_1


Alice yang akan turun dari pangkuan Edgar di cegah, Edgar mengangkatnya dengan mudah dalam dendongannya, posisi Alice sangat mirip anak kecil kangguru.


"Aku berat tidak?" tanyanya saat mereka menuruni tangga.


"Tidak sama sekali. Lagipula, aku sudah terbiasa mengangkatmu." Edgar mebgaduh saat Alice mencubit leher bagian belakangnya.


"Jangan mengungkitnya, dinding-dinding akan mendengar dan meledek kita."


Edgar terkekeh, "Mereka tidak akan berani, baiklah tuan putriku, duduk dulu, aku akan menunjukkan bakat terpendamku selama ini."


Alice hanya berdehem, menumpangkan kepala di atas meja menyaksikan bagaimana Edgar dengan telaten menyiapkan makan malam sederhana untuk mereka.


"Tadaaa ... Bagaimana? Tampilannya sudah bagus, 'kan?" Edgar menyajikan satu piring tekur dadar diatas meja dengab hiasan saus sedikit. Alice hanya tertawa rendah karena Edgar sangat niat menyiapkannya. Lihatlah bahkan tekur dadar ini sudah memiliki mata dan bibir.


"Tenang saja sayang, kali ini aku membuatnya dengan hati-hati, kau lihat sendiri, 'kan tadi?" Alice mengangguk dan mulai mencoba, dan memang benar kali ini rasanya pas.


"Bagaimana?"


"Ini enak." Alice makan tekur dadar miliknya sementara Edgar duduk di hadapannya menyaksikan Alice yang dengan semangat memakan makanannya.


"Kakak kenapa melihatku begitu?" Alice melihat telur dadar satunya masih belum tersentuh. Alice melanjutkan, "Bukannya kakak lapar?"

__ADS_1


Edgar menggeleng, dia meminta Akice menghabiskan telur dadar miliknya yang tidak di tolak sama sekali oleh wanita cantik tersebut, Edgar menunggu Alice sampai benar-benar menghabiskan makanannya setelah itu memberinya minum dan mereka mengobrol sebentar sebelum naik kembali ke lantai atas. Kamar mereka.


Seperti yang Edgar katakan, mereka sudah bersiap kembali, hanya memakan beberapa jam dalam pesawat setelah itu sampai.


Selama di perjalanan, Orlando terus saja mengingatkan orang tuanya untuk tidak lupa menemui Daddy nya. Edgar mengiyakan tetapi Alice masih saja diam.


Tugas membawa Orlando adalah bagian Edgar, selama beberapa tahun dia tidak tahu apa saja yang terjadi di kota kelahirannya, sengaja karena dia ingin benar-benar bebas dari semuanya.


"Kita sudah sampai. Ayo turun, kita temui kakek Thomas." Orlando mengangguk dan turun lebih dulu, bocah gampan itu berlari ke arah pria paruh baya yang masih kuat berdiri tetapi wajahnya jelas terlihat sangat lelah.


"Kakek, masih ingat denganku, 'kan?" Orlando melerai pelukannya, Edgar membantu anaknya dengan menggendong karena ayahnya tidak mungkin berjongkok.


"Kakek ingat, kau adalah putra tertampan Edgar dan Alice, ya, 'kan?"


"Waaaah ... Kakek masih ingat. Benar, aku anak Papa dan Mommy." Orlando tertawa senang.


"Kakek, aku membawa banyak hadiah untukmu, Ayo kita buka bersama." Orlando mengajak kakeknya untuk membuka semua hadiah yang dibawa, tetapi Edgar mencegah dan meminta Orlando untuk membersihkan diri kemudian makan.


Anak itu anak yang pintar, dia tidak pernah sekalipun membantah perintah ayahnya.


"Baik, Papa."

__ADS_1


"Dia semakin pintar." ucap Thomas.


"Hem. Dia anakku, harus pintar."


__ADS_2